Halo, Takaiters!

Selain rencana pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur, salah satu kasus hukum di Mojokerto, Jawa Timur juga tengah mencuri perhatian. Pasalnya, kasus yang menyeret seorang pria pelaku kejahatan seksual terhadap 9 anak, kini menjadi terpidana pertama yang dikenai hukuman kebiri kimia.

Sebelum dikenai sanksi tersebut, terpidana yang diketahui melakukan aksinya sejak tahun 2015 itu awalnya hanya didakwa oleh hukuman 12 tahun kurungan penjara serta denda sebesar seratus juta rupiah (hukuman subsider 6 bulan kurungan).

Nah, pertanyaannya adalah: seperti apakah hukuman kebiri ini sebenarnya?

1. Perlindungan Anak

hukum kebiri untuk melindungi anak-anak darikejahatan seksual?
Foto: Myriams-Fotos/Pixabay

Seperti halnya hukuman lainnya, hukuman kebiri tidak sontak jatuh begitu saja. Hukumnya diatur setelah Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016. Peraturan ini merupakan perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Aturan hukum ini datang sebagai tanggapan dari maraknya kasus kejahatan seksual pada anak-anak. Secara khusus, terpidana hukuman kebiri di Mojokerto sendiri didasari oleh putusan Pengadilan Tinggi Surabaya pada 18 Juli 2019.

2. Tidak Sendirian

landasan hukum pengebirian pelaku kejahatan seksual
Foto: Succo – from Pixabay

Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang menerapkan hukuman kebiri. Setidaknya beberapa negara seperti Rusia, Jerman, Israel, Argentina, Australia, Selandia Baru, dan Korea Selatan, masih menggunakan ‘gaya’ hukuman tersebut. Alasannya pun tidak jauh-jauh dari: Untuk memberikan efek jera bagi pelaku kejahatan seksual, termasuk Pedofilia.

Perlu Takaiters tahu, nih, pengebirian terbagi dalam dua macam, yakni kebiri fisik dan kebiri kimiawi. Perbedaannya terletak pada teknik kebirinya. Kebiri fisik dilakukan dengan cara mengamputasi organ seksual eksternal. 

Tapi, kebiri fisik sudah tidak lagi diberlakukan dan digantikan dengan kebiri kimia di era modern sekarang. Sementara kebiri kimiawi menggunakan zat kimia tertentu ke dalam tubuh seseorang agar hormon testosteron berkurang.

3. Mengurangi Hormon

Apa tujuan hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual?
Foto: Adrien Olichon – from Pexels

Dari kedua macamnya itu, sebenarnya punya tujuan yang sama-sama untuk menutup libido (hasrat seksual) seseorang, baik laki-laki maupun perempuan. Pada jenis kebiri kimiawi, proses pengebirian dilakukan melalui pemberian zat yang disebut hormon anti-androgen.

Zat anti-androgen ini bakal memicu hormon androgen (hormon laki-laki) yang berkaitan dengan organ reproduksi pria. Testosteron yang merupakan hormon vital yang salah satunya mempengaruhi fungsi seksual, punya peran paling dominan dalam androgen.

Kebiri kimiawi berperan untuk mengurangi atau menutup hormon tersebut dengan penggunaan anti-androgen. Zat inilah yang nantinya memicu reaksi berantai dari otak ke organ vital manusia.

4. Efek Samping

Efek samping hukuman kebiri kimiawi
Foto: Jarmoluk/Pixabay

Reaksi yang muncul berupa terhentinya kelenjar pada otak supaya tidak lagi memproduksi hormon testosteron. Nah, pria yang kekurangan hormon inilah yang menjadikan fungsi seksualnya terhambat, bahkan terhenti dan diklaim dapat menekan hasrat seksual.

Namun, kebiri kimia memunculkan pro-kontra, sama halnya dengan kebiri fisik. Dilihat lewat bingkai tujuannya, hukuman kebiri akan melenyapkan kemampuan seseorang untuk berkembang biak atau bereproduksi.

Kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) melihatnya sebagai sebuah kelemahan dari hukuman ini apabila diterapkan. Selain itu, efek samping secara medis juga memiliki konsekuensi baik fisik maupun psikologis yang serius.

Ketika hormon seksual tertutup, fungsi pada hormon sekunder laki-laki bakalan ikut terpengaruh. Pengaruhnya berpotensi menyebabkan hormon sekunder tersebut hilang, hingga dapat memunculkan pembentukan fisik layaknya perempuan, seperti membesarnya (seolah memiliki) payudara.

Tak cuma itu, efek samping secara fisik lainnya yang bakal muncul adalah kerontokan rambut, bertambahnya berat badan signifikan, pengeroposan tulang (osteoporosis), sampai meningkatkan resiko diabetes dan pembekuan darah. Secara mental, risiko yang muncul adalah kecenderungan depresi dan kelelahan lebih rentan menjangkiti ‘korban’ hukum kebiri kimiawi.

5. Cuma Sementara

Seberapa efektifnya hukum kebiri kimiawi untuk pelaku kejahatan seksual?
Foto: Pixabay

Nah, yang seringkali disalahartikan adalah kalau efek utama dari pengebirian itu sifatnya permanen. Padahal, nih, Takaiters, efeknya sementara. Maksudnya, efeknya itu bisa berhenti selama pemberian zat anti-androgen tidak lagi dilakukan. Ini berlaku pada kebiri kimiawi aja, lo, ya!

Ketika proses pengebirian dihentikan itu, orang yang divonis hukuman kebiri otomatis akan mendapatkan lagi tuh ‘hak’ seksualnya, baik berupa kemampuan fungsi maupun hasrat yang lebih ideal dibanding ketika masih dikebiri. Kalau mau yang sifatnya permanen, Takaiters tahu kan arahnya ke jenis pengebirian yang mana? Hmm …

Cuma yang perlu dicermati adalah, bagaimana sebenarnya hukum ini bergerak; apakah semata-mata hukum demi menimbulkan efek jera, lalu melepaskan begitu saja konsekuensi kesehatan (atau mungkin termasuk juga persoalan HAM) di dalamnya? 

So, pendapat Takaiters bagaimana, nih? Apakah hukuman kebiri ini efektif menimbulkan efek jera seperti apa yang menjadi tujuan penerapannya?