Halo, Takaiters!

Mudahnya penyebaran informasi melalui media sosial membuat masyarakat dengan mudah membagikan dan menantang orang lain untuk melakukan Challenge yang menurut mereka lucu. Padahal kenyataannya, kebanyakan dari challenge tersebut berbahaya dan berakhir menjadi sesuatu yang tidak lucu sama sekali.

Skullbreaker Challenge

Foto: theweek.in

Viralnya challenge terbaru di media sosial, skullbreaker challenge harus betul-betul diwaspadai. Aksi ini sangatlah berbahaya karena pisisi jatuh kebelakang, dapat menimbulkan benturan pada kepala dan berakibat kerusakan pada otak (gagar otak).

Lebih fatal lagi bahkan sampai meninggal dunia, sedangkan posisi jatuh dengan benturan pada tulang ekor atau tulang belakang dapat menimbulkan kelumpuhan atau kebutaan.

Aksi tersebut dilakukan oleh tiga orang dengan cara berjajar. Ketika orang yang ditengah melompat, kedua temannya akan menjegal kaki tersebut sehingga terjatuh ke belakang.

Banyak yang Menjadi Korban

Foto: goodyfeed.com

Di Amerika Serikat, seorang pelajar SMA di Miami, Florida, dilaporkan mengalami luka setelah melakukan challenge tersebut. Ia melakukannya karena dipaksa dengan perisakan oleh teman temannya.

‘’Saat aku melompat, aku ingat teman temanku menendang kakiku, rasanya sungguh tak mengira’, ucap anak tersebut pada Selasa (11/2), dikutip NBC Miami.

Akibat kejadian itu sang anak dilarikan ke rumah sakit. ‘’Susah digambarkan rasa sakitnya, tidak hanya fisik, tetapi juga mental’’, jelasnya.

Dampak yang Diakibatkan Tidak Main-main

Foto: c103.ie

Seorang gadis di Brazil diberitakan meninggal setelah kepalanya terbentur, akibat melakukan skullbreaking challenge dengan teman temannya.

Meskipun skullbreaking challenge ini belum masuk ke Indonesia, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), menghimbau anak anak dan pelajar agar tidak mengikuti challenge tersebut, karena jelas-jelas membahayakan diri sendiri.

Sebagai orang tua, juga harus selalu waspada dan memberitahukan pada anak-anak supaya berhati-hati. Karena banyak yang tidak tahu resiko dari permainan tersebut. Tidak lepas pula, kita harus membimbing agar anak dapat bertanggung jawab dengan apa yang sedang tren di media sosial, tidak hanya asal mengikuti saja.

Sebagai bagian dari pengayom rakyat, plolisi juga sudah menghimbau agar masyarakat pada umumnya dan anak-anak pada khususnya, tidak mengikuti aksi tersebut karena sangat berbahaya bagi keselamatan pelakunya.

Dituturkan pula, jika terdapat korban jiwa dalam aksi tersebut dapat dimasukkan sebagai tindak pidana dengan dugaan Pasal 359 KUHP meninggalnya seseorang’ atau 360 KUH untuk yang akibatkan luka berat.

Jadi, Takaiters, mari kita jaga diri kita dan orang di sekitar kita agar tidak hanya sembarang ikut-ikutan tren di medsos, tetapi juga memikirkan akibat yang akan ditimbulkan.