Hai, Takaiters!

Mungkin kamu pernah mendengar atau membaca kutipan berikut ini, “There is a voice that doesn’t use words. Listen” yang berarti “Ada suara yang tidak menggunakan kata-kata. Dengarkanlah”. Guys, kutipan tersebut hanyalah satu dari ribuan kutipan terkenal dari syair-syair indah seorang penyair sufi terkenal  yang hidup di abad ke-13 silam. Dialah Maulana Jalaluddin Rumi, yang tidak hanya terkenal dalam dunia kepenyairan, namun namanya pun tak pernah bisa dilepaskan dari sebuah tarian spiritual mistis yang mendunia. Yes,Guys, sebuah tarian berputar yang bernama Mevlevi Sema’ Ceremony atau the whirling Dervishes.

Lalu, siapa dan bagaimana, sih, Jalaluddin Rumi berserta tarian berputarnya ini? Simak, yuk, 9 fakta menarik berikut ini!

1. Nama yang Dilekatkan Padanya Diambil dari Nama Tempatnya Berasal

Takaiters, sebenarnya Jalaluddin Rumi dilahirkan di Balkh (sebuah wilayah antara Tajikistan atau Afghanistan sekarang), pada tanggal, 30 September 1207. Namun, pada masa penyerbuan Mongol ke wilayah asia Tengah pada tahun 1215 hingga 1220, keluarganya mengungsi ke arah barat hingga akhirnya menetap di kota Konya, Anatolia (Turki, Saat ini) pada tahun 1228. Pada saat itu, Konya berada dibawah kekuasaan Kesultanan Seljuk dari Rum (Roma). Di sana pula beliau wafat pada tanggal, 17 Desember 1273. Itu pulalah yang menjadi dasar dilekatkannya nama Rumi dibelakang namanya, Guys.

2. Dikenal Sebagai Cendekiawan serta Ulama Ternama Sebelum Menjadi Penyair

Memiliki latar belakang pendidikan di bidang teologi serta kesusastraan Arab, pada usia 25 tahun Rumi sudah menjadi pengajar agama Islam dan berkhutbah di masjid-masjid. Sangat banyak orang yang ingin berguru padanya, sehingga Rumi memiliki murid sebanyak 4000 orang. Disaat mengajar itulah dia bertemu dengan Shamsi Thabriz, seseorang dengan kedalaman ilmu yang luar biasa. Belakangan Shamsi Thabriz inilah yang kemudian mengubah cara pandang serta perjalanan hidup seorang Jalaluddin Rumi.

3. Pertemuan dengan Shamsi Tabriz Mengubahnya Menjadi Lebih Puitis

Shamsi Thabriz rupanya bukan seorang lelaki kebanyakan, dia seakan membawa udara baru bagi Jalaluddin Rumi. Mereka berdua melewati hari-hari dengan diskusi panjang yang tak berkesudahan. Bersamanyalah, Rumi menjadi lebih puitis, kata-katanya mengalir indah dan penuh makna. Selain itu, Rumi pun memiliki kehidupan spiritual yang lebih dari sebelumnya. Kehidupan Sufinya dimulai saat itu, pada usia 48 tahun.

4. Kepergian Shamsi Tabriz Melahirkan Tarian Sema’

Guys, penghormatan serta rasa cinta Rumi kepada shamsi Thabriz rupanya dinilai terlalu berlebihan. Hal tersebut menyebabkan Rumi seakan lupa pada tugasnya mengajar, sehingga mendapat banyak protes dari para muridnya. Khawatir menimbulkan fitnah, maka Shamsi Thabriz diam-diam meninggalkan Kota Konya. Rupanya kepergian Shamsi Thabriz ini menimbulkan kesedihan yang mendalam bagi Rumi, yang menyebabkannya lebih banyak mengurung diri di kamarnya. Semenjak itulah, dimulai syair-syair indahnya tercipta. Untuk mengenang sang guru diciptakanlah syair-syair yang khusus dibuat untuknya dengan judul Divan-i Syams-i Tabriz. Dibukukannya pula segala nasihat gurunya, dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat-i Shams Tabriz.

Rumi telah menjadi seorang sufi, hingga dia pada akhirnya mendapat sahabat sekaligus menjadi sumber inspirasi baru, Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Bersamanya pula Rumi mengembangkan tarekat Maulawiyah atau Jalaliyah. Diberi nama seperi ini  karena para pengikut tarekat ini melakukan ritual berupa tarian berputar-putar, karya Maulana Jalaluddin Rumi yang diiringi oleh gendang dan suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai puncak spiritual mereka.

5. Arti dari Berputar dalam Tarian Sema’

Takaiters, gerakan tarian berputar dalam tari sema’ ini ternyata bukan gerakan sembarangan, lo, Guys. Pada bagian utama, para penari yang berputar diibaratkan bulan, sedangkan pemimpin tarian diibaratkan matahari. Para penari berputar berlawanan dengan arah jarum jam sambil mengangkat tangan, bermakna merangkul kemanusiaan dengan cinta menuju Tuhannya. Gerakan itu juga melambangkan putaran alam semesta seperti putaran tawaf di Ka’bah.

6. Atribut yang Digunakan Beserta Makna di Baliknya

Guys, kostum para penari sema’ sangatlah unik. Mereka menggunakan topi memanjang ke atas yang bernama sikke, bentuknya yang tinggi tersebut melambangkan batu nisan para wali dan sufi yang ada di kawasan Timur Tengah. Jubah yang berwarna hitam melambangkan alam kubur serta baju putih melambangkan kain kafan. Dimaksudkan agar manusia senantiasa mengingat kematian. Dengan demikian, maka manusia lebih mudah dalam mengendalikan hawa nafsu serta ego duniawi. Alas kaki penari sufi disebut cuff, sepasang sepatu yang mirip dengan sepatu boots.

7. Mengapa Disebut sebagai Tarian Mistis Spiritual

Tidak seperti tarian biasa, yang umumnya dimaksudkan untuk menampilkan keindahan. Tarian ini, selain nampak indah ternyata  juga dianggap sebagai bagian dari meditasi diri para pengikut tarekat Maulawiyah ini. Ketika melakukan tarian ini, para penari diharapkan menggapai kesempurnaan imannya, menghapuskan nafsu, menanggalkan ego, dan hasrat pribadi dalam hidup. Ketika berputar-putar itulah kemudian, para penari akan mengalami ekstase dan dianggap melebur bersama sang Ilahi. Bahkan diawal penciptaannya Rumi melakukan gerakan berputar ini sampai tiga hari tiga malam, lo, Guys.

8. Menyebar ke Seluruh Dunia

Tak hanya di Turki, dimana tarian ini awalnya diperkenalkan. Sebagaimana nama Rumi begitu dikenal serta lewat syair-syairnya yang mendunia. Begitu pula dengan tariannya Saat ini The Whirling Dervishes cukup baik dikenal di Barat. Bahkan, beberapa komunitas disana telah membentuk semacam perkumpulan Sema’, yang mengadakan pertemuan rutinsetiap minggu untuk berdiskusi dan menarikan Whirling Dervishes. Komunitas ini terdapat di beberapa Negara Eropa seperti Swiss, Jerman, Belanda, dan AS.

Begitu menarik serta sakralnya tarian ini, sebuah tarian yang berasal dari abad lampau yang masih  dipertahankan hingga kini serta sangat mendunia. Maka Mevlevi Sema’ Ceremony juga telah dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia yang tak ternilai harganya. Seperti apa yang Goethe katakan, “Rumi is The greatest mystic poet of the world”. Ya, karya-karya Rumi begitu abadi.