Halo Takaiters!

Jumat 22 November 2019, Presiden RI Joko Widodo mengumumkan 13 nama yang bertugas sebagai staf khusus Sang Kepala Negara. Lima di antara mereka adalah perempuan.
Kecakapan dan sepak terjang tentu menjadi alasan Jokowi memilih mereka sebagai staf khusus. Pemikiran mereka menjadi inspirasi bagi perempuan Indonesia agar dapat berkontribusi lebih luas bagi bangsa.
Pemilihan lima perempuan tersebut di lingkungan kepemimpinan bukanlah keputusan pertama Jokowi setelah memenangkan Pemilihan Presiden 2019. Sejak dilantik pada Oktober lalu, ada sepuluh nama perempuan di sekitar Jokowi. Berikut ulasan mengenai senjata di balik paras ayu Sepuluh Srikandi di Lingkaran Presiden Jokowi.

Pendidikan Nomor Wahid

Siti Nurbaya Bakar, Foto: womanblitz.com

Takaiters, rata-rata menteri-menteri perempuan itu mengantongi ijazah master atau S-2. Misalnya saja Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Ia meraih gelar S-1 nya di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan S2 di bidang hukum uni eropa di Haagse Hogeschool Belanda.

Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani, mengenyam pendidikan ekonomi S1 di Universitas Indonesia. Ia lalu meraih gelar master dan doktor di bidang ekonomi di University Illinois at Urbana Champaign.

Begitu pula dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar yang gelar terakhirnya yaitu doktor dari Institut Pertanian Bogor yang bekerja sama dengan Siegen University, Jerman. Ada pula Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziah yang meraih gelar master ilmu pemerintahan di Universitas Satyagama. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang Darmawati pun mengantongi gelar pendidikan di Universitas Udayana.

Bukan hanya menteri, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Hary Tanoesoedibjo meraih gelar master dari Universitas New South Wales. Sementara para Srikandi yang bertugas sebagai staf khusus memiliki kualifikasi pendidikan sebagai berikut:

  1. Putri Indahsari Tanjung, usia 23 tahun, peraih gelar S1 dari Academy of Art di San Fransico, Amerika Serikat.
  2. Ayu Kartika Dewi, usia 36 tahun, meraih gelar MBA dari Duke University di Amerika Serikat.
  3. Angkie Yudistia, usia 32 tahun, meraih gelar master di bidang komunikasi pemasaran di London School of Public Relations Jakarta.
  4. Dini Shanti Purwono, usia 45 tahun, peraih gelar master hukum di Harvard Law Sc(Kader PSI, ahli hukum lulusan Harvard.

Tak Lupa pada Kodrat sebagai Ibu dan Perempuan

Sri Mulyani, Foto: inews.id

Meski memiliki latar belakang pendidikan tinggi dan rekam jejak karir yang mencengangkan, mereka tetaplah seorang perempuan, istri, dan ibu. Mereka tetap memerhatikan urusan keluarga dan selalu menyediakan waktu untuk anak-anak.

Bagi Sri Mulyani, tak mudah membagi peran antara perempuan karier dengan seorang ibu. Namun, ia bisa mengatasi itu dengan cara berkomunikasi bersama suami dan anak-anaknya. Ia juga menempatkan posisi yang berbeda ketika berada di lingkungan kerja dan rumah.

“Kalau di rumah kamu adalah Sri Mulyani. Kebetulan kalau dulu saya senang masak kalau di AS, jadi mereka (anak-anak) begitu kalau sampai di rumah, she is my mom,” demikian disampaikan Sri Mulyani dalam wawancaranya bersama detik.com pada Jumat, 21 April 2017.

Kekurangan Adalah Kekuatan

Angkie Yudistia, Foto: teropongsenayan.com

Nama Angkie Yudistia menjadi sorotan setelah Presiden menunjuknya sebagai anggota staf khusus. Terlebih, Angkie tak pernah menutup diri dari kekurangannya sebagai difabel. Di usia 10 tahun, Angkie terkena demam tinggi sehingga ia kehilangan indera pendengarannya. Rasa depresi menghantui hingga ia dewasa. Ia berada di titik terendah karena keterbatasannya.

Seiring waktu berjalan, tuli, bagi Angkie, bukan lagi kekurangan. Ia menganggap kekurangan itu sebagai anugerah yang perlu disyukuri. Perlahan tetapi pasti, Angkie bangkit. Perempuan kelahiran Juni 1987 itu tak mau mengandalkan bahasa isyarat. Ia menunjukkan dirinya mampu bersosialisasi dengan orang yang memiliki indera normal. Yang penting, menurut Angkie, ia jujur dan menerima kondisi fisiknya.

“Jadi, ini sudah jalan hidup. Ada maksud Tuhan di balik ini semua. Dari kuliah komunikasi aku mulai bisa menerima dan menemukan jati diri aku sebenarnya,” kata Finalis Abang None Jakarta Barat 2008 itu seperti yang dikutip dari Kompas.com, Rabu 1 Maret 2017.

Tangguh di Tengah Dominasi Kaum Adam

Ida Fauziyah, Foto: indonesia.go.id

Politik identik dengan dunianya para laki-laki, tetapi itu tak menyurutkan semangat tiga srikandi untuk terjun ke dunia politik. Mereka yaitu Menteri Ida Fauziyah, Menteri Siti Nurbaya, dan Staf Khusus Dini Shanti.

Ida Fauziyah malang melintang sebagai politikus dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sejak 1999. Ia pernah duduk di kursi DPR RI, lalu mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur Jawa Tengah dalam Pemilihan Umum 2018. Sementara Siti Nurbaya merupakan kader Partai NasDem. Ia bergelut dengan dunia politik sejak 2013.

Begitu pula dengan Dini Shanti yang merupakan konsultan hukum di Indonesia. Pada Pemilihan Lehislatif 2019, Dini maju sebagai calon wakil rakyat untuk DPR RI dari Partai Solidaritas Indonesia melalui Daerah Pemilihan I Jawa Tengah. Ia menjadi kader PSI sejak Oktober 2017. Ia pun mendapat tugas menangani masalah hukum korporasi terkait investasi dan pasar modal. Ia juga mendapat kepercayaan sebagai Juru Bicara dalam Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin dalam Pemilihan Presiden 2019.

Berkarib dengan Tantangan

Retno Marsuadi, Foto: nasional.okezone.com

Salah satu prestasi Retno Marsudi sebagai Menteri Luar Negeri periode 2014-2019 adalah teguh mencalonkan Indonesia masuk dalam jajaran anggota tidak tetap Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan anggota Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB. Retno maju sebagai garda terdepan memperjuangkan hak Indonesia di mata internasional. Kurang lebih tiga tahun, mantan Duta Besar RI untuk Belanda itu menghubungi Negara-negara sahabat. Tujuannya yaitu menggalang dukungan untuk eksistensi Indonesia di PBB. Upaya itu pun berhasil. Indonesia duduk sebagai anggota tidak tetap DK PBB untuk 2019-2020. Lalu Indonesia kembali terpilih sebagai anggota Dewan HAM PBB periode 2020-2022.

Salah satu yang menjadi tantangan Retno ketika Indonesia terpilih sebagai anggota tidak tetap DK PBB adalah memperjuangkan perdamaian Palestina-Israel.

Ayu Kartika Dewi merupakan perumus Gerakan Sabang Merauke. Gerakan ini bertujuan menanamkan semangat toleransi di tengah perbedaan dan keberagaman Indonesia. Salah satu programnya yaitu pertukaran pelajar antardaerah. Para pelajar akan tinggal di keluarga yang berbeda dan berinteraksi dengan teman-teman beraneka ragam latar belakang. Sehingga para pelajar bisa menjadi duta perdamaian di daerah masing-masing.

Isu intoleransi dan konservatisme menjadi tantangan bagi Ayu. Namun, ia tetap tegar dan tegak untuk memperjuangkan toleransi di Indonesia. Ia pun gigih memanfaatkan pemikiran kritis anak-anak muda untuk menciptakan perdamaian di Indonesia.

Bukan Perempuan Manja

Angela Hary Tanoesodibjo, Foto: katadata.co.id

Takaiters, menjadi putri dari pengusaha ternama dan konglomerat tidak menjadikan Angela Hary Tanoesodibjo dan Putri Indahsari Tanjung sebagai perempuan manja. Begitu pula dengan I Gusti Ayu Bintang Darmawati yang notabene adalah istri dari mantan Menteri Koperasi Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga.

Angela Hary merupakan putri sulung dari pasangan konglomerat Hary Tanoesoedibjo dan Liliana Tanoesoedibjo. Hary dikenal sebagai pemilik media nasional ternama di Indonesia yaitu MNC Group. Hary juga menjabat sebagai Ketua Umum Perindo.

Terlahir dari keluarga kaya raya, Angela justru memanfaatkan kesempatan di depan mata. Ia menempuh pendidikan tinggi. Ia memulai kariernya sebagai staf keuangan. Ia  membawa Global TV dari posisi terbawah di antara televisi terrestrial menjadi posisi kelima. Ia juga turut andil mengembalikan RCTI ke peringkat teratas dengan memperkuat program pencarian bakat.

Bukan hanya Angela, Takaiters, satu nama perempuan muda lain di jajaran staf khusus Presiden adalah anak pengusaha ternama yaitu Putri Indahsari Tanjung. Putri adalah anak dari pasangan Chairul Tanjung dan Anita. Chairul Tanjung atau yang akrab disapa CT adalah pengusaha konglomerasi yang bernama Para Group. Beberapa perusahaan di bawah perusahaannya di antaranya Trans TV, Trans7, Bank Mega, dan Mega Indah Propertindo.

Putri Tanjung
Putri Tanjung, Foto: nasional.kompas.com

Bukan Putri namanya bila hanya bermanja-manja dengan kekayaan orang tuanya. Dalam sebuah artikel yang ditulis di wartaekonomi.id, Putri malah gerah disebut sebagai anak orang kaya.

“Bapak saya itu tidak punya kamar mandi di rumahnya, Bapak saya itu dari keluarga miskin, dia harus bekerja keras untuk menguliahkan dirinya sendiri dan adik-adiknya,” demikian artikel yang tayang pada 27 November 2019 tersebut.

Justru ia mencontoh kerja keras sang bapak. Di usia 15 tahun, ia mendirikan sebuah even organizer Creativepreneur. Ia menyebarkan virus entrepreneurship melalui gerakan tersebut. Ia merintis usaha tersebut dengan mengenalkan kemasan sebuah produk dari sudut pandang anak-anak muda.

Adapun I Gusti Ayu Bintang Darmawati menjadi istri seorang menteri yang gemar berolahraga tenis meja. Berbekal dari pengalamannya menjuarai Kejuaraan Tenis Meja pada Oktober 2010, Bintang merintis kejuaraan tenis meja antar PKK se-Kota Denpasar. Ia menjaring bibit-bibit handal cabang tenis meja. Lalu, ia mendapat kepercayaan menjadi Ketua Umum Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia Provinsi Bali.

Selama menjadi istri menteri sejak 2014, Bintang turut menyukseskan program-program kerja sang suami. Bintang mendorong perkumpulan perempuan mendirikan koperasi. Menurut perempuan kelahiran tahun 1968 itu, koperasi merupakan sarana pemberdayaan bagi kaum perempuan.

Jadi, Takaiters, sepuluh srikandi itu menjadi cerminan bahwa Indonesia memiliki perempuan-perempuan hebat. Bila Takaiters adalah seorang ibu, belumlah terlambat untuk mencetak anak-anak perempuannya untuk menjadi orang yang hebat demi kemajuan bangsa. Bekali mereka dengan pendidikan terbaik, pola asuh yang penuh kasih sayang, bimbingan yang berdasarkan kepedulian, ketegaran dan ketangguhan menghadapi masalah, serta cerdas memanfaatkan kesempatan.