Hai, Takaiters!

Stres dan penyakit kejiwaan yang tidak tertangani dengan baik membuat banyak orang melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, di antaranya menyakiti diri sendiri. Gangguan perilaku yang terkait dengan sejumlah penyakit kejiwaan lainnya juga bermunculan di media, seolah-olah menjadi sesuatu yang biasa. Sebagai generasi yang menghadapi banyak tantangan dalam kehidupan, kamu harus memahami fenomena ini, Guys.

Menyakiti Diri Sendiri

Foto: keyministy.org

Self-injury adalah perilaku menyakiti dan melukai diri sendiri yang dilakukan secara sengaja. Self-injury dapat berupa tindakan melukai tubuh dengan benda tajam atau benda tumpul, seperti menyayat atau membakar kulit, menusuk kulit, mengukir tulisan atau simbol pada kulit, mematahkan tulang, menggigit diri sendiri, memukul tembok, membenturkan kepala, mengorek koreng atau mengganggu proses penyembuhan luka hingga mencabuti rambut. Penderita self-injury bahkan sengaja menelan sesuatu yang berbahaya, seperti cairan deterjen atau obat nyamuk atau menyuntikkan racun ke dalam tubuh. Ngeri ‘kan, Guys?

Dari Stres Hingga Benci Diri Sendiri

Foto: pexels.com

Self-injury seringkali dilakukan untuk mengalihkan perhatian dari pikiran yang mengganggu, menunjukkan rasa sakit atau perasaan-perasaan kuat lainnya, menenangkan diri sendiri, menghindari rasa terasing, melepaskan kemarahan atau ketegangan tubuh, dan melampiaskannya atau mengatasi emosi berlebih yang tengah dihadapi, misalnya stres, marah, cemas, benci pada diri sendiri, sedih, kesepian, putus asa, mati rasa, atau rasa bersalah.

Bahkan, perilaku self-injury juga terjadi karena seseorang ingin menghukum diri sendiri atas apa yang pernah dilakukannya. Pelaku pada dasarnya tidak berniat untuk bunuh diri, Namun, jika self-injury yang dilakukan berlebihan maka bukan tidak mungkin akibatnya fatal, Guys. Setelah melakukan self-injury, pelaku akan merasa lega, damai sesaat, dan terbantu dalam melepaskan ketegangan. Namun, setelah itu akan diikuti dengan perasaan bersalah, malu, dan emosi lainnya yang menyakitkan.

Masalah yang Menyebabkan Trauma

Foto: takaitu.id

Jika kamu mengalami kesulitan hidup dan masalah sosial, misalnya menjadi korban bullying (perundungan) di sekolah, atau tertekan dengan tuntutan dari orang tua dan guru, sebaiknya kamu waspada, Guys, karena bisa jadi permasalahan ini akan menyebabkan gangguan jiwa seperti self-injury.

Selain itu, konflik dengan keluarga, pasangan, dan teman, atau mengalami krisis identitas yang menyangkut orientasi seksual juga bisa menjadi pemicunya. Seseorang yang mengalami trauma psikologis seperti kehilangan orang yang dicintai dan menjadi korban kekerasan emosional, fisik, atau seksual bisa membuat seseorang merasa hampa, mati rasa, dan rendah diri dapat menimbulkan anggapan bahwa menyakiti diri sendiri bisa mengingatkan dirinya bahwa ia masih hidup dan merasakan sesuatu layaknya orang lain.

Ternyata masih ada penyebab timbulnya self-injury lainnya yaitu gangguan mental, seperti gangguan mood, depresi, gangguan makan, gangguan stres pascatrauma (PTSD), gangguan penyesuaian, atau gangguan kepribadian ambang.

Menyembunyikan Luka

Foto: medium.com

Pelaku self-injury pada dasarnya adalah orang yang sedang bermasalah, Guys, jadi mereka berusaha untuk menyembunyikan masalahnya, termasuk menyembunyikan luka yang diderita akibat self-injury. Mereka suka memakai pakaian tertutup meski cuaca sangat panas serta menghindari aktivitas yang membuat sebagian anggota tubuhnya terlihat orang lain, seperti berenang bersama atau olahraga lainnya.

Tanda lainnya adalah selalu ada bagian tubuh yang mengalami luka atau bekas luka mencurigakan dan menjadikan kecelakaan sebagai alasannya, Guys. Kadang-kadang akan ditemukan noda darah di baju, lap, sapu tangan atau barang-barang lainnya. Secara psikis, terjadi perubahan perilaku yang kadang terlihat ekstrim, seperti tiba-tiba menjadi pendiam, tampak kesal atau tertekan.

Terapi dan Konseling, Harus!

Foto: yourstory.com

Karena self-injury terjadi dan berakibat pada fisik dan mental, maka diperlukan pengobatan secara bersamaan. Trauma fisik harus segera diobati, karena mungkin pelaku tidak memahami bahwa menyakiti salah satu bagian tubuh bisa berakibat buruk pada bagian tubuh yang lain.

Trauma psikologis juga harus segera ditangani oleh ahlinya dengan konseling dan dalam beberapa kasus mengharuskan penderita meminum obat anti depresi. Dukungan orang-orang terdekat terutama keluarga sangat dibutuhkan agar pelaku self-injury dapat sembuh dari kebiasaan yang dilakukannya. Disamping itu juga diperlukan lingkungan yang sehat agar pelaku tidak kembali pada kebiasaan yang merugikan ini.

Nah, Takaiters, kalau kamu menghadapi orang yang dicurigai melakukan self-injury, berikan nasehat dengan baik, Guys. Mereka yang melakukan self -injury adalah orang yang memerlukan bantuan secara serius supaya tidak membahayakan diri dan orang lain.