Sejarah panjang peradaban islam tidak terlepas dari sosok orang-orang yang membawanya ke suatu wilayah. Jika Perkembangan peradaban besar lahir dari Andalusia, hal tersebut juga terjadi di sejumlah wilayah nusantara. Sebut saja kota Aceh yang notabene mengapteni perjalanan panjang islam di tanah air yang tidak bisa dipungkiri. Lalu bagaimana dengan Ranah seribu rumah gadang?

Inilah sosok ulama pertama yang membawa penyebaran islam, Syekh Burhanuddin, yang dikenal dengan nama lain Syekh Kuala, Ia lahir di Sintuk Toboh Gadang, Padang-Pariaman pada tahun 1646. Syekh Burhanuddin sendiri berasal dari keluarga peternak sapi, meski demikian itu tidak mengubah prinsipnya dalam mendalami islam secara kaffah. Ia sudah mulai berhijrah saat usianya menginjak 15 tahun, Ia berguru pada Syekh Abdur rauf yang juga menjadi ulama besar di kota serambi mekkah.

Meski ada gejolak perbedaan antara ulama tarekat dengan ulama yang menganut “teori” Timur Tengah yang mewarnai masuknya islam disumatera barat namun hal itu tidak mengurangi ekspektasi populernya islam di Sumatera Barat.

Awal penyebaran islam yang dimulai oleh Syekh Burhanuddin saat Ia di hadiahi sebidang tanah oleh sahabatnya Idris Majalelo, sarana tersebut yang membuat Syekh Burhanuddin mendirikan sebuah Masjid yang dikenal dengan surau sebagai lading dakwahnya menyebarkan Islam, masjid ini diberinama Masjid Raya Syekh Burhanuddin yang dibangun pada tahun 1670.

Sampai sekarang masjid  Syekh Burhanuddin menjadi cagar budaya bagi masyarakat minang kabau yang ingin berziarah ke makam beliau.  Sejarah mencatat penyebaran islam di Ranah Minang memiliki rekor yang baik hal ini terbukti dengan 98 % masyarakat asli minang menganut islam sebagai agama mereka, meskipun pada abad ke VII kristenisasi penduduk lokal sempat terjadi, namun eksistensi Ulama menjadi cikal bakal islam sangat berkembang di Minang kabau.

Dengan keadaan islam saat ini, kita perlu belajar banyak dari Ulama yang digelari Syekh Ulakan, bahwa pentingnya pendidikan agama mampu menggeser paradigm umum tentang kemiskinan intelektualitas ummat islam saat ini, karena kurangnya “ambisi” mendalami islam adalah masalah yang cukup “urgen” sehingga ungkapan ummat islam seperti buih dilautan menjadi tikungan tajam yang harus ditutup oleh regenerasi selanjutnya.