Hai, Takaiters!

Kamu pastinya hafal siapa Pak Tito Karnavian? Dia sekarang dipercaya Pak Jokowi, Presiden RI, untuk menjadi Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Sebelumnya, Pak Tito adalah Kapolri, orang nomor satu di institusi kepolisian.

Dia adalah jenderal polisi yang ahli soal terorisme. Seorang guru besar juga alias seorang profesor. Pak Tito juga lulusan terbaik Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 1987. Penerima Bintang Adhi Makayasa, penghargaan paling bergengsi yang diterima lulusan terbaik baik itu Akpol, Akademi Militer (Akmil), Akademi Angkatan Udara (AAU) atau Akademi Angkatan Laut (AAL).

Nah, Pak Tito itu, tak hanya jago menganalisa jaringan teroris. Namun, dia juga bisa jadi ustaz dadakan. Bisa berceramah laiknya seorang pendakwah jempolan. Kisah, Pak Tito menjadi ustaz dadakan itu terjadi, ketika dia berkunjung ke Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), Jumat, 28 Februari 2020.

Ketika itu Pak Tito datang ke Palembang untuk menghadiri acara Rapat Kerja Percepatan Penyaluran dan Pengelolaan Dana Desa Tahun 2020, yang digelar di Gedung Main Dining Hall, Komplek Jakabaring Sport City (JSC), Palembang, Sumsel.

Saat itu, Pak Tito datang ke Palembang bersama dengan Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani dan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Pak Abdul Halim Iskandar. Di kota Pempek itu, Pak Tito sempat menunaikan ibadah salat Jumat di Masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo Palembang.

Didaulat Menjadi Imam Salat Jumat dan MenJadi Ustaz Dadakan

Sumber foto: dokumen Humas Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri)

Nah, di Masjid itulah Pak Tito didaulat untuk imam salat Jumat. Usai salat Pak Tito tak langsung beranjak, tetapi didaulat untuk memberi ceramah atau tausiyah. Maka Pak Tito pun beralih rupa dari seorang menteri jadi ustaz. Ia pun berceramah dengan tenang dan runut. Tema ceramahnya tentang persatuan bangsa, takdir Allah, dan bagaimana menjadi hamba yang bersyukur.

Yang menarik, Pak Tito dengan fasih pula mengutip ayat Al-Qur’an dalam ceramahnya. Kata Pak Tito, dalam ceramahnya, “Jangan mempertentangkan perbedaan ras. Indonesia mestinya bersyukur menjadi negara yang memiliki keragaman etnis karena tak banyak negara seperti Indonesia. Singapura misalnya, hanya terdiri dari beberapa etnis saja. Negara lain pun seperti Afganistan, hanya ada tujuh suku. Berbeda dengan Indonesia, ada banyak suku, dengan beragam bahasa, tradisi dan budayanya.”

” Nah ini jangan menjadi pemecah, tetapi adalah kekayaan bagi kita. Inilah nikmat Allah yang diberikan kepada kita semua,” katanya.

Kutip Ayat Al-Qur’an

Sumber foto: Dokumen Humas Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri)

Pak Tito pun kemudian mengutip ayat Al-Qur’an dalam surat Ar-Rahman. Katanya ada ayat, “Fa bi ayyi aalaa’i rabbikuma tukazziban,” yang diulang sebanyak 31 kali dalam surah Ar-Rahman tersebut. Menurut Pak Tito, “makna dari ayat itu— nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?—Ini ungkapan yang ditujukan kepada bangsa jin dan manusia. Ayat tersebut bicara tentang nikmat-nikmat Tuhan yang banyak sekali dilimpahkan kepada manusia. Perbedaan etnis atau ras adalah salah satu nikmat Tuhan,” kata Pak.Tito.

” Jadi inilah nikmat Allah beragam suku dan ras, termasuk saudara-saudara kita keturunan Tionghoa adalah bagian dari kekayaan kita, ” katanya.

Pak Tito pun melanjutkan ceramahnya. Kata dia, kyai dan para ulama mengajarkan, Islam itu agama Rahmatan lil Alamin. Agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Jadi,  Islam adalah agama yang merangkul atau mengayomi semua pihak dan dalam semua hal.

Artinya, agama Islam tak mengajarkan sikap membeda-bedakan ras. Membeda-bedakan etnis. Juga membedakan agama dalam pergaulan. Justru Islam mengajarkan pemeluknya untuk menjadi pencerah, termasuk kepada orang yang bukan muslim dan ia bersyukur, Mesjid Cheng Hoo, jadi tempat yang bisa mencerahkan orang lain.

” Alhamdullilah di masjid ini hampir setiap hari katanya ada yang jadi mualaf. Ini betul-betul merupkan rahmat dari Allah Swt. kepada kita smua sehingga lebih banyak yang mendapatkan hidayah untuk menjadi mualaf masuk ke dalam Islam, menjadi orang muslim, tentu saja kita mensyukuri itu, ” ujarnya.

Singgung Virus Corona dalam Tausiyahnya

Sumber foto: Dokumen Humas Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri)

Dalam ceramahnya, Pak Tito juga menyinggung soal virus corona. Ia pun mengingatkan, di tengah merebaknya ketakutan akan virus mematikan tersebut, hubungan atau silahturahmi antar sesama anak bangsa harus tetap di rawat dan dijaga. Termasuk membangun hubungan dengan pemerintah. Lalu Pak Tito bicara tentang kesuksesan dan amanah.

Katanya, sebagai umat Islam, ia percaya akan takdir. Apa yang sekarang ia raih, ia genggam, itu sudah digariskan Sang Khalik. Ia jadi menteri adalah takdir dari Allah. Dengan begitu, ia jadi hamba yang tetap bersyukur.

“Saya sangat percaya bahwa kita sebagai umat Islam memiliki rukun iman, salah satunya adalah percaya kepada takdir. Saya menyadari bahwa saya bisa seperti ini, Pak Gubernur seperti ini, Pak Kapolda seperti ini, hanya karena takdir dari Allah Swt. Kita hanya bisa berusaha, berdoa kepada Allah Swt., dan menerima takdir kepada kita, bahwa kita tulus,” ujarnya.

Tausiyah Pak Tito soal Amanah dari Tuhan

Sumber foto: Dokumen Humas Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri)

Apa yang diraihnya sekarang, kata Pak Tito, jadi jenderal bintang empat sampai pensiunnya dan kini memanggul amanah sebagai Mendagri, semata itu adalah datangnya dari Allah Swt. Ini adalah amanah atau kepercayaan yang diberikan Allah. Amanah yang harus dilaksanakan sebaik mungkin karena amanah itu yang akan dipertanggungjawabkan kepada Allah.

” Ini sebagai amanah dari Allah Swt. yang betul-betul harus ditunaikan untuk kepentingan umat dan masyarakat,” katanya.

Kesadaran bahwa apa yang sekarang diraih dan dimiliki semata dari Allah, kata Pak Tito, ini yang terus ia tanamkan. Karena pada akhirnya saat dipanggil Allah, manusia itu tak membawa apa-apa. Jabatan dan harta, tidak akan dibawanya ke alam Baqa. Jejak kebaikan, amal baik, itu yang akan diperhitungkan di hadapan Allah. Pak Tito pun lantas bercerita pengalaman yang pernah dialaminya saat melepas kepergian tiga tokoh nasional.

” Saya menyaksikan, ini bukan sekadar kata-kata. Saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri. Tahun lalu saya mengantarkan tiga orang, saya tidak mau sebutkan tokoh nasional yang wafat yang memiliki kekuasaan besar. Saya mengantarkan sampai ke liang jenazah, ke liang kubur, dan saya melihat semua tidak ada apa-apanya.  Masuk ke dalam, tidak ada satu apa pun di dalam, dan setelah itu ditutup dengan tanah, selesai. Semua pulang, hilanglah semua pangkat, semua jabatan, semua kuasaan dan lain-lain, yang dibawanya amal perbuatan yang baik,” katanya.

Dari situlah, ucap Pak Tito, ia kian menyadari, bahwa orang yang sukses itu adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya sendiri. Yang bisa menjaga hubungan baik dengan Tuhannya. Dengan sesamanya selalu berbuat baik, berbuat kebajikan. Itu yang akan diperhitungkan di alam barzah, di alam Baqa. Jabatan dan pangkat hanyalah alat untuk berbuat baik.

” Karena itu sukses di alam fana belum tentu sukses di alam baka. Oleh karena itu, apa yang sudah kita dapatkan dari Allah Swt. ini semuanya kita nikmati saja. Apa pun profesi, pangkat, jabatan, dengan itu kita bisa berbuat amal perbuatan yang baik di semua jabatan, pangkat apapun juga.”

“Justru makin tinggi makin besar bebannya. Semua kembali kepada yang paling penting bagaimana kita bisa berbuat baik untuk bekal di akhirat. Itu yang paling utama. Saya kira itu. Terima kasih banyak, semoga Allah Swt. memberikan pahala sebanyak-banyaknya kepada kita semua sehingga bisa berjamaah pada hari ini dan s

emoga Allah Swt. mengabulkan segala doa-doa kita. Tidak ada yang sulit bagi Allah jika Dia menghendaki, jika Allah menghendaki sesuatu yang terjadi maka terjadilah,” kata Pak Tito menutup ceramahnya.