Heiyo, Takaiters!

Perkembangan teknologi yang begitu masif seperti sekarang ini, membuat kita masuk dalam atmosfer zaman atau gaya hidup yang serba cepat. Salah satu indikasi yang menunjukkan hal itu adalah kecanggihan sebuah smartphone yang memiliki utilitas beragam.

Ada banyak sekali kemudahan. Dan, komunikasi jarak jauh adalah ciri kecanggihan utama yang harus ada pada sebuah ponsel, terlebih lagi jika ponsel genggam itu bertajuk ponsel pintar, alias smartphone.

Kendati demikian, segala kemudahan itu sayangnya menimbulkan dampak yang terbilang negatif, ya, Takaiters. Adiksi atau efek candu adalah salah satunya. Bahkan, bisa menimbulkan suatu gejala phobia yang dikenal sebagai nomophobia, dimana seseorang akan amat sangat gelisah jika tidak ada smartphone—termasuk mobile gadget lainnya—yang turut serta di genggamannya, di dekatnya, dan bersamanya.

Namun, perlu diakui kalau smartphone itu mengasyikan! Scrolling media sosial, bercengkrama tiada henti di grup chat, sampai urusan video call mantan gebetan selama berjam-jam karena mendadak kangen. Nikmat memang. Bukan begitu, Takaiters? Hehehe …

Dan kemudian, semua keasyikan itulah yang membuat kecanduan itu terus menguat. Seakan menjerat penggunanya yang merupakan pengendali. Pengendali yang seolah dikendalikan tanpa kendali. Kadang-kadang juga, nih, susah dikenali. Mana urusan nyata dan mana urusan maya? Perbedaannya sangat tipis dalam beberapa waktu terakhir ini.

Smartphone, terlebih dengan kecanggihannya memberikan layanan berselancar di dunia maya, membuat jerat kecanduan itu kian menjadi-jadi. Smartphone, Internet, ditambah lagi fitur Game, adalah elemen yang menguatkan cengkraman adiksi tersebut.

Lalu, bagaimana kecanduan ini diatasi? Kira-kira, ada aplikasinya beneran enggak, sih? Hmm … Coba beberapa hal berikut ini, deh, siapa tahu bisa ngebantu kamu yang mulai tersadar dan tercerahkan.

1. Letakan ikon aplikasi media sosial di bagian yang sulit dijamah

Atur tata letak aplikasi media sosial di ponsel
Foto: Independent.co.ug

Nah, ini bisa diadopsi supaya kamu tidak langsung tergoda untuk membuka aplikasi medsos yang terinstall di smartphone. Menaruhnya di posisi yang sulit diklaim cukup mempengaruhi penggunanya, lo!

Aplikasi-aplikasi ‘jebakan’ itu bisa, kok, dipindahkan dari halaman menu utama ponsel. Jangan simpan di halaman utama, karena itu seperti melihat poster diskonan sebesar 85 persen.

Jadi, kamu tidak perlu memboikot dengan cara menguninstall aplikasi media sosial demi terlepas dari jerat candunya. Toh, media sosial tetap punya sisi positif kalau memang digunakan dengan proporsional. Iya enggak, nih, Takaiters?

2. Kurangi perasaan bersaing di lorong-lorong media sosial

Kompetisi media sosial itu candu
Foto: all4women.co.za

Pernah enggak, sih, kalau kamu kerap kali bersikap jealousy pas ngeliatin postingan temen yang instagramable banget? Buat apa, sih, ngerasa iri begitu? Kecenderungan ini yang bikin kamu jadi enggak berhenti-henti mantengin laman sosmed.

Secara enggak sadar, kelakuan ini yang secara enggak langsung membangun suasana kompetisi. Posting tiap hari, scrolling tiap jam, menit, detik, dan setiap saat. Itu penyakit, tahu! Mulailah membatasi sedikit kebiasaan itu.

Penulis keuangan, Rachel Cruze dalam bukunya “Love Your Life, Not Theirs” berpendapat bahwa media sosial membuat kita terjebak dalam perbandingan-perbandingan. Kita seringkali ngebanding-bandingin diri dengan apa yang ada di sosial media.

Kalau kita, lanjutnya, terus-terusan terjebak dalam komparasi itu kehidupan nyata kita akan ditindih kepentingan-kepentingan social media. Enggak mau kan, terus-terusan begitu? Misalnya, nih, pergi traveling untuk ngilangin stres atau cuma: demi estetika galeri Instagram? Hayoloo ….

3. Matikan beberapa atau semua notifikasi kalau mampu

candu media sosial itu karena notifikasi
Notifikasi. Foto: educatecode.com

Notifikasi biasanya membuat kamu penasaran. Jauh lebih penasaran ketimbang seperti apa bentuk dan suasana surga. Iya, mematikan notifikasi bisa kamu terapkan, nih.

Selain supaya nggak selalu nurut sama bunyi notifikasi, tentunya ini bisa ngebantu kamu lebih berkonsentrasi ketika sedang bekerja atau melakukan hal-hal produktif lainnya. Tapi, selama urusannya penting, sebagai pengguna, kamu bisa, kok, mengatur aplikasi mana saja yang boleh membunyikan notifikasi.

Misalnya, kamu biarkan notifikasi WhatsApp berkumandang karena urusan tugas ketimbang laporan direct message (DM), atau jumlah like di Instagram kamu. Kebijaksanaan diperlukan, lo, di bagian ini. Jangan takut buat merasa kehilangan, toh notifikasi seringkali berisi laporan yang tidak penting.

Bonus yang kamu dapat dengan menerapkan ini adalah: saat kamu sedang santai, lalu memilih memeriksa aplikasi sosmed, kemungkinan besarnya bakal disambut dengan lebih banyak pemberitahuan. Ini kan jauh lebih menarik ketimbang harus buka-tutup aplikasi cuma karena satu-dua notifikasi.

4. Pilih waktu yang pas untuk berselancar

waktu pas untuk bermain sosial media
Foto: altpress.com

Ini mungkin berlaku untuk semua hal yang bersangkutan dengan ponsel. Waktu penggunaan smartphone kamu cenderung berlebihan. Lupa waktu. Bahkan, lupa bentuk kalau bentuk bumi itu bulat atau datar.

Sangat dianjurkan untuk mengatur jadwal kapan kamu benar-benar bebas merdeka menunduk ke layar ponsel. Buat ponsel milik kamu itu layaknya rental game PS1 zaman dulu. Batasan waktu bisa disesuaikan, kok, sama lengangnya jadwal kegiatan dunia nyata kamu di planet bumi tercinta ini.

Menerapkan ini tentu dibarengi sama tegas atau tidaknya kamu terhadap diri sendiri. Aplikasi reminder atau pengingat waktu bisa dimanfaatkan juga untuk mengetahui seberapa lama waktu yang kamu habiskan menggunakan ponsel.

Ketika timer alias jadwal yang kamu buat sudah habis, kuatkan iman dan usahakan untuk tidak tergoda buat berlaku curang. Mengkhianati janji itu dosa. Inget itu, wahai kisanak yang budiman. Hehehe …

5. Hitung dan siapkan sistem reward and punishment

Cara mengurangi candu media sosial
Foto: The Verge

Lihat dan kalkulasikan seberapa jauh sudah kamu melangkah untuk tidak kecanduan dengan ponsel. Apakah sudah ada keberhasilan atau justru stagnan? Hal itu jadi bisa kamu jadiin pertimbangan selanjutnya.

Kamu juga bisa menerapkan sistem reward-punishment buat menanggapi hasil statistik temuan. Kalau porsi main sosmed gitu-gitu aja enggak ada peningkatan atau malah lebih parah, hukum diri sendiri. Memang sulit, sih, tapi apa salahnya ‘kan buat nyoba aja.

Di samping itu, rewards atau hadiah yang bakal kamu dapetin adalah bonus-bonus yang bentuknya lain. Lebih produktif lagi di dunia nyata, kemungkinan besar bakal kamu dapet. Terus, selain itu, nih, kamu juga bisa terlepas dari beban media sosial yang penuh dengan kompetisi narsisme-narsistik itu.

Ya, semua ini cuma saran saja. Kalau ada kemauan untuk tidak lagi terbebani dengan kehidupan maya, semuanya bisa, kok, Takaiters. Itu pun kalau istiqomah, sih. Asik. Semoga bermanfaat, ya.