Hai, Takaiters!

Difabel adalah kependekan dari ‘different abilities people’ atau orang dengan kemampuan yang berbeda. Istilah difabel dapat menggantikan kata cacat atau tidak normal menjadi lebih halus.
Meskipun secara fisik mereka tidak sempurna, namun beberapa dari mereka banyak yang mempunyai prestasi yang gemilang, sekaligus bisa menjadi inspirasi orang lain. Inilah 5 difabel yang bisa menjadi inspirasi.

1. Muhammad Ade Irawan

Foto: Indonesiaproud.wordpress.com

Ade lahir di Colchester, Inggris pada 15 Januari 1994, dari pasangan Endang Dewi Mandeyani dan Irawan Subagyo.

Ade adalah penyandang tunanetra, yang semenjak kecil adalah anak yang aktif dan senang meraba-raba alat musik, saat Ade diajak jalan ke mall, ade menekan tuts piano dan berbunyi, spontan Ade meminta dibelikan alat music tersebut.

Bakatnya mulai terasah saat mengikuti ibunya yang bertugas di Chicago, Amerka Serikat pada tahun 2004. Chigago adalah tempat berkumpulnya musisi blues dan jazz dunia.

Ade memutuskan memilih jalur jazz sebagai pilihan dalam bermain music, saat usia 12 tahun, Ade dengan sangat luar biasa tampil dalam Chicago Winter Jazz Festival, Ade mempelajari huruf braille di Farnsworth School dan menjadi pianis tetap pada di Jazz Links Jam Session (Jazz Institute of Chicago) di Chicago Cultural Center.

Permainan music Ade juga memdapat perhatian dari musisi tanah air, bahkan Jaya Suprana membuatkan pagelaran recital tunggal pada tahun 2010, sehingga mendapat julukan Ade ‘Wonder” Irawan.

2. Gol A Gong

Hasil gambar untuk Gol A Gong
Foto: youtube

Bagi yang mengalami masa remaja era 80-an, tentu tak asing dengan nama Gol A Gong (dahulu Gola Gong), penulis novel ‘Balada si Roy’, nama asli Gol A Gong adalah Heri Hendrayana Harris, lahir di Purwakarta, 15 Agustus 1963.

Dikutip dari Wikipedia, Gol A Gong kehilangan tangan kiri semenjak usia 11 tahun, karena kenakalan masa kecilnya. Ayahnya yang seorang guru menyarankan agar Gol A Gong banyak membaca buku, “kamu harus banyak membaca, kamu akan menjadi seseorang dan lupa bahwa kamu itu cacat” kata ayahnya saat itu.

‘Balada si Roy’ awalnya dimuat di majalah ‘Hai’ yang terkenal saat itu dan dimuat dari tahun 1984-1994. Gol A Gong juga seorang traveller, gemar menulis cerita-cerita perjalanan.
Gol A Gong mendirikan Rumah Dunia di Serang, Banten dan saat ini menjabat sebagai ketua umum Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Indonesia.

3. Stephanie Handojo

foto : goodnewsfromindonesia.id

Stephanie sejak lahir menderita downsyndrome, gadis yang lahir 5 November 1991 dari pasangan Maria Yustina dan Santoso Handojo ini mempunyai prestasi yang luar biasa.

Sejak kecil Stephani sudah diarahkan orang tuanya untuk mengikuti kegiatan yang positif, khusunya berenang dan bulutangkis, prestasi gemilang pernah diraih Stephanie yaitu terpilih mewakili Indonesia dalam ajang Special Olympics World 2011 di Athena, Yunani dan meraih medali emas pada cabang renang nomor 50 meter gaya dada.

Tak hanya itu, Stephanie juga mempunyai bakat yang luar biasa dalam bermusik, ia tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) karena kemampuannya bermain piano dengan 22 lagu selama 2 jam.

4. Angkie Yudistia

Foto: smartmama.com

Angkie adalah penyandang tunarungu sejak usia 10 tahun, namun ia mampu menyelesaikan pendidikannya di sekolah umum sejak Sekolah dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA).

Angkie kemudian melanjutkan pendidikan di London Of Public Relations (LSPR) dan lulus dengan indeks prestasi kumulatif 3,5 tak hanya itu, Angkie juga meraih gelar master dibidang komunikasi pemasaran lewat jalur ekselerasi di kampus yang sama.

Banyak prestasi yang diraih Angkie, selama kuliah, Angkie pernah menjadi finalis Abang None Jakarta mewakili Jakarta Barat tahun 2008, di tahun yang sama juga terpilih menjadi The Most Fearless Female Cosmopolitan.

Pada usia 25, Angkie menjadi founder dan CEO Thisable Enterprise, perusahaan yang didirikan dengan fokus pada misi sosial terutama membantu orang yang memiliki keterbatasan fisik atau disable.

Pengalaman hidup dan pemikirannya dituangkan dalan buku yang berjudul ‘Invaluable Experience to Pursue Dream’ (Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas) akhir tahun 2011.

5. Panji Surya Putra

Surya Sahetapy
Foto: 2.bp.blogspot.com

Lebih akrab dipanggil dengan nama Surya, ia adalah putra dari aktris Dewi Yull dan Ray Sahetapy, divonis tuli berat saat masih berusia 2 tahun, dengan derajat ketulian 105 decibel di telinga kanan dan 115 decibel di telinga kiri, sementara derajat pendengaran normal adalah 0-20 decibel.

Surya adalah pemuda yang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, hasil dari pola asuh orang tuanya, mengenyam pendidikan di Universitas Siswa Bangsa Internasional (SBI) jurusan pendidikan bahasa inggris.

Saat ini Surya menjadi aktivis yang memperjuangkan hak-hak kaum tuli, salah satunya memperjuangkan agar Bisindo ( Bahasa Isyarat Indonesia) diakui pemerintah sebagai bahasa resmi tunarungu Indonesia.

Saat ini Surya juga aktif menjadi pengajar Bisindo di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (UI), hebat bukan?

Itulah 5 difabel yang berprestasi sekaligus bisa menjadi inspirasi buat kita, dibalik kekurangan pasti Tuhan memberikan juga kelebihan, semoga kisah mereka bisa menjadi pelajaran buat kita semua.