Hallo Takaiters,

Mempunyai seorang kakak pasti menyenangkan. Apalagi jika usianya terpaut tidak jauh berbeda. Kalian bisa main bersama. Terlebih jika sama-sama cowok atau sama-sama cewek. Bisa bergaya kembaran nih. Tapi tahukah kamu? Ternyata mempunyai seorang kakak tidak selalu menyenangkan. Ini lho susahnya menjadi anak ke-dua, kita simak yuk, Takaiter:

  1. Sering dibanding-bandingkan

Susahnya Menjadi Anak ke-dua
Foto: hipwe.com

Mempunyai kakak yang banyak prestasi tentu menyenangkan ya. Apalagi jika prestasinya tersebut dapat membantu kita. Misal si kakak mahir matematika, kamu dapat meminta tolong dibantu mengerjakan PR-mu.

Atau jika kakakmu mempunyai prestasi di bidang olahraga. tentu kamu ikut bangga. Tetapi hal ini  sering menjadi masalah. Kamu bakal sering dibandingkan dengan prestasi kakakmu. Sisi baiknya, kamu akan termotivasi untuk sukses seperti kakakmu.

  1. Baju bekas

fakta Susahnya Menjadi Anak ke-dua
Foto: origami.co.id

Ukuran baju anak-anak sering sekali berganti karena pertumbuhannya yang cepat. Baju anak-anak juga relatif awet karena biasanya dibuat dari bahan berkualitas. Sebagai anak ke-dua, kamu mungkin saja akan mendapat baju yang dulu dipakai oleh kakakmu. Terutama ketika masih anak-anak. Sebenarnya bukan masalah sih, karena orang tuamu pasti sudah memilih baju yang masih layak pakai. Tentu baju tersebut juga dipilih yang sesuai dengan postur tubuhmu.

  1. Warisan  mainan

Susahnya Menjadi kakak Anak ke-dua
Foto: review.bukalapak.com

Mainan juga salah satu yang sering diturunkan dari kakak ke adiknya. Orang tua ketika membelikan mainan disesuaikan dengan umur si anak. Mainan bermanfaat untuk merangsang motorik anak. Begitu si anak bertambah usia, beberapa mainan tidak sesuai lagi untuknya. Nah mainan ini yang kemudian diwariskan ke adiknya.

  1. Harus mengikuti sang kakak

perlu kamu ketahui Susahnya Menjadi Anak ke-dua
Foto: daaruttauhid.org

Harus mengikuti sang kakak sering membuat adik tidak suka dan bisa menimbulkan kekesalan kepada sang kakak. Jika kakak mahir dalam olahraga renang, bisa jadi orang tua juga menginginkan adik juga mahir dalam olahraga yang sama. Atau jika kakak tertarik pada bidang pegetahuan umum, adik juga diminta mengikuti dan menyukai bidang yang sama.

Ada faktor ekonomis karena bisa menggunakan perlengkapan bekas kakaknya, efisien karena jika harus mengantar ke tempat kegiatan bisa sekalian dan prestise jika pilihan sang kakak dianggap lebih keren.

  1. Selalu dianggap masih kecil

Foto: goodminds.id

Ini yang menyebalkan ya. Meski sudah bertambah usia, anak ke-dua selalu dianggap masih anak kecil. Ketika mengambil keputusan, usulan dan pemikirannya sering dikesampingkan. Bahkan ada yang sudah menginjak dewasa tetap dianggap anak kecil. Sisi menyenangkannya, semua akan tetap care padanya. Jadi  selalu mendapat perhatian lebih.

Takaiters,  itulah susahnya menjadi anak ke-dua. Namun demikian hal tersebut jangan membebani dirimu. Kamu dapat menunjukkan dengan berprestasi bahwa anak ke-dua juga bisa lebih baik dari anak pertama.

Jika kamu dapat menunjukkan hasil dan bertanggung jawab terhadap apa yang kamu lakukan, pasti kamu tidak dianggap sebagai anak kecil lagi.