Hai, Takaiters!

Kini, karena virus Corona atau oleh World Health Organization (WHO) disebut Covid-19, semua sektor kehidupan sosial berubah. Semua terkena dampaknya. Interaksi sosial dibatasi, semua orang  diimbau untuk jaga jarak. Pun, dalam urusan  beribadah, diminta jaga jarak atau disarankan beribadah di rumah saja. Para wartawan pencari berita pun kini lebih berhati-hati. Cara mencari berita seperti biasanya dengan langsung mewawancarai narasumber atau menghadiri jumpa pers di tempat, tak lagi disarankan.

Andai pun terpaksa mesti menghadiri jumpa pers, para kuli tinta ini, diingatkan untuk menjaga jarak, memakai masker, rajin mencuci tangan dengan sabun, dan hindari betul menyentuh barang atau benda yang berpotensi jadi penyebaran virus.

Para narasumber yang selama ini jadi buruan para wartawan untuk dimintai tanggapannya, mulai mencari jurus agar para wartawan tidak tertular virus saat mencari berita. Intinya, bagaimana wartawan ini tetap mendapat berita, tetapi tidak berpotensi terjangkit virus. Berikut beberapa jurus yang diterapkan para narasumber agar para wartawan aman saat mencari berita.

Memberi Keterangan kepada Wartawan via Virtual Press Conference

Sumber foto: Humas Kemenpan RB

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokasi Pak Tjahjo Kumolo misalnya bercerita, kini salat Jumat di kantornya, harus memperhatikan jarak antar jemaah. Tidak boleh shaf jemaah rapat lagi. Harus ada jarak, minimal satu meter.

“Ada pengaturan jarak aman antar jemaah yang salat,” ungkapnya.

Sebagian besar pegawainya pun kata Pak Tjahjo, diminta kerja di rumah. Begitu juga untuk jumpa pers, kini ia memilih memberi keterangan via online. Mengirim keterangan pers via WhatsApp (WA) atau via layanan streaming di channel YouTube Kemenpan RB, baik di Instagram maupun di Facebook (FB).

“Kami memilih virtual press conference lewat live streaming di akun YouTube Kemenpan RB,” ujar Pak Tjahjo.

Diskusi via Live Streaming Instagram

Sumber foto: Pixabay.com

Langkah serupa juga diambil  Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Hari Rabu, 18 Maret 2020,  JPPR mempunyai hajatan menggelar diskusi soal pemilihan kepala daerah serentak 2020. Menurut Koordinator JPPR, Mas Alwan Ola Riantoby, di tengah mewabahnya virus Corona, pihaknya mencoba untuk mengantisipasi diskusi tak dihadiri banyak orang karena dari jauh-jauh hari telah dikirim pemberitahuan kepada lara jurnalis bahwa pihak panitia diskusi menyediakan layanan live streaming.

Jadi, para wartawan tak perlu hadir di tempat diskusi, cukup pantau via layanan streaming yang disediakan di Instagram. Bagi yang tetap mau datang, jauh-jauh hari juga diingatkan agar memakai masker dan menjaga jarak aman. ” Diskusi bisa dipantau via live streaming IG (Instagram) kami,” kata Mas Alwan.

Imbauan AJI, Narasumber Disarankan Beri Keterangan secara Online

Sumber foto: Pixabay.com

Beberapa hari lalu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta sudah mengeluarkan imbauan untuk para narasumber yang biasa diwawancarai wartawan. Para narasumber diimbau untuk memberikan keterangan pers atau wawancara via online saja. Bisa live streaming melalui situs atau link resmi yang disediakan oleh narasumber atau siaran langsung lewat platform media sosial atau aplikasi komunikasi. “Disertai waktu untuk tanya jawab melalui kolom komentar atau teknologi suara lainnya,” kata Ketua AJI Jakarta Mas Asnil Bambani.

Optimalkan WA, FB, Instagram, dan Email untuk Mengirim Siaran Pers

Sumber foto: Pexels.com

Koordinator Komite Pemilih Indonesia (TePi), Bang Jeirry Sumampouw juga menyatakan hal serupa. Pihaknya kini mengurangi diskusi dan jumpa pers yang dihadiri banyak orang. Sekarang yang diperbanyak kirim bahan berita via online. Bisa pakai WhatsApp, Facebook atau Instagram atau langsung kirim via email para wartawan. ” Ya kita jaga-jaga saja sebisa mungkin mengurangi interaksi di keramaian, ini bentuk jaga-jaga saja agar tak potensi tertular. Karena kita tidak tahu, dari mana datangnya virus itu. Bisa saja menempel di barang-barang atau di gagang pintu ‘kan?” katanya.

Bang Jeirry lantas bercerita tentang diskusi yang beberapa hari digelar. Kata dia, jauh-jauh hari, pihak panitia diskusi meminta wartawan yang hadir membawa masker sendiri. Makan siang yang biasanya diadakan pun terpaksa dihapus. Sebisa mungkin, tak ada momen yang membuat orang banyak berdekatan.

Meniadakan Konferensi Pers di Tempat yang Biasanya Dihadiri Para Wartawan

Sumber foto: Pixabay.com

Langkah yang sama juga ditempuh Kementerian BUMN. Lewat keterangan resminya, Kementerian BUMN untuk sementara waktu tidak akan mengadakan press conference secara tatap muka. Langkah ini diambil untuk mencegah penyebaran virus Corona. Dalam keterangannya, pihak Kementerian BUMN menyatakan informasi akan disampaikan melalui video release, press release, dan atau live streaming di akun resmi Instagram Kementerian BUMN @kementerianbumn. Press release akan disampaikan melalui video dan teks bagi mereka yang tidak sempat menyaksikan live di Instagram.

” Hal ini adalah salah satu upaya kami di Kementerian BUMN untuk menjaga kesehatan bersama, baik di dalam kementerian maupun wartawan,” demikian bunyi keterangan yang dikeluarkan Kementerian BUMN baru-baru ini.

Pihak Bank Indonesia juga mengambil langkah yang sama, tidak lagi menggelar jumpa pers yang dihadiri para wartawan. Dalam keterangan resminya terkait dengan rencana Gubernur Bank Indonesia akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur bulan Maret 2020 pada Kamis, 19 Maret 2020 pukul 14.00, pihak BI memutuskan untuk tak menggelar jumpa pers yang dihadiri wartawan. Keputusan ini diambil untuk mencegah penyebaran Covid-19.  Konferensi pers akan dilaksanakan melalui live streaming via YouTube.  Pihak BI juga menegaskan, tidak ada wartawan yany hadir dalam konferensi pers tersebut, termasuk  jurnalis TV dan foto.

Pihak BI, akan menyediakan foto atau video dokumentasi acara untuk para wartawan yang dikirim via Google Drive, flashdisk atau WA untuk kamera handphone. Dan, bagi jurnalis yang ingin bertanya, pertanyaan bisa dikirimkan melalui web https://www.sli.do. “Pertanyaan akan dimoderasi. Pertanyaan yang dibacakan sesuai dengan topik RDG serta wajib disertai nama dan media,” demikian bunyi pengumuman resmi dari Bank Indonesia.