Hai, Takaiters!

Kancah teknologi sempat dikejutkan oleh kehadiran robot AI (Artificial Intelligence) bernama Erica beberapa waktu lalu. Diklaim sebagai robot android yang paling mirip manusia, Erica tampil dengan wajah perempuan yang cantik berusia 23 tahun. Nah, supaya terlihat mirip secara visual, tubuhnya dibalut dengan kulit berbahan silikon. Ia dirancang mampu bicara dan berdialog layaknya manusia, lho!

Takaiter sudah tahu kan, kalau ia pertama kali diperkenalkan oleh pakar robotik asal Jepang, Hiroshi Ishiguro–diciptakan untuk bertugas sebagai robot penyiar berita? Dan sekarang, sosok Erica nampaknya enggak akan sendiri lagi, nih. Pasalnya, temannya sesama AI, atau lebih tepatnya pesaing, telah diperkenalkan baru-baru ini. Seperti apa, ya, sosoknya?

1. Debut Pertamanya Sebagai News Anchor di Cina

Debut pertama penyiar berita virtual berbasis AI pertama di dunia
Foto: China Money Network

Salah satu Kantor berita Cina, Xinhua memperkenalkannya sebagai anggota terbaru di ruang pers mereka. Bertugas sebagai penyiar berita (news anchor), Xinhua memperkenalkan teknologi kecerdasan buatan tersebut berkat kolaborasinya dengan Sogou, sebuah perusahaan mesin pencari yang bermarkas di negara yang sama.

“Halo semuanya, Ini adalah hari pertama saya bertugas bersama kantor berita Xinhua,” ujar pembawa berita berbasis AI itu dalam video pengantarnya. Debut pertamanya berlangsung pada hari Rabu (7/11/2018) kemarin waktu setempat. Teknologi tersebut bertujuan untuk membawakan pengalaman baru dalam penyiaran berita.

2. Tampilan yang Diklaim Lebih Alami

Penampilan Penyiar Berita berbasis AI
Foto: BBC News

Meluncur dengan panggilan “AI News Anchor”, ia tampil dengan efek yang hampir sempurna layaknya manusia. Hal itu berkat program mesin pembelajaran (Machine Learning) yang disematkan, sehingga mampu mensimulasikan penampilan, gerakan, ekspresi wajah, serta suara seperti penyiar di kehidupan nyata.

Berbeda dengan Erica, teknologi ini bukanlah sesosok robot, melainkan sosok virtual yang seolah-olah merupakan manusia ‘asli’. Karena perbedaan tersebut, Xinhua menklaim bahwa penyiar berita miliknya tersebut lebih mampu menyajikan gambar manusia hidup daripada sekedar robot berekspresi dingin.

Pilihan Editor


3. Mampu Bekerja Selama 24 Jam Tanpa Lelah

Debut pertama kali Virtual AI sebagai penyiar berita kantor berita Xinhua
Robot “ERICA” – Foto: Nikkei Asia

Penampilan AI ini sendiri mencontoh dua reporter asli dari kantor berita Xinhua sendiri. Dengan proses pengenalan dan rekonstruksi wajah, sistem mendapatkan template (format dasar) sehingga dapat diterapkan dalam bentuk animasi virtual sesuai konsep pengembangannya.

Tidak hanya itu, sistem yang divirtualisasi membuat AI News Anchor dapat bekerja 24 jam tanpa henti, lho! “Saya akan bekerja tanpa lelah untuk memberikan anda informasi,” ujarnya dalam video yang sama. “Selama saya diberi teks (ke dalam sistem), saya bisa berbicara sebagai pembawa berita,” lanjutnya.

4. Tekan Biaya Produksi, Tingkatkan Efisiensi

AI News Anchor
Foto: Donald Tong on Pexels

Salah satu keunggulan penerapan konsep virtual AI ini adalah: dapat menekan biaya produksi. Sejauh ini, teknologi AI masih memiliki prospek karena berpotensi meningkatkan efisiensi kuantitas secara signifikan. Pihak Xinhua juga menambahkan bahwa apa yang mereka usung bisa memudahkan pemberitaan. Dengan kata lain, membantu meningkatkan ketepatan waktu atau jadwal pelaporan berita.

Kendati demikian, teknologi berupa; baik virtual AI ataupun robot fisik dikhawatirkan mengancam kelangsungan profesi seorang news anchor. Takutnya nih, Takaiters, pesatnya perkembangan teknologi bisa-bisa menggeser sisi manusiawi itu sendiri. Sebagai perbandingan, penghematan akan tergambar dalam segi pembayaran gaji atau honor pekerja manusia.

5. Koneksi Emosional yang Hilang

Xinhua Perkenalkan Pembawa Acara Berita dengan konsep Virtual AI
Foto: rawpixel.com from Pexels

Debut penyiar berita berbasis AI itu sebenarnya tidak mulus-mulus juga lho, Guys. Sejumlah presenter berita tidak terlalu menyambut positif, bahkan skeptis dengan ide yang ditawarkan melalui teknologi kecerdasan buatan tersebut. Mereka rata-rata menyebut bahwa ‘pengalaman baru’ yang dibawa, justru menghilangkan koneksi emosional antara audiens dengan penyiarnya.

Sebagai teknologi yang masih dalam pengembangan, AI News Anchor memang menyadari dan mengakui kekurangannya, bahkan sebelum kehadirannya menyapa publik menuai respon negatif. “Saya tahu (masih) ada banyak hal yang harus ditingkatkan. Terima kasih telah bersama kami,” ungkapnya di bagian akhir video yang diunggah melalui akun twitter resmi xinhua.

Untuk saat ini, teknologi AI nampaknya masih belum siap untuk menggantikan elemen emosional yang benar-benar manusiawi. Tapi, seenggaknya untuk hal-hal yang bersifat teknis, teknologi sudah mendapatkan tempat untuk berdampingan dengan manusia. Membantu memudahkan, iya enggak, Takaiters?