Halo, Takaiters!

Masih ingat kan dengan fenomena gerhana bulan biru super atau Super Blue Blood Moon yang terjadi pada 31 Januari 2018 lalu? Nah, di bulan Juli, tepatnya tanggal 27-28 Juli, beberapa wilayah di dunia termasuk Indonesia akan kembali mengalami kejadian langka gerhana bulan total “berdarah” ini.

Kamu pasti berpikir, bagaimana hal itu dapat terjadi?

Yup, fenomena ini terjadi saat bulan tepat berada di tengah bayangan gelap (umbra) bumi. Sedangkan warna merah kecokelatan pada bulan disebabkan oleh pancaran efek atmosfer yang sama dengan efek yang membuat langit menjadi merah saat matahari terbenam.

Di bawah ini adalah beberapa fakta penting yang perlu kamu ketahui tentang fenomena menarik blood moon yang penulis lansir dari laman Space.com:

Gerhana bulan total ini merupakan gerhana bulan terlama di abad 21

Gerhana bulan ini diprediksi sebagai gerhana bulan total terlama, karena bulan tertutup oleh bayangan gelap bumi selama durasi 103 menit atau 1 jam 43 menit.

Pada peristiwa blood moon ini awalnya bulan akan berwarna kemerahan, kemudian berubah perlahan menjadi merah kecoklatan, sebelum akhirnya benar-benar menjadi gelap.

Gerhana bulan ke-2 di tahun 2018 dan gerhana bulan ke-17 di abad 21

Di tahun 2018 ini tercatat telah terjadi 5 kali gerhana, yaitu 3 kali gerhana matahari parsial dan 2 kali gerhana bulan total. Blood moon di bulan Juli adalah gerhana bulan ke-2 sekaligus terakhir di tahun 2018. Sementara jika dihitung dari awal abad 21 (tahun 2001), ini adalah gerhana bulan ke-17.

Pilihan Editor


Adanya penampakan si merah Planet Mars di langit

Pada saat berlangsungnya gerhana bulan total 27-28 Juli nanti planet merah Mars memiliki jarak terdekat dengan bumi dalam 15 tahun terakhir. Penampakan Mars akan lebih cerah dan terang dari biasanya, karena berada sangat dekat dengan bulan yang hilang cahayanya akibat adanya gerhana total. Jika cuaca bagus dan memungkinkan kamu dapat melihat planet merah ini langsung tanpa perlu bantuan alat apapun.

Bumi berada di titik paling jauh dari Matahari

Jika Planet Mars berada pada jarak terdekat dengan bumi pada saat gerhana berlangsung, tidak demikian halnya dengan bumi dan matahari. Lamanya durasi gerhana bulan disebabkan karena bumi berada pada titik terjauh dari orbitnya saat mengelilingi matahari ketika gerhana sedang berlangsung. Titik terjauh ini bernama Aphelion. Semakin dekat bumi dengan titik Aphelion, maka semakin panjang pula bayangan bumi, sehingga semakin lama waktu yang dibutuhkan bulan untuk melewatinya.

Gerhana Bulan ini terjadi pada pagi buta, petang, dan larut malam

Uniknya, gerhana bulan mendatang ini dapat kamu saksikan di beberapa negara dengan waktu yang berbeda pula.

Di wilayah Indonesia, Asia, dan Australia, gerhana bulan total ini diprediksi akan terjadi pada tanggal 28 Juli dini hari. Sementara di Selandia Baru dapat dinikmati sebelum matahari terbit. Sedangkan kamu yang berada di belahan Eropa dan Afrika dapat menyaksikan momen terbaik gerhana ini antara matahari terbenam hingga tengah malam tanggal 27 Juli 2018.

Oya, Guys, jika saat gerhana matahari kamu harus menggunakan alat khusus untuk melihatnya, maka pada saat menyaksikan gerhana bulan hal itu tidak berlaku, karena kamu dapat melihatnya hanya dengan mata biasa tanpa perlu khawatir dengan efek yang ditimbulkan.

Nah, jangan sampai kamu melewatkan fenomena langka ini, ya, Guys! Selamat menikmati dan jangan lupa catat tanggalnya.