Hai, Takaiters!

Kamu pasti pernah mengalami fase di mana kamu merasa tulisanmu kurang enak dibaca. Padahal, kamu sudah menyuntingnya berkali-kali hingga kedua matamu terasa lelah. Lalu, pada akhirnya kamu merasa frustasi dan sebal karena hal ini.

Mood menulismu hancur seketika. Kamu hanya diam memandangi naskah yang belum juga tamat. Rasanya jarum jam berputar begitu cepat. Kemudian kamu menyesali terbuangnya waktu dan menggerutu dengan semua kejadian. Pasti pernah, kan?

Cobalah terinspirasi dari patah hatimu!

Saat kamu sedang bertanya dalam diri, kamu akan susah menerima kebenaran. Saat terjadi patah hati, kamu terluka dan susah kembali pulih. Begitupun saat kamu merasa tulisanmu ‘tak bernyawa’. Kamu harus banyak belajar dari patah hati.

Tips menulis menginspirasi
Foto: uprint.id

Berikut adalah caranya jika kamu ingin tulisanmu bernyawa. Simak tips menulis ini, yuk!

1. Belajarlah Menerima

Kesulitan terbesar bagi penulis adalah meyakini bahwa karya yang ia tulis memiliki keunggulan. Hal ini akan terasa aneh bagi si penulis. Padahal, jika pembaca memberi pendapat tentang hal ini, belum tentu karya penulis itu jelek, kan? Penyakit yang membuat tulisan tak bernyawa adalah kurang menerima.

Sebenarnya cukup sederhana. Mulailah menulis dan yakini bahwa kamu dan tulisan kamu cukup pantas. Jangan selalu melibatkan penyakit ‘kurang menerima’ menjadi alasan kehancuran mood baikmu saat menulis. Yang harus diketahui, kapasitas diri penulis juga penting dalam membuat tulisan semakin bernyawa.

2. Belajarlah Bangkit

Tidak ada salahnya terpuruk lebih dulu sebelum kamu bangkit lagi. Namun, bukan berarti membiarkan naskahmu usang begitu saja. Tidak ada kegiatan yang sia-sia jika kamu senantiasa memaknainya dengan sisi positif. Belajarlah untuk menghapus rasa rapuhmu dengan sejumlah kegiatan yang dapat meningkatkan mood.

Tenang saja, jangan selalu cemas karena inspirasi. Kamu tidak perlu mencari inspirasi, tetapi biarkan inspirasi yang menemuimu di sepanjang perjalanan menulis. Sama seperti ketika menulis ini, inspirasi yang menemuiku. Aku hanya menguatkan niat dan bersedia menulis. Toh buktinya, artikel ini selesai dan kamu mampu membacanya.

3. Belajarlah Memperbaiki

Seperti ketika kamu putus dengan pacar, kamu akan mencari situasi untuk menenangkan diri. Setelah itu kamu berusaha menerima keadaan yang terjadi. Kemudian, kamu berdamai dengan pikiranmu dan memeperbaiki apa yang salah.

Begitupun saat kamu merasa kehilangan nyawa dalam tulisanmu. Perbaiki dengan banyak belajar. Sesekali kamu bisa membaca tulisan karya penulis hebat agar kamu mampu terinspirasi. Tidak ada proses yang akan membohongi hasil.

Saat kamu sudah melakukan tiga tips menulis tersebut, ada baiknya kamu mencoba menulis dengan cara baru. Misalnya saja kamu membuat prolog yang belum pernah kamu tulis sebelumnya. Atau kamu bermain diksi yang membuat orang lain kerap bertanya apa maksudnya. Sangat menarik, kan?!

Selain itu, kamu bisa tetap memilih menjadi diri kamu versi revisi. Maksudnya adalah kamu menulis dengan ciri khasmu sendiri yang lebih baik dari sebelumnya. Sebab, penulis pasti memiliki ciri khas masing-masing. Tidak ada penulis yang memiliki kesamaan dengan yang lain.

Dengan demikian, tetaplah berpikir positif. Manfaatkan waktu luangmu untuk kegiatan menulis yang membuatmu lebih produktif. Tidak ada yang namanya patah hati ketika kamu sudah berdamai dengan tulisanmu sendiri.