Halo, Takaiters!

Vanili dikenal sebagai salah satu tanaman rempah yang bisa memberikan rasa manis yang khas pada makanan dan minuman. Rasa dan aroma khasnya yang lembut membuat rempah yang satu ini jadi favorit masyarakat.

Tidak hanya bahan kudapan, vanili juga dimanfaatkan sebagai bahan tambahan kosmetik, bahkan parfum. Dalam pemanfaatannya tanaman yang satu ini memang lebih dikenal sebagai bahan penyedap untuk produk konsumsi.

Karakter manisnya itu membuat vanili jadi bahan yang terlanjur istimewa karena biasa dipakai sebagai bahan pengganti atau untuk mengurangi jumlah gula yang dibutuhkan meningkatkan rasa manis.

Namun, di balik keistimewaanya itu, siapa yang menyangka bahwa Indonesia merupakan salah satu produsen terbesar vanili di dunia, lo! Sejak dulu tuh, negara kita memang dikenal sebagai penghasil rempah yang satu ini.

Diakui sebagai Penghasil Berkualitas

Vanila Kering
Proses pengeringan Vanila. Foto: bigfoot on Pixabay

Vanili sendiri memang sudah menjelma sebagai bahan rempah dengan nilai jual yang tinggi. Sebagai produk komoditas, vanili yang berasal dari Indonesia diakui sebagai salah satu yang paling berkualitas dibanding dengan produk sejenis yang dihasilkan dari belahan lain di dunia.

Apa yang membuat pengakuan itu mengemuka? Salah satu alasannya adalah garis edar matahari yang begitu dekat dengan wilayah Indonesia mendorong kualitas vanili yang dihasilkan. Tidak heran, orang-orang Eropa kerap menyebut vanili Indonesia dengan sebutan: ‘Java Vanilla Beans’.

Terima kasih untuk garis khatulistiwa yang membuat titik edar sinar matahari sempurna sebagai potensi lahan budidaya vanili di Indonesia. Vanili sendiri dijuluki sebagai ‘emas hijau’ dan hal itulah membuat negara ini semakin istimewa, bukan?

Produksi Vanili Indonesia Sempat Mandek

Emas Hijau
Vanila Beans. Foto: Bru-nO from Pixabay

Sayangnya, produksi emas hijau dari Indonesia diketahui sempat mandek karena harga jualnya yang sempat jatuh di sekitar tahun 2005 silam. Alhasil, banyak petani vanili memilih berpindah ke lain hati. Meninggalkan komoditas yang satu ini.

Padahal, bila ditelisik berdasarkan data di tahun 2001, sebenarnya Indonesia pernah terhitung sebagai eksportir vanili terbesar di dunia. Saat harganya anjlok, harga per klogram-nya saja dibanderol Rp 2 juta! Bagaimana kalau lagi di masa puncaknya, ya?

Periode kejatuhan itu pun terus berlanjut hingga tahun 2016. Pada masa-masa itu, masa keemasan si emas hijau ini luntur dan terpuruk. Kualitasnya pun sempat memudar hingga mencemari nama besar yang yang mengiringi Java Vanilla Beans tersebut.

Kembali Menggeliat Lima Tahun Belakangan

biji vanila basah
Vanila basah. Foto: DTelloc from Pixabay

Sebagai salah satu ‘pintu keluar’ terbesar vanili ke dunia luar, Indonesia tentu tidak ingin terus terpuruk dan tenggelam sebagai negara yang disebut: bekas penghasil terbesar komoditas emas hijau ini.

Beruntungnya, lima tahun belakangan, komoditas vanili kembali menggeliat seiring membaiknya jumlah permintaan dan harga jualnya di pasar global. Menurut Perkumpulan Petani Vanili Indonesia (PPVI), harga vanilla kering kini sudah mencapai Rp 5 juta per kilogram.

Di tengah geliat yang kembali muncul itu, Indonesia sendiri mempunyai persaingan dengan negara-negara lain, sebut saja Meksiko, Ghana, dan Madagaskar. Lalu, sebenarnya, apa yang membuat geliat vanili di Indonesia sempat turun drastis?

Jeblok Akibat Ulah Petani Sendiri

Pohon Vanilla asal Indonesia
Pohon Vanilla. Foto: BeaBeste from Pixabay

Ya, sejauh yang diketahui, ulah petani dan pedagang sendirilah yang membuat kualitas vanili asal Indonesia jeblok di panggung dunia. Kemerosotan kualitas membuat ‘pintu keluar’ vanili negara ini sepi aktivitas, alias menurun.

Dulu, banyak oknum yang menggunakan modus curang untuk mempercepat waktu panen vanila dari waktu yang semestinya. Untuk diketahui nih, vanili yang berkualitas baik itu didapat saat kadar vanili yang terkandung lebih dari 2 persen.

Panen yang tepat sebenarnya dilakukan ketika usia tanaman vanili berada di rentang 8-9 bulan. Nah, di tengah masa kebangkitan harga jual vanilla ini, Indonesia seharusnya bisa mengambil momentum.

Tanda Kebangkitan Mulai di Tahun 2017

Java Vanilla Beans
Biji vanilla. Foto: Ted Major from Flickr

Tanda-tanda kebangkitan si emas hijau sendiri telah muncul di tahun 2017 lalu. Para petani turut merasakan masa-masa itu hingga saat ini. Karena itu, beberapa inovasi turut diterapkan, salah satunya dengan menggunakan varietas-varietas vanili yang unggul.

Paling tidak, Kementrian Pertanian sudah meluncurkan tiga varietas yang direkomendasikan. Peluncurannya sudah ada sejak 2008 dengan nama Vanilla 1, Vanilla 2, dan varietas Vanilla Alor.

Dalam satu hektare lahan, setidaknya 2.500-3000 pohon vanili bisa ditanam, di mana satu pohonnya bisa menghasilkan kurang-lebih 0,5 kg vanili kering (sudah diolah). Nah, untuk mendapatkan 1 kg vanili kering, setidaknya diperlukan 4 kg vanili yang masih basah atau yang baru dipanen.

Haruskah Vanili Indonesia Berganti Nama?

Indonesia jadi penghasil vanila terbesar
Vanila Indonesia. Foto: Manfred Sommer from Flickr

Kini, sentra produksi vanili di Indonesia bertambah dan tersebar di berbagai daerah mulai dari Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi sampai Papua. Daftar tersebut semakin menambah pengembangan dan budidaya vanili yang sudah lebih dulu berkembang di Sumatra, Jawal dan Bali.

Lalu, haruskah vanili asal Indonesia melakukan rebranding? Melihat daerah penghasil vanili yang kian tersebar di wilayah luar Jawa, bukankah akan lebih cocok kalau ‘Java Vanilla Beans’ berganti wajah dengan: Indonesian Vanilla Beans?