HULT Prize sebagai Kompetisi Terbesar untuk pelajar di seluruh dunia

Hult Prize adalah sebuah kompetisi tahunan skala internasional yang menantang puluhan ribu mahasiswa dari universitas seluruh dunia untuk mencari solusi terbaik dari masalah kesejahteraan sosial dunia. Setiap tahunnya, tema yang ditawarkan berganti-ganti. Tahun 2013 adalah krisis pangan dunia, 2014 adalah isu kesehatan, 2015 tentang pendidikan, sedangkan 2016 adalah  “Urban Crowded Spaces” (ruang perkotaan terpadat di dunia).

Tantangan ini konon dulunya diberikan langsung oleh mantan Presiden Bill Clinton “How will you change the world with US$1 million?” dimana satu tim pemenang akan mendapatkan uang sekitar 13.5 Milyar rupiah untuk menjadi modal start-up perusahaan yang akan dijalankan guna mengatasi tantangan.

Keikutsertaan dalam HULT Prize

Dalam penyelenggaraannya, Hult Prize bekerja sama dengan Global Clinton Initiative, Hult International Business School dan TIME Magazine. Tahun ini ada 304 perguruan tinggi yang terpilih dan diberi privilege oleh Hult Prize untuk mengirimkan satu tim ke salah satu Regional Final (Shanghai, London, Dubai, Boston atau New York) dengan melakukan seleksi internal dalam kampus. Kemudian melakukan bimbingan tim pemenang sebelum maju ke tahap regional. Privilege ini menjadi keuntungan bagi kampus yang terpilih, karena tim pemenang tidak perlu bersaing dengan 21.000 lebih applicant dari seluruh dunia, namun langsung masuk ke regional final.

Bagi kampus yang berminat menyelenggarakan lomba antar mahasiswa terbesar di dunia ini, dapat merujuk ke link hultprizeat untuk mengetahui bagaimana proses pendaftarannya. Anak Indonesia yang kuliah di Hokkaido University, Jepang, pernah sebagai kontestannya. Kebetulan kampusnya terpilih sebagai kampus penyelenggara untuk pertama kalinya, sehingga kampus tersebut berhak mengirimkan 1 tim pemenang ke tahap Regional Final.

Hult Prize Sebuah Prestasi Membanggakan

2016 lalu, Hokkaido University berhasil mengirimkan mahasiswanya di ajang bergengsi HULT Prize. Dan mahasiswa tersebut adalah wanita asli Jogya Desi Utami, saat mengikuti kompetisi Desi sedang menyiapkan thesisnya. Dengan percaya diri Desi bersama empat orang temannya berhasil memasuki babak final.

“ Sebenarnya saat itu saya ingin semua tim adalah mahasiswa Indonesia, namun ternyata tidak mudah mengumpulkan orang dalam waktu singkat yang siap nekat dengan kesibukan masing-masing, belum lagi beban thesis yang begitu berat, beruntung akhirnya terbentuklah team dengan dua orang Indonesia, satu orang Jerman, dan satu orang India,” ungkap Desi yang kini sudah kembali ke tanah air sebagai Dosen di UGM.

Menurut Desi “Crowded Urban Space” Ia pilih menjadi tema untuk kompetisi bergensi tersebut. tema ini dipilih karena merupakan tema yang serupa dengan thesisnya.

Tidak lebih dari satu bulan dari pendaftaran, tiba juga saatnya lomba tingkat kampus. Dari 17 tim yang ada, terpilih 3 besar. Dan pada bagian akhir team kami terpilih sebagai juara 2.

“Karena tim juara 1 berhalangan terbang ke Boston, akhirnya team kami yang berangkat ke ajang bergengsi kelas dunia ini, ada rasa bangga anak Indonesia dapat terbang ke Boston, USA untuk menyampaikan hasil kajian ilmiah sebagai pemenang kompetisi kelas dunia,” ungkap Desi terharu mengenang perjuangan tersebut.

Boston, dan kampus-kampus terbaik di dunia.

Di Boston regional final, ada 60 universitas yang bertanding, tak ketinggalan Harvard University, MIT, Stanford University, Princeton University, University of California dan University of Chicago yang merupakan Top 10 Universities in the world. Sebagai pemenang, keluar  tim Magic Bus dari Earlham College, Indiana, US yang akan maju ke tahap final, melawan tim-tim pemenang dari 4 region lain, dan 1 online applicant.

Mereka memang layak menang, karena persiapan, partnership yang sangat mengglobal, dan pengalaman berbisnis yang sudah tidak diragukan lagi. Walaupun tidak berhasil menyabet 1 juta US dollar, namun berdiri dan memaparkan ide dalam satu panggung dengan 60 universitas-universitas terbaik di dunia sudah memberikan pengalaman yang luar biasa bagi saya, apalagi bonus satu minggu jalan-jalan di kota Boston, one of the world’s best-known academic hubs, memberikan kenangan yang tak akan terlupa. 😀