Halo, Takaiters!

Kamu pasti sudah mendengar berita tentang seorang akademisi dengan karya ilmiahnya mengenai hubungan seksual di luar nikah yang sontak menuai kontroversi  dan viral. Pendapat si bapak tersebut, sudah sangat meresahkan masyarakat kita. Ya, tentang hukum hubungan seksual di luar nikah  yang menurut beliau tidak apa-apa. Ya, Tuhan!

Apa yang ada dalam benak kamu mendengar kata hubungan seksual di luar nikah?

Masyarakat kita, Indonesia, merupakan sekumpulan manusia beradab yang sejak dahulu memegang teguh pilar-pilar kehidupan bermasyarakat. Termasuk urusan syahwat. Di luar koridor agama yang kamu anut, tentu saja kegiatan tersebut amat sangat tidak menunjukkan sisi kemanusiaan yang hakiki.

Sebab, dalam pelajaran sosiologi sudah diajarkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang memiliki pranata sosial. Ada aturan-aturan dalam masyarakat yang harus dipatuhi. Tidak saja mengenai bagaimana interaksi sosial atau cara kita bergaul dengan manusia lainnya, tetapi masuk dalam ranah privasi. Tentang seks.

Zaman sekarang bicara soal seks atau lebih tepatnya sex education, bukan lagi menjadi bahasan tabu dan tidak patut diperbincangkan di tengah khalayak ramai. Yang membedakan ialah cara penyampaiannya dan konteksnya. Bahasan seks menjadi pendidikan dan pengetahuan tatkala disampaikan dalam ruang seminar, simposium, atau media pembelajaran lainnya.

Kamu sebagai anak milenial harus paham tentang pengenalan diri sendiri, tubuh sendiri yang sangat tidak boleh disentuh sembarang orang. Itu sama saja tindakan melanggar hukum dengan pasal pelecehan seksual. Namun, kegiatan seksual dilakukan atas dasar sukarela tanpa adanya ikatan pernikahan yang sah,  itulah zina. Hukum mengenai pelaku sendiri pun ada diatur dalam kitab suci masing-masing agama dan hukum negara. Sebab, aktivitas ini bisa merusak kehormatan dan kesehatan manusia.

Guys, sadarilah bahwa tubuh kamu adalah karunia pemberian Tuhan yang harus dijaga dengan baik, sampai tiba waktunya ada seseorang yang menghalalkan dalam ikatan lembaga pernikahan. Ini berlaku bagi lintas gender, baik laki-laki maupun perempuan.

Apa saja, sih, kerugian yang akan kamu dapatkan bila nekat melakukan perbuatan yang di haramkan oleh agama ini?

Rusaknya Nama Baik

Foto: pexels.com

Seperti kata orang bijak, bahwa membangun nama baik itu butuh waktu seumur hidup tetapi menghancurkannya sangat mudah. Nama baik ini berkaitan dengan trust orang kepada kita. Ibarat hukum ekonomi, semakin tinggi tingkat kepercayaan orang kepada kita, maka apa pun yang dilakukan orang akan percaya.

Kita lihat bagaimana para selebgram atau selebriti mampu meraup rupiah dari akun sosial media mereka? Apalagi kalau bukan karena trust orang lain terhadap mereka. Hal ini biasanya terkait dengan attitude, sopan santun, yang membawa nama baik dalam bergaul.

Apa jadinya bila nama baik rusak gara-gara urusan syahwat? Banyak contoh dari media, betapa nama baik yang dibangun hancur seketika karena melakukan zina. Hubungan yang semestinya hanya boleh dan legal dilakukan oleh pasangan sah di mata hukum agama dan negara, pasangan suami istri.

Hilang Rasa Percaya Diri

Foto: pexels.com

Bersyukurlah kita masyarakat Indonesia yang masih menganut budaya ketimuran. Di mana adat sopan santun masih menjadi acuan dalam bertindak. Seseorang yang ketahuan melanggar norma masyarakat, seperti berzina, biasanya akan mendapatkan sanksi sosial, berupa diasingkan dan di bully. Hal ini tentu saja mampu meruntuhkan rasa percaya diri yang sejatinya ‘nyawa’ seseorang untuk bertahan dalam kehidupan. Rasa percaya diri berbanding lurus dengan nama baik seseorang. Iya ‘kan, Guys?

Rentan Terhadap Penyakit Menular Seksual (PMS)

Foto: liputan6.com

Sejumlah penyakit menular akibat hubungan dari aktivitas zina seperti AIDS, HIV, Sifilis, dan Infeksi jamur bukanlah penyakit biasa yang mudah untuk disembuhkan secara medis.

Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti tetapi lebih kepada imbauan dan ajakan untuk lebih menjaga kehormatan diri dan menimbulkan kembali kesadaran manusia itu sendiri bagaimana zina mampu mengoyak akhlak, akidah, dan tentunya berakibat fatal bagi kesehatan.

Nah, bagi kamu yang masih jomblo dan sudah ready untuk melangkah ke jenjang pernikahan, alangkah baiknya menyegerakan untuk menikah. Usia muda untuk menikah adalah waktu terbaik, supaya kelak mampu menghasilkan keturunan yang lebih berkualitas. Setuju, Guys?