Hai, Takaiters!

Beberapa dari kita mengetahui konsep minimalis sebatas interior rumah atau ruangan. Juga dengan baju atau Out Fit of The Day yang didominasi warna putih saja. Jangan salah, Takaiters, konsep ini lebih dari itu.

Apakah kalian merasa hidup tidak tenang? Hati dan pikiran seakan – akan penuh tanpa tau penyebabnya. Hidup minimalis mengajarkan kesederhanaan dan bertanggung jawab atas kehidupan yang sedang berlangsung.

Kalian berpikir bahwa shopping atau semakin banyak berbelanja, akan melipur lara. Alhasil, bukan ketenangan yang di dapat justru keungan bocor karena kalap harga diskon. Rupanya barang-barang yang terlanjur di beli, tidak bermanfaat bagi kalian. Berujung hanya sebagai penunggu di almari dan laci saja tanpa berfungsi apa –apa.

Sebab kalian telah memiliki barang yang serupa. Bagaimana pusing bukan jika sudah begini? Ayo mengenal lebih dekat, apa itu minimalis dan penerapannya.

Seni hidup minimalis
Foto: unplash.com

Mengenal hidup minimalis

Seorang yang expert dalam menata ruang bernama Francine Jay dalam bukunya yang berjudul Seni Hidup Minimalis, menerangkan “Setiap ada barang baru, barang lama yang serupa harus dikeluarkan.” Sungguh kita diajarkan untuk tidak boros uang dan tempat.

Hal ini bisa diterapkan ketika kita hendak membeli pakaian. Saat pakaian telah di dapat, maka kitapun harus merelakan pakaian yang serupa keluar dari lemari. Hal kecil di atas sangat berdampak besar jika kita mengabaikannya. Bayangkan jika pakaian yang lama dan punya fungsi serupa tetap di sana, bisa dipastikan lemari baju tidak akan cukup.

Selain itu, kita akan berpikir telebih dahulu sebelum benar – benar akan membeli barang. Apakah barang tersebut sudah pernah dimiliki sebelumnya? Kalau sudah bagaimana kondisinya? Masih bisa dipakai atau memang harus ganti yang baru? Adakah tempatnya?

Apabila beberapa pertanyaan di atas sudah terjawab, maka kalian bisa untuk memutuskan lanjut membeli atau tidak. Ketika mendalami hidup minimalis, kemampuan critical thingking akan terasah dengan sendirinya.

Paham arti tanggung jawab

Tidak berhenti sampai di situ. Barang yang sudah kita beli, harus dipertangungjawabkan sebaik – baiknya. Kemampuan untuk merawat sampai barang tersebut berakhir dengan konsep 3 R (Reduce, Reuse dan Recycle), di jual sebagai preloved  atau donasikan kepada mereka yang membutuhkan.

Semua pilihan tersebut adalah tanggung jawab kita, sebab barang itu sudah menjadi milik kita. Jika dahulu sebelum mengenal hidup minimalis, alurnya sebatas check out dan barang diterima. Lain lagi sekarang alur menjadi check out, barang diterima dan bertanggung jawab atas barang yang sudah di beli. Dalam perjalanannya kita kan belajar memaknai tanggung jawab yang seutuhnya dimulai dari hal sepele dan kecil.

Pakai barang sampai rusak

Dalam konsep minimalis, kita juga sangat dianjurkan untuk bijak dalam memakai barang. Membeli barang dengan menggunkanya sampai rusak atau memang sudah tidak bisa digunakan lagi. Betapa egois kita, apabila memiliki barang yang sama fungsinya sedangkan masih ada saudara kita untuk sekedar bertahan hidup saja susah.

Selain itu kita juga tidak mengeluarkan biaya perawatan dan lokasi atau tempat yang untuk menyimpan barang yang serupa. Menggunkan barang sampai rusak merupakan perilaku yang bijak agar terhindar dari penumpukan barang dan berakahir tidak dipakai.