Halo, Takaiters!

Masih di bulan ini, Indonesia kembali memperingati sebuah hari besar Nasional yaitu: Hari Kebangkitan Nasional, tanggal 20 Mei. Setelah sebelumnya, tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Di Era itu-setelah banyak pemuda bangsawan Negeri ini yang mengenyam pendidikan tinggi, maka rasa nasionalisme dan semangat juang untuk maju dan bangkit bersama pun timbul.

Bersatu dalam tujuan yang sama ingin mengenyahkan keterpurukan Negara yang terus dirong-rong oleh licik dan jahatnya kaum penjajah.

Seorang tokoh pelopor kebangkitan tersebut bernama Dokter. Wahidin Soedirohusodo, lulusan kedokteran STOVIA yang di masa tugasnya sebagai dokter, punya keinginan untuk memajukan pendidikan rakyat yang ingin bersekolah, tapi tidak mampu. Mengingat biaya sekolah Belanda saat itu sangatlah mahal.

Terdorong dari kepeduliaannya pada pendidikan anak pribumi itulah, Dokter Wahidin memakai uangnya pribadi untuk membantu membiayai anak-anak di sekitarnya yang ingin sekolah.

Kemudian Dokter Wahidin berusaha melobi para priyayi untuk bekerja sama. Bahkan, dia rela berkeliling Jawa sampai Jakarta untuk memprospek sumber dana dari para Bupati.

Hingga akhirnya di tahun 1907, Dokter. Wahidin bertemu para mahasiswa STOVIA. Bersama para sahabatnya tersebut-antara lain; dr. Soetomo, dr. Cipto Mangunkusumo, dan Soeraji, pada tanggal 20 Mei 1908. Mereka membentuk organisasi Budi Utomo.

Salah satu program Budi Utomo yaitu, bergerak menghimpun dana pendidikan sebagai beasiswa- pergerakan itu dinamai Darma Wara. Program itulah yang kelak menjadi pelopor adanya beasiswa di Indonesia.

Dokter Wahidin juga melibatkan para petinggi, bangsawan dan kaum terpelajar untuk mendukungnya menghimpun dana untuk program tersebut, dan banyak pihak mendukung usaha itu. Terutama para mahasiswa STOVIA tadi, yang kemudian hari terlibat dalam pembentukan Budi Utomo.

Lewat perjuangan yang tanpa henti juga terorganisir dengan baik, pada tahun 1917 gerakan Darma Wara akhirnya mendapat bantuan dari pemerintah Hindia Belanda berupa beasiswa belajar di Eropa bagi pelajar pribumi yang berprestasi.

Pada zaman itu, berkat pemikiran para toń∑oh terpelajar tersebut, perjuangan bukan hanya menggunakan senjata, tapi dengan ilmu pendidikan dan paham nasionalme yang kuat, untuk mewujudkan Indonesia merdeka dan bangsa yang bebas dari kebodohan.

Satu hal yang mungkin belum banyak yang tahu ya, guys. Ternyata Dokter Wahidin Sudirohusodo adalah Kakek dari pelukis ternama Indonesia- Sujono Abdullah dan Basuki Abdullah, anak dari salah satu putra Dokter Wahidin yang bernama Abdullah Subroto, yang juga seorang pelukis terkenal di zamannya.

Dokter Wahidin lahir tanggal 7 Januari 1852, dan meninggal pada tanggal 26 Mei 1917 di Yogyakarta. Tidak lama setelah cita-citanya meningkatkan tarap pendidikan anak pribumi tercapai.

Maka setelah Indonesia merdeka, tanggal berdirinya Budi Utomo ditetapkan sebagai peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Sebuah wujud penghormatan atas jasa semua pendirinya, dan karena Budi Utomolah yang pertama kali menggaungkan sadar pendidikan dan sifat nasionalisme bangsa ini.

Perjuangan mereka, kini berbuah merdeka dan juara, anak Indonesia banyak yang berprestasi di bidang pendidikan dan bidang lainnya hingga mendapatkan beasiswa, baik di tingkat Nasional maupun Internasional.

Takaiters patut berbangga, seandainya saja tidak ada para pahlawan yang gigih memperjuangkan kemerdekaan dan pendidikan, mungkin anak-anak bangsa dan kita semua masih dalam kantung-kantung kebodohan.

Bersyukur atas jasa mereka adalah dengan cara bersungguh-sungguh belajar untuk mendapatkan ilmu dan pendidikan yang setinggi-tingginya ya, guys. Agar tak ada lagi penjajahan di muka bumi tercinta ini.

Bangkitlah Indonesia demi terciptanya kedamaian dan kemajuan bangsa.