Hallo, Takaiters!

Dataran Tinggi Dieng yang berada di ketinggian 2.093 meter di atas permukaan laut merupakan wilayah dari tiga kabupaten yaitu Banjarnegara, Wonosobo, dan Batang.  Dieng berasal dari kata edi dan aeng yang berarti indah dan langka, merupakan dataran yang lekat dengan keanekaan hayati, situs purbakala, dan mistis.

Dieng, sebenarnya bukan hanya komplek candi yang berdekatan, tetapi sebuah sistem komunitas terorganisasi yang dibentuk secara sengaja oleh nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu. Jika kamu berkesempatan mengunjungi ke Dieng, kamu akan menemui 7 fakta menarik di sana.

Bukan Candi Tunggal

 

Foto: pesona.travel

Dieng memiliki banyak situs candi purbakala yang dibangun pada abad 8 Masehi oleh Dinasti Wangsa Sanjaya. Situs candi Hindu yang ditemukan bukanlah candi tunggal tetapi komplek candi yang tersebar di area seluar 100 hektar, baik di lembah maupun di puncak-puncak bukit.

Komplek candi itu di antaranya komplek Candi Arjuna, Dwarawati, Gatotkaca, Bhima, Magersari dan Wisanggeni. Komplek candi terbesar adalah komplek Candi Arjuna  terdiri  lima bangunan candi yaitu Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, dan Candi Semar. Komplek Candi Arjuna adalah branding market kawasan Dieng, Guys, sehingga kamu harus sampai kesana suatu saat, Guys.

Gas Beracun

Foto: droppedbox.wordpress.com

 

Kawasan Dieng adalah Dataran Dieng yang memiliki banyak kawah yang masih aktif. Kawah yang masih aktif saat ini adalah Kawah Sikidang, Kawah Sileri, Kawah Timbang, Kawah Sibanteng, Kawah Candradimuka, dan lainnya. Kawasan Dieng disinyalir sebagai dataran tinggi dengan jumlah kawah terbanyak di Indonesia, Guys.

Kawah Sikidang adalah kawah yang paling banyak dikunjungi wisatawan karena penampakannya yang eksotis. Asap putih senantiasa mengepul dari lubang kepundannya dengan air dan lava yang senantiasa bergejolak muncul berpindah-pindah seperti seekor kidang (kijang). Kawah yang cukup terkenal adalah Kawah Timbang yang mengeluarkan gas beracun pada tahun 2013 dan 2014. Konon beratus tahun yang lalu, kawah ini pernah menelan korban ratusan warga di daerah sekitarnya.

Warna Air Berubah

 

Foto: kasmtour.com

Dataran Dieng adalah dataran tinggi dengan tangkapan air yang sangat bagus, sehingga banyak telaga atau danau dan mata air yang masih berfungsi dengan baik. Telaga Balekambang, Sewiwi, Merdada, Dringo, Sumurup, Nirmala, Warna, dan Pengilon adalah telaga yang dijadikan destinasi wisata unggulan. Telaga yang cukup tekenal adalah Telaga Warna yang airnya berubah warna dari hijau, kuning atau warna pelangi karena kandungan sulfurnya yang cukup tinggi.

Kawasan Dieng juga terkenal dengan mata air purba Tuk Bima Lukar, yang dipercaya bisa membuat awet muda bagi para pengunjungnya. Selain Sendang Sedayu dan Sendang Buana, curug atau air terjun Sirawe, dan Sikarim juga tidak kalah menarik, Guys. Bukti tingginya pengetahuan nenek moyang kita lainnya adalah Gangsiran Aswatama, yaitu sebuah lorong bawah tanah yang terbuat dari batu, gunanya untuk mengalirkan air dari Danau Balekambang yang ada di sekitar komplek Candi Arjuna. Gangsiran ini yang menjaga agar komplek candi tidak terendam air ketika air danau meluap.

Terkabulnya Keinginan

Foto: rumahmisteri.com

Banyak gua di kawasan Dieng yang terkait dengan mitos bahwa Dieng adalah tempat tinggal para tokoh pewayangan, di antaranya Gua Semar, Jaran, Pengantin, Sumur dan Jimat. Gua Jimat dipercaya sebagai tempat pembuangan senjata beracun milik Pandawa dan Kurawa, Guys, meskipun sebenarnya bahaya yang timbul adalah karena masih adanya gas beracun di dalam gua. Selain gua juga terdapat Sumur Jalatunda yang unik karena adanya kepercayaan jika dapat melempar batu kerikil hingga seberang sumur maka keinginanmu akan terkabul.

Sunrise, Sunset, dan Flora Unik

Foto: goodnewsfromindonesia.com

Kawasan Dieng memiliki banyak gunung dan bukit, tetapi ada tiga lokasi yang sering dikunjungi wisatawan, yaitu Gunung Prau, Bukit Sikunir, dan Bukit Pangonan.  Bukit dan pegunungan ini memiliki spot sunrise dan sunset yang fantastis serta flora unik seperti bunga Kantong Semar yang memakan daging dan pohon cemeti yang bersifat mistis.

Film Dokumenter

Foto: travelingyuk.com

Museum Kailasa semula hanyalah tempat penyimpanan arca. Museum ini diresmikan pada tahun 2008, terdiri dari ruang penyimpanan arca, restoran, gazebo, dan panggung terbuka. Selain sebagai tempat penyimpanan peninggalan purbakala, museum ini juga memutar film dokumenter yang menceritakan proses pembentukan dataran tinggi Dieng, flora, fauna serta kehidupan masyarakat Dieng. Dengan waktu buka antara pukul 08.00–16.00 dan tiket masuk yang murah, para wisatawan disarankan mengunjungi museum terlebih dahulu untuk memahami Dieng sepenuhnya.

Pemotongan Rambut Gimbal

Foto : regional.kompas.com

Dieng yang menjadi pusat peribadatan sekaligus tempat belajar umat Hindu dari berbagai daerah ternyata memberikan andil yang sangat besar dalam membentuk seni dan budaya setempat. Di Negeri Para Dewa ini, seni budaya sangat dijaga agar tidak punah. Pemotongan Rambut Gimbal,  Tradisi Suran, Tari  Rampak Yaksa Pringgodani, Tari Topeng Dieng, dan kesenian Rodad selalu menjadi sajian saat dilaksanakan Dieng Culture Festival (DCF) setiap bulan Agustus.

Takaiters, Dieng adalah sebuah peradaban lengkap dan modern pada abad kedelapan Masehi.  Dieng terkenal sebagai Negeri di Atas Awan, Negeri Para Dewata, dan Negeri Kahyangan. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa agama dan masyarakat Hindu yang ada di Dieng adalah nenek moyang kaum Hindu di Pegunungan Bromo dan Bali. Apapun itu, Dieng adalah dunia misterius yang hingga saat ini terus menjadi bahan penelitian bagi banyak ilmuwan.