Halo, Takaiters!

Hari ini kita belajar tentang sejarah,  yuks. Sebagai anak muda  zaman now, kita harus ‘ngeh’ dengan persoalan bangsa apalagi mengulik sejarah perjuangan bangsa kita, Indonesia. Nah, kali ini siapkan memori kalian untuk merekam pelajaran sejarah yang setiap bulan Maret diperingati. Yups, Surat Perintah 11 Maret 1966 atau lebih dikenal dengan nama Supersemar.

Supersemar 1966 atau Surat Perintah 11 Maret yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno tersebut berisi mengenai, Surat Perintah yang memberikan instruksi kepada Mayjend Soeharto selaku Pangkopkamtib, untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu.

Supersemar ini adalah versi yang dikeluarkan oleh Markas Besar TNI Angkatan Darat dan juga tercatat dalam buku buku sejarah. Sebagian kalangan sejarawan Indonesia mengatakan, bahwa terdapat berbagai versi Supersemar sehingga masih terus ditelusuri mana naskah yang aslinya, sampai hari ini.

Menurut dari berbagai sumber yang bisa dipercaya, setidaknya ada beberapa hal dari sejarah Supersemar yang hingga saat ini masih menuai kontroversi. Sebab fakta sejarah memang kadangkala tergantung kepada penguasa zaman. Kalian yang memiliki latar belakang sebagai mahasiswa jurusan sejarah pasti paham bahwa ketika penguasa berganti maka fakta-fakta sejarah akan bergulir bebas.

Seperti halnya mengenai fakta Supersemar yang semakin terungkap ketika periode pemerintahan Orde Baru lengser. Segala fakta mengenai Supersemar, baik latar belakang mengapa Presiden Soekarno membuat Surat Perintah Sebelas Maret tersebut, lalu mengapa diberikan kepada Mayjend Soeharto yang ketika itu menjabat sebagai Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib). Serta mengenai fakta dimana sebenarnya salinan asli surat tersebut yang ditulis tangan oleh Presiden Soekarno.

Baiklah, kita akan membahas tentang Kontroversi Supersemar ini secara santai ya, Guys, supaya kamu nggak merasa sedang belajar sejarah yang penuh dengan hafalan tahun dan tanggal dan akhirnya bikin kamu mumet. Simak terus, yaa 

Setidaknya ada 3 kontroversi yang muncul ketika kita membicarakan Surat Perintah 11 Maret 1966 dari Presiden Soekarno ke Mayjend Soeharto saat itu. Let’s check it out!

Naskah otentik Supersemar

Commons. wikimedia.org

Pertama yaitu mengenai naskah otentik Supersemar. Menurut  LIPI, peneliti sejarah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, menyatakan bahwa keberadaan naskah otentik Supersemar hingga kini belum diketahui secara pasti, Guys. Sementara Lembaga Arsip Nasional Republik Indonesia menyimpan tiga isi naskah Supersemar,  namun ketiganya masih dianggap tidak autentik.

Pilihan Editor


Proses Mendapatkan Surat Perintah Sebelas Maret

Foto: nationalgeographic. co.id

Kedua yaitu tentang bagaimana proses mendapatkan surat itu, Guys. Nah, perlu dijelaskan kepada masyarakat, terutama dalam pelajaran sejarah bahwa Supersemar diberikan bukan murni atas keinginan Presiden Soekarno melainkan dibawah tekanan dari berbagai pihak.

Hal ini disebutkan dalam beberapa sumber, bahwa sebelum tanggal 11 Maret 1966 Presiden Soekarno didatangi oleh dua pengusaha besar utusan Mayjen Alamsyah Ratu Prawiranegara pada masa itu.

Mereka datang untuk membujuk Presiden Soekarno menyerahkan kekuasaan kepada Mayjend Soeharto. Akan tetapi Presiden Soekarno menolak, bahkan beliau sempat marah dan melempar asbak. Kemudian setelah itu diikuti dengan pengiriman 3 orang Jenderal ke Istana Bogor masih dalam rangka membujuk Presiden Soekarno. Wah, mengejutkan, ya, Guys.

Interpretasi Terhadap Surat Perintah Sebelas Maret

Foto: hiraukan-saja.blogspot.com

ketiga yaitu interpretasi yang dilakukan oleh Soeharto terhadap Supersemar 1966. Setelah Supersemar dibuat oleh Presiden Soekarno, Mayjend Soeharto menggunakannya dengan serta merta melakukan aksi beruntun sepanjang Maret 1966. Mayjend Soeharto melakukan pembubaran PKI, menangkap 15 menteri pendukung Presiden Soekarno, memulangkan anggota Tjakrabirawa dan mengontrol media massa.

Guys, sampai disini kalian masih fokus kan menyimak sejarah Supersemar? Lanjut, yaa ...

Sementara itu bagi Presiden Soekarno, Supersemar merupakan perintah pengendalian keamanan termasuk keamanan dirinya sendiri selaku presiden dan keluarganya. Maka Presiden Soekarno menekankan bahwa Supersemar 1966 itu bukanlah Transfer Of Authority kepada Mayjend Soeharto.

Perlu kalian ketahui bahwa berbagai usaha sudah dilakukan oleh Arsip Nasional untuk mendapatkan kejelasan mengenai berbagai kontroversi Supersemar 1966 itu. Bahkan Jenderal (Purn) M.Jusuf sebagai saksi terakhir dalam peristiwa Supersemar itu, sampai beliau wafat tidak bisa dihubungi untuk mengorek faktanya.

Setelah Presiden Soeharto lengser ‘pun, usaha untuk mencoba mengungkap dan mencari tahu terkait kebenaran dari banyaknya cerita sejarah tentang terus dilakukan.

Sekarang, terkait dengan faktor sejarah dan kebenaran Supersemar yang masih terus mengalami simpang siur itu,  mungkin akan semakin sangat sulit untuk mengungkapkan kebenarannya. Karena tokoh sentral dalam peristiwa itu sendiri yaitu Presiden Soeharto sudah meninggal dunia pada 27 Januari 2008 lalu.

Guys, sejarah telah mengajarkan banyak kepada kita, bahwa dibutuhkan peran aktif dari semua kalangan untuk membudayakan menulis, mencatat fakta-fakta sejarah maupun peristiwa yang terjadi sekitar kita. Kemudian mengumpulkan catatan sejarah tersebut dalam sebuah dokumen yang resmi dan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya secara hukum. Sehingga peristiwa sejarah yang sulit diungkap seperti Supersemar ini, tidak terjadi lagi.