Hola, Takaiters!

Di beberapa kesempatan sebelumnya, kita sudah membahas bagaimana tanda tanya besar serta tantangan yang berada di tengah geliatnya ekosistem eSports yang tengah terjadi hari ini. Namun, ada sejumlah poin lain yang tidak kalah perlunya untuk diperhatikan juga.

Seperti halnya industri yang membutuhkan pasar kerja, ekosistem eSports juga mempunyai elemen yang hampir serupa. Kendati jalur profesional di dalamnya masih menjadi polemik, akan sampai mana kelangsungan eSports ini melenggang; juga jadi PR besar bagi pihak-pihak yang terlibat.

Para gamer profesional yang merupakan menjadi bagian langsung di dalamnya adalah salah satu bahasan penting. Sebagai elemen utama, mereka tentu tidak mungkin terus-terusan kekal dan abadi. Artinya, regenarasi adalah persoalan yang mungkin, di masa depan akan atau justru sudah dihadapi eSports saat ini.

Poin untuk Mempertahankan Ekosistem yang Sudah Ada

Foto: unsplash.com

Bukanlah rahasia lagi kalau gamer profesional  yang berpartisipasi dalam geliat eSports hari ini memang terdiri dari banyaknya pemuda. Ekosistem tersebut seakan menjadi basis bagi para anak-anak muda untuk memperlihatkan kapasitas dan jalur profesionalitasnya yang baru dari biasanya.

Hal itu dibuktikan oleh data yang dihimpun oleh Daily Social, yang mengungkapkan bahwa professional gamer yang masuk dalam ranah kompetisi eSports di Indonesia diisi oleh para muda-mudi dengan rata-rata usia 19-22 tahun.

Angka itu bahkan disisipi oleh gamer-gamer yang masih berstatus sebagai pelajar sekolah. Hal ini bisa jadi dilema untuk gamer yang masih berada dalam usia sekolah untuk memilih dua urusan yang muncul. Selain urusan mata pelajaran, mereka juga direpotkan oleh ketatnya urusan kompetisi.

Dua Pilihan Utama: Sekolah atau Karir

Foto: unsplash.com

Dua pilihan yang dihadapi para siswa yang kebetulan merambah dunia game secara profesional tentu menjadi persoalan. Sebenarnya, masalahnya tidak hanya berkutat pada urusan; antara sekolah atau karir, melainkan juga soal bayang-bayang regulasi yang mungkin akan muncul di masa mendatang.

Apabila diasumsikan, kita boleh menebak bahwa mereka terjebak dalam dua kepentingan yang sama pentingnya. Kepentingan pendidikan memang harus selalu menjadi penting. Namun, ranah karir juga ikut-ikutan tak mau kalah ketika mengiringan seseorang yang masih bersekolah.

Untungnya, berdarkan catatan Bada Pusat Statistik (BPS), seseorang dengan usia minimal 15 tahun sudah mulai termasuk dalam penduduk usia kerja. Takaiters juga tentu ngeh ‘kan, kalau umur segitu itu adalah usia siswa SMA yang sedang asyik-asyiknya sama kehidupan sekolah?

Tingginya Antusiasme Anak-Anak Muda

Foto: unsplash.com

Ekosistem eSports, disadari betul telah membawa celah profesi baru. Industri game yang menjadi tonggak utamanya berhasil memanggil perhatian banyak anak muda, baik untuk sekedar menjadi penikmat maupun yang ikut terjun langsung sebagai atlet olahraga elektronik ini.

Melihat fenomena yang ada, sejumlah tim eSport umumnya pun menyadari akan hal ini. Kendati belum bernaung dalam regulasi yang jelas, sejumlah tim umumnya menerapkan aturan yang mewajibkan pemain—masih berstatus pelajar—mereka untuk tidak serta-merta melupakan pengelolaan waktu antara belajar dan berlatih gaming.

Selain itu, kontrak kerja dan tunjangan berupa gaji layaknya karyawan juga menjadi bagian manajemen tim kepada setiap atletnya. Namun, masalah yang biasanya muncul sebagai persoalan adalah kebanyakan anak muda yang justru menggeser pendidikan dan lebih memprioritaskan perkembangan karir gaming-nya.

Akankah Angan-Angan Itu Muncul?

Foto: unspalsh.com

Walaupun ekosistem yang terbentuk terbilang masih menyisakan banyak tanda tanya, antusiasme tinggi dari generasi muda tetap juga datang. Padahal, iming-iming yang bertautan dengan dunia eSports—juga tidak melulu tentang soal menjadi atlet—sama sulitnya dengan lajur karir lainnya.

Prospek yang dijanjikan eSports memang bukanlah hal yang kecil untuk tidak membuat anak-anak muda jadi terlena. Dan, hal inilah yang semestinya mendorong pemerintah untuk melancarkan sosialisasi dan merancang ‘aturan main’-nya.

Standarisasi pun muncul sebagai topik bahasan para pegiat yang terlibat dalam keberlangsungan ekosistem eSports. Tidak cuma persoalan upah, aturan kontrak dan hal-hal profesional lainnya, standarisasi yang dimaksud juga mencakup batasan umur ideal seseorang untuk menjadi atlet pun turut menjadi konsentrasinya.

Ragam ‘Senjata’ Demi Sebuah Kelangsungan

Foto: m.techno.id

Terjadinya ekspansi dunia game ke perangkat mobile memang merupakan salah satu pemikat yang berhasil menggaet penggemar dalam jumlah besar. Hal ini tentu berdampak positif sebagai indikator kelangsungan eSports dalam mempresentasikan kesuksesannya.

Mulai dari keberagaman judul, genre, sampai perangkat game, merupakan main menu yang mendorong terbangunnya ekosistem eSports yang ada. Aktivasi industri dan potensi bisnis yang terbentuk juga semakin menguatkan posisinya dalam kerangka publik.

Fanbase dan elemen-elemen lain yang menjadi senjata adalah jejak-jejak yang bisa menjaganya tetap bertahan. Sayangnya, kelangsungan yang ditampilkan lebih cenderung bersifat jangka pendek. Hal ini dikarena persoalan regenerasi di tiap-tiap titik belum bisa disebut terjamin.

Masih Belum Sepenuhnya Diakui

Foto: pexels.com

Perlahan-lahan tetapi pasti, kelangsungan eSports boleh saja optimis dengan potensinya sendiri. Namun, selama ekosistem yang terbangun belum juga menemukan titik keseimbangan lewat adanya pondasi keberaturan, gelombang pesimistis turut mengimbanginya.

Polemik yang masih menghiasi perjalanan eSport sebagai ranah profesional, dianggap penting untuk terus diperjelas. Apakah susunan pola yang ada, bakal tetap disertai dengan iming-imingnya seperti saat ini?

Regulasi memang menjadi arah fundamental sebagai cerminan apakah eSports diakui atau tidak. Selama kejelasannya belum juga meyakinkan, berarti pengakuannya masih berbentuk parsial.

Buka Jalur Regenarasi di Bidang eSports

Foto: unsplash.com

Kalau memang ranah ini tepat dimanfaatkan sebagai lapangan kerja baru, pertanyaan tentang regenerasi demi kelangsungan eSports kemungkinan besar bakalan membentuk jaminan yang sedang bergaung; semakin kokoh kemudian.

Bagaimana kita bisa membicarakan regenerasi secara profesional, jika kejelasan regulasi dalam melihat eSports masih melulu abu-abu? Hal ini menjelma sebagai titik yang tidak boleh dilewatkan dengan cara pandang menyepelekan.

Jika kita memang serius ingin melihat fenomena ini sebagai peluang yang akan bertahan lama, persoalan regenarasi ialah hal penting untuk dibahas. Lajur untuk mengakomodasi kedatangan generasi-generasi baru untuk masa depan industri eSports merupakan salah satu opsi, lo.

Apabila ekosistem yang ada nantinya menyuguhkan kejelasan, baik status maupun regulasi, calon-calon generasi tersebut diharapkan tidak ragu lagi memilih ranah ini sebagai petualangan mereka selanjutnya—selepas urusan pendidikannya usai.

Ngeh ‘kan, maksudnya? Jadi, menurut Takaiters sendiri, bagaimana?