Hola, Takaiters!

Bicara soal eSports agaknya memang masih diganjal oleh anggapan negatif. Anggapan itu muncul walaupun gelaran kompetisi eSports sudah semakin menggeliat hari ini. Semacam ada ketidakpuasan yang menciptakan gelombang penolakan terhadap geliatnya ekosistem eSports hari ini.

Kendati ekosistemnya masih berada dalam perdebatan antara: apakah eSports itu layak disebut sebagai olahraga atau bukan, kita tentu bisa melihat bagaimana ranah ‘baru’ ini sebenarnya memiliki potensi yang besar. Atlet-atlet yang bernaung dalam ekosistem yang sama pun ikut terjebak dalam dilema.

Selain karena belum adanya pengakuan dalam konstruksi sosial yang ada dalam kehidupan masyarakat, posisi para pemain baik yang bermain game untuk sekadar mencari hiburan maupun mengincar karir professional, ada sejumlah elemen lain yang membuat ekosistem eSports masih terus berpapasan dengan rintangan.

Status Profesional Para Atlet eSports

Gamer, antara hiburan atau karir profesional
Bermain game. Foto: Pixabay.com

Dalam ranah olahraga elektronik (eSports) yang tengah menggeliat pesat, gamer tentu menjadi kunci utamanya. Namun, gamer profesional yang akhirnya memilih terjun langsung sebagai kunci dalam ekosistem yang ada.

Berbeda dengan negara-negara lain yang sudah lebih dulu memapankan dirinya, Indonesia nampaknya masih perlu terus berbenah jika memang ingin benar-benar merespon dan antusias dengan potensi dari industri game beserta eSports-nya.

Salah satu garis besar yang perlu diperhatikan saat ini adalah bagaimana status atlet eSports hari ini dipandang. Pasalnya, hal ini memang menjadi salah satu faktor yang membuat ekosistemnya—meskipun tengah berkemang pesat—berada di titik yang kehilangan keseimbangan.

Pengakuan Hukum yang Belum Jelas

Ketidakpastian karir gamer di mata hukum
Gamer dan Ketidakpastiannya. Foto: Pixabay.com

Apabila para atlet atau gamer profesional yang masuk dalam ekosistem industri eSports, sudah barang tentu ada baiknya jika fenomena ini ikut menjadi perhatian. Hal ini juga lah yang dihipun dalam sisi dilematis yang sudah di bahas sebelumnya.

Kita boleh saja menyebut jika peluang dan jenjang karir dalam dunia eSports, khususnya pemain atau atlet, sangat terhampar lebar. Namun, standarisasi yang masih belum juga nampak genah jadi tantangan lain para atlet, selain masalah kapasitasnya sebagai gamer.

Ketidakpastian hukum yang membayangi ekosistem tersebut juga jadi persoalan pelik. Variabel standarisasi yang dimaksud sebenarnya termasuk dalam bagaimana para atlet gaming dilihat dari kacamata hukum.

Jejak Rekam Eksistensi eSports

Rekam jejak kompetisi game
Konsol game. Foto: Pexels.com

Status eSports sejatinya bukanlah yang baru lagi di dunia. Sebelum itu, kita perlu membedah definisi eSports sendiri terlebih dahulu. Dalam pengertian sederhananya, istilah tersebut dikenal sebagai acara kompetisi atau perlombaan dalam bermain game.

Apabila ditelisik ke belakang, Electronic Sports (e-Sports) mulai berangkat di era tahun 1970-an, walaupun terminologi itu belum semasif sekarang. Dengan kata lain, walaupun kata eSports belum bergema seperti sekarang, pada praktiknya ekosistemnya sudah muncul jauh sebelum geliatnya terlihat seperti saat ini.

Dihimpun dari beberapa sumber, cikal bakal kompetisi game di Indonesia mulai terlihat pada tahun 1999. Kompetisi tersebut diberi tajuk “Liga Game” yang mengakomodasikan sebuah perlombaan game berbasis online untuk—kalau boleh dibilang—pertama kalinya.

Game Online Berikan Jalan Lebar

Peluang karir sebagai gamer profesional
Game, sebuah jalan karir yang lebar. Foto: Unsplash.com

Semenjak popularitas game online meningkat pesat, kita bisa menyebut bahwa industri game ikut dihantarkan ke posisi puncak. Sebelum adanya game-game seperti Mobile Legend, Arena of Valor, PUBG, sampai Fortnite Battle, industri sempat menemukan masa keemasannya lewat kepopuleran game DotA dan Counter Strike pada awal tahun 2000-an silam.

Kemunculan game yang ‘menuntut’ koneksi jaringan internet (game online) pun turut menciptakan jalan lebar bagi industri game sehingga memunculkan terma baru. Istilah eSports akhirnya dimunculkan untuk ikut serta mendorong kedigdayaan game dalam menyentuh pasar.

Nyatanya, seiring dengan industri game yang kian mengakar, potensi eSports untuk menciptakan taring bisnisnya terlihat. Pangsa pasar industri ini tidak melulu beririsan pada sisi jumlah pengguna, termasuk gamer profesional.

eSports Gaet Komunitas dalam Jumlah Besar

Ekosistem eSports turut disokong oleh basis penggemarnya
Fanbase besar jadi penyokong ekosistem eSports. Foto: Unsplash.com

Keterbukaan era, dan dinamika yang muncul menjadikan game dalam kemasan eSports seakan menciptakan pola ekspansi besar. Menurut data yang dihimpun Kumparan, ekosistem eSports berhasil menghimpun 292 juta orang untuk terlibat di dalamnya.

Angka tersebut merupakan jumlah yang dihimpun pada tahun 2016. Melihat euforia komunitas game di dunia yang terus menanjak, angka tersebut diprediksi akan kembali meningkat mencapai 427 juta di sepanjang tahun 2019 ini.

Fakta yang mencengangkan itu menjelma sebagai poros untuk mengukuhkan bahwa eSport sendiri berhasil menggaet atau menciptakan komunitas pasar dalam jumlah yang besar. Hal ini tidak serta merta dibentuk oleh antusiasme para gamer untuk ikut sebagai peserta kompetisi, melainkan juga disokong oleh jumlah penonton atau fanbase yang tersebar di seantero bumi.

Geliat Digdaya Bikin Standarisasi Jadi Penting

Atlet eSports perlu memahami kontraknya bersama tim yang dibelanya.
Kontrak Perlu Jadi Perhatian. Foto: Pexels.com

Berdasarkan pada antusiasme dan big community yang akhirnya terbentuk, boleh dibilang ekosistemnya sebenarnya telah mendapatkan pengakuan sosial yang jangkauannya tidak kecil. Namun, arus pengakuan yang diterimanya sendiri masih terbilang jauh dari keberaturan.

Selama komunitas eSports masih tetap dibayangi oleh ketidakpastian hukum yang regulatif, poros dilematis akan selalu dihadapi oleh penggiatnya sendiri. Standarisasi jadi hal yang paling masuk akal untuk memayungi eksistensi yang secara kuantitas, semakin membengkak.

Pihak-pihak yang terkait—itupun kalau mereka merasakan desakan yang ada—sudah semestinya untuk melihat titik sebagai elemen yang penting. Salah satu ceruk standarisasi yang mendesak dalam ekosistem ini bisa mencakup gaji pemain, kontrak, sampai urusan sponsorship.

Persoalan yang Terlihat Sekaligus Dikeluhkan

Ekosistem eSports masih panen keluhan
Keluhan di balik kedigdayaan eSports. Foto: Unsplash.com

Walaupun ekosistem industri yang terlihat telah mendapatkan pengakuan dari banyaknya jaringan komunitasnya, legalitas eSports sendiri memang masih tetap berada di dalam ruang antara. Kepastiannya secara hukum masih di ambang yang abu-abu.

Sebagai contoh, eSports memang menjanjikan pendapatan bagi individu yang memilih terjun untuk terlibat dan menjadikan arena ini sebagai ladang penghasilan. Kendati sebagai pilihan karir profesional, persoalan ketidakpastian hukum ini bisa jadi jebakan tersendiri bagi mereka.

Dalam praktiknya, eSports memuncul tim-tim yang akan ikut serta dalam kompetisi. Individu-individu atau gamer sendiri akan memilih tim mana yang akan dibelanya. Apabila pola ini tidak dibantah sebagai suatu ranah yang profesional, akan sangat teratur jika sistematisasinya turut diatur oleh landasan regulasi yang sifatnya hitam dan putih.

Jalur Profesional yang Berbeda Jalan

Jalur Profesional eSports yang timbulkan tanda tanya
Jalur tempuh eSport yang berbeda. Foto: Unsplash.com

Tim-tim eSports memang sangat perlu untuk berada dalam jalur yang resmi diakui. Namun, langkah-langkah yang dilakukan justru berbanding terbalik. Mereka lebih mengikuti arahan investasi dan profitabilitas ketimbang memperhatikan setiap individu yang menjadi bagiannya.

Besaran gaji dan narasi kontrak, misalnya. Dua hal ini menjadi sejumlah persoalan yang seolah mengindikasikan entitas penyusun ekosistem eSports berada dalam jalur profesional yang sebenarnya berbeda.

Secara umum, belum ada yang tahu pasti seperti apa besaran gaji dan susunan kontrak pemain (atlet) di setiap tim. Selama belum ada aturan yang jelas, kebijakan tentu akan berporos pada manajemen tim itu sendiri. Dan, hal inilah menimbulkan banyak perbedaan dan bias di antara atlet yang satu dengan atlet yang lainnya.

Game Populer Adalah Tuhan eSports

Ekosistem kompetisi game masih bertuhan pada kepentingan bisnis
Hitungan Profit. Foto: Pexels.com

Faktor yang terlihat dari adanya fakta tersebut adalah: baik tim maupun atlet memiliki spesialisasi di masing-masing game. Artinya, kesuksesan karir mereka tidak selalu berbicara soal skill, tetapi juga dipengaruhi oleh kepopuleran judul game.

Adanya ketimpangan popularitas setiap game akan menentukan bagaiman ekosistem eSports berjalan. Mobile Legends, salah satu game yang memiliki basis penggemar yang besar saat ini, memiliki tingkat pengelolaan yang berbeda dari game yang popularitasnya mulai luntur dan ditinggalkan.

Peningkatan karir para atlet, secara tidak langsung, jadi ikut bergantung pada kesuksesan judul game yang menjadi spesialisasinya di pasaran. Pada akhirnya, eksklusivitas karir para atlet dan semua orang yang terlibat dalam ekosistem ini seakan menuhankan market value yang dimiliki masing-masing judul game yang ada.

Tidak Terkenal yang Cemburu

Geliat eSports timbulkan kecemburuan
Foto: Pexels.com

Alhasil, tidak semua judul game bisa menembus ekosistem eSports dan dibuatkan kompetisinya. Semakin terkenal sebuah game, semakin besar pula peluang mereka sukses sebagai atlet.

Sebaliknya, semakin lunturnya popularitas game, semakin kecil pula kesempatan yang akan didapatkan. Hal ini bisa menimbulkan tingkat kecemburuan di dalam ekosistem eSports sendiri.

Game-game yang tidak mendapatkan tempat dalam gelaran kompetisi, tentu tidak sejalan kepentingan industri yang dipraktikan oleh sebagian besar tim eSports. Tim-tim yang berpangku pada jangkauan game yang tidak lagi dilirik, membuatnya ‘dikucilkan’ oleh kepentingan sponsorship yang merupakan sumber utama penghasilannya.