Halo, Takaiters!

Untuk menjadi atlet nampaknya tidak sesulit apa yang dahulunya kita dengar. Salah satunya adalah menjadi seorang gamer profesional. Ya, di masa sekarang ini, kesempatan untuk meniti karir dalam dunia game kian terbuka lebar. Arena eSports adalah salah satunya.

Kita bahkan tinggal memilih spesialisasi mana yang akan difokuskan, apakah gim konsol sepert PlayStation (PS) atau Xbox, atau Personal Computer (PC)? Bahkan, kalaupun kita tidak memiliki dua jenis perangkat tersebut, ponsel genggam yang disebut smartphone pun bisa kita manfaatkan.

Melebarnya peluang profesional dalam dunia game ini memang tidak serta-merta muncul tanpa sebab. Ya, hampir semua orang akan sangat suka ketika ditawarkan bermain game. Dan, itu adalah salah satu dari sejumlah faktornya.

Kendati demikian, bukan cuma alasannya. Selain karena pesatnya industri game berkembang di era digital saat ini, kemunculan kompetisi-kompetisi game, baik berskala nasional maupun internasional turut menjadi pendorong utamanya.

Bikin Peluang Karir Bertambah

Peluang karir sebagai gamer
Game sebagai pilihan karir? Foto: Pexels.com

Faktor-faktor tadi bisa dibilang menjelmas sebagai akomodasi yang membentuk peluang tersebut meluber. Game yang awalnya semata-semata dibangun sebagai hiburan semata, kini mulai bergeliat dan beralih peran.

Tak hanya sebagai media untuk mengisi kekosongan waktu senggang, melainkan juga bisa menjadi pilihan karir seseorang. Menjadi profesi, dan memperoleh penghasilan dari dunia game. Pola yang terlihat seakan membuka peluang baru, yakni cabang profesi dari geliat industri game.

Profesi dalam dunia tersebut jadi bertambah seiring dengan mengakarnya posisi game dalam kehidupan kita. Sebelumnya, game mungkin dipandang sebagai sesuatu hal yang bersifat entertaint semata. Bahkan, pandangan itu seperti melulu mengarah pada konotasi yang negatif.

Karir dalam dunia game kini tidak melulu berada dalam kutub pembuat game atau game developer saja. Seorang pemain (gamer) pun bisa memperolah sejumlah pendapatan melalu aktivitasnya memainkan game.

Bercabangnya Sumber Penghasilan

penghasilan seorang gamer profesional
Gamer. Foto: Pixabay.com

Selain melahirkan cabang karir profesional, industri game dengan kepulan perkembangan teknologi, juga turut mempertemukan gamer bisa memilih sumber penghasilannya. Dengan kata lain, menjadi gamer profesional, kita bisa memilih mau dari mana penghasilan itu kita dapatkan.

Menjadi atlet eSport merupakan salah satu cabang penghasilan itu bersumber. Selain itu, kita juga bisa memilih cabang lainnya seperti menjadi seorang game reviewer, atau gaming streamer.

Hal ini menunjukkan kalau sumber penghasilan professional gamer itu sebenarnya juga bercabang. Lewat konstruksi yang telah terbangun dalam dunia game ini, kita boleh-boleh saja menganggap bahwa game memberikan sebuah harapan baru. Let say, lapangan kerja.

Kesenangan yang Menghasilkan?

eSports sebagai pilihan dalam menghasilkan pendapatan
Game Multiplayer. Foto: Pixabay.com

Kedengarannya memang asyik, siapa yang tak mau sumber kesenangan itu bisa berperan sekaligus sebagai sumber pendapatan? Apabila dibedah sedikit, hal-hal yang mulai masuk dalam sisi profesionalitas kemungkinan tidak akan seterusnya menyenangkan.

Untuk menjadi gamer professional, kita jelas tetap perlu dengan apa yang disebut: ketekunan serius. Rajin berlatih jadi salah satu hal yang wajib. Untuk menjadi gaming streamer atau Youtuber gaming, kita perlu jaringan viewers dengan jumlah viewers yang banyak, dan untuk mencapai itu tidak mudah.

Tiap cabang karir seorang gamer memang punya tantangannya sendiri. Belum lagi untuk mempertahankan konsistensi ketika sudah mencapai posisi yang diinginkan. Jangan lupa juga soal kompetitor yang berada dalam ranah yang sama.

Seorang atlet eSports misalnya, aksi mereka akan diakomodasi oleh keberadaan kompetisi game. Hadiah sebagai juara merupakan salah satu target pencapaiannya. Namun, yang namanya kompetisi, ya, jelas harus bersaing dengan atlet-atlet lainnya, bukan? Artinya, bermain untuk tidak main-main.

Anggapan Umum Jadi Tantangan Tersendiri

game berbasis teknologi virtual reality
Game dalam sajian VR. Foto: Pixabay.com

Selain tantangan-tantangan yang bersifat khusus tadi, gamer profesional tampaknya masih perlu berhadapan dengan tantangan umum yang ada. Bagi sebagian masyarakat, game masih dipandang sebagai kegiatan yang nir-manfaat.

Game dalam koridor profesional nampaknya memang masih dalam pusaran perdebatan. Ada banyak pro-kontra terkait persoalan bagaimana status game ini seharusnya dilihat. Pihak yang pro, menilai bahwa game sah-saha saja untuk merubah dirinya sebagai jalur karir sehingga bisa mendatangkan manfaat.

Manfaat yang dimaksudkan sendiri tidak hanya berkutat pada materi saja, tetapi juga pengaruh-pengaruh imateril, tak terkecuali mengasah otak. Salah satu alasannya adalah game terdiri dari banyak genre. Dari yang sederhana sampai yang rumit, sampai-sampai menguras otak pemainnya.

Alhasil, fenomena ini tidak serta-merta langsung diterima. Inilah yang menjadi agenda para praktisi game dalam meruntuhkan benteng penolakan tersebut. Melihat pesatnya perkembangan yang ada, anggapan negatif itu mulai bisa diperdebatkan perlahan-lahan.

Definisi eSports Masih Jadi Perdebatan

Olahraga dalam arena digital itu adalah esports
Olahraga? Foto: Pixabay.com

Anggapan game yang sama sekali tidak bermanfaat boleh jadi mulai berhasil dikonversi. Masyarakat, secara bertahap, mulai mengakui game sebagai salah wahana yang bisa diperhitungkan nilai manfaatnya.

Meski masih bersifat relatif, hal ini bisa menjadi acuan jika game tidak selalu buruk jika sang gamer mengerti soal proporsi. Nah, yang justru timbul adalah perdebatan tentang definisi eSports yang dilekatkan pada aktivitas bermain game.

Istilah tersebut sebenarnya lebih merujuk atau dimaksudkan sebagai tajuk dalam setiap kompetisi game yang mulai marak zaman ini. Namun, apakah benar jika istilah tersebut disandingkan dalam dunia game? Nah, itulah yang jadi bahan perdebatannya.

E-Sports sendiri terdiri dari dua susunan kata, yakni electronic dan sports. Dari sini, bisa disimpulkan jika definisinya adalah olahraga elektronik. Kata “elektronik” di sini mengacu pada sajian game yang bersifat digital.

Olahraga yang Memantik Perdebatan

Perdebatan definisi eSports
Catur. Foto: Pixabay

Sementara “sports” adalah olahraga. Nah, kata inilah yang menuai perdebatan. Di mana letak nilai olahraganya dalam bermain game? Inilah pertanyaan yang kerap muncul. Pasalnya, olahraga sendiri masih dilekatkan pada suatu kegiatan yang mengendalkan kemampuan fisik.

Apabila kita mengacu oada kamus Oxford, eSports diartikan sebagai kompetisi game yang bersifat kompetitif. Artinya, ada unsur perlombaan di dalamnya, sebagai syarat untuk aktivitas gaming bisa disebut olahraga. Namun, benarkah demikian?

Penolakan yang muncul berawal dari sebuah pertanyaan; “Di manakah unsur olahraga dalam bermain game itu?” Para praktisi yang sudah berpengalan dalam dunia game berpendapat bahwa gamer tetap dituntut untuk memiliki kondisi fisik serta mental yang prima, di luar dari skill-nya dalam bermain.

Game dipandang sebagai kegiatan yang membutuhkan tenaga dan kontrol pikiran manusia. Itu merupakan argumen yang sering dipresentasikan. “Ada ketangkasan dan kecepatan, itu merupakan unsur yang jelas,” ujar Helen Sarita, perwakilan Komite Olimpiade Indonesia (KOI), seperti dikutip melalui Kumparan.

Namun, sebelum kita berdebat soal eSports yang disandingkan dalam aktivitas gaming yang kompetitif dalam lomba, ada baiknya kita kembali melihat ‘olahraga’ catur yang sudah mendunia itu. Menurut Takaiters sendiri bagaimana?