Wa-wa-wa..! Itulah ungkapan salam khas Papua, khususnya di daerah pegunungan, Takaiters. Pulau berbentuk kepala burung di ujung timur Indonesia ini menyimpan beribu kekayaan yang tak pernah habis dikagumi.

Tak dipungkiri, pulau dengan julukan “Mutiara Hitam” ini tidak hanya memiliki keindahan alam yang termasyur hingga ke mancanegara, Guys, namun juga beragam tradisi unik yang hanya bisa kamu jumpai di sini.

Tradisi adalah kebiasaan yang dilakukan sejak lama yang kemudian menjadi identitas suatu kelompok atau suku tertentu. Banyak tradisi unik berasal dari papua, seperti perayaan perang yang semarak dan gegap gempita pada acara Festival Lembah Baliem. Ada pula tradisi Ararem yang menggunakan bendera merah putih saat mengantar mas kawin untuk acara pernikahan.

Selain itu ada pula tradisi ekstrim, unik, dan nyentrik yang bisa bikin kamu melongo sampai bergidik karena membuat bulu kuduk berdiri. Penasaran kan, Guys?

Tradisi Iki Palek, Tradisi Potong Ruas Jari Masyarakat Suku Dani

Tradisi Unik di Papua
Foto : unotv.com

Bagi masyarakat suku Dani yang berada di daerah Wamena, Papua, keluarga adalah segala-galanya. Jadi, ketika seorang anggota keluarga berpulang, ada tradisi untuk melambangkan kesedihan dan duka cita yang mendalam yang disebut tradisi Iki Palek.

Tradisi ini sangat ekstrim karena cara yang mereka gunakan untuk mengungkapkan rasa kehilangan adalah dengan memotong satu buku jari. Menurut mereka rasa sakit karena kehilangan buku jari tidak seberapa dibanding kehilangan anggota keluarga tercinta. Mengerikan tapi juga sangat menyentuh ya, Guys.

Tradisi ini lebih banyak dilakukan oleh wanita, biasanya para ibu atau wanita tertua dalam keluarga. Menjadi pemandangan yang lumrah bila kaum ibu disana hanya memiliki beberapa ruas jari saja. Setiap buku jari yang terputus melambangkan jumlah anggota keluarganya yang telah meninggal dunia.

Tak ada yang istimewa pada prosesi pemotongan jarinya, yang penting bisa putus, maka cara apapun boleh dilakukan. Ada yang menggunakan alat semacam kapak maupun pisau tradisional, tapi ada pula yang mengigit jarinya hingga putus. Bikin merinding kan, Guys? Tapi bagi mereka prosesi ini merupakan lambang kesetiaan pada adat serta tradisi dan tidak ada yang keberatan menjalaninya.

Tradisi Pemasangan Kulit Tifa Masyarakat Suku Kamoro

Foto : lahiya.com

Tifa adalah alat musik sejenis gendang yang berasal dari Papua. Bagi suku Kamoro yang berada di Kabupaten Timika, tifa selalu hadir dalam setiap upacara, perayaan, prosesi penting, bahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menari, memangkur sagu, membelah kayu, sampai mencari cacing tambelo dan banyak kegiatan lainnya dilakukan dalam iringan tabuhan tifa. Oleh karena itu, untuk pemasangan kulit tifa yang terbuat dari kulit biawak dilakukan dengan ritual khusus, yakni dengan menggunakan perekat berupa darah segar manusia. Serem juga ya, Guys.

Darah diambil langsung dari sayatan yang dibuat pada paha seorang laki-laki suku Kamoro. Pada sekeping cangkang kerang, darah segar yang mengucur ditampung kemudian dioleskan pada ujung tifa. Kulit yang telah disiapkan ditempelkan sambil ditarik kencang dan diikat menggunakan tali. Membayangkannya saja rasanya ikutan perih ya, Guys.

Kita bisa merasakan bahwa suku Kamoro masih menjaga tradisinya dengan baik. Bagi kita mungkin terlihat mengerikan, namun menilai pentingnya arti tifa dalam kehidupan sehari-hari suku Kamoro, ada baiknya kita turut menghormati budaya yang mereka lestarikan sampai saat ini.

Tradisi Merajah Tubuh oleh Suku Moi

Tradisi Unik di Papua
Foto : beyoung.co.id

Seni merajah tubuh tradisional ternyata tak hanya dimiliki suku Dayak di Kalimantan saja. Suku Moi yang berasal dari Kabupaten Sorong, Papua Barat juga melestarikan tradisi merajah tubuh sebagai bagian dari budayanya.Seni yang dilakukan oleh suku Moi ini dipercaya telah dimulai sejak zaman Neolitikum. Motif geometris, garis melingkar, serta titik-titik berbentuk segitiga kerucut berbaris adalah motif yang biasa digunakan suku Moi.

Alat yang digunakan untuk merajah tubuh pun bukan jarum, melainkan bahan yang bisa ditemukan di alam seperti duri pohon sagu atau tulang ikan. Zat pewarna yang digunakan pun tak kalah alami, yaitu arang halus atau getah pohon langsat. Biasanya mereka merajah tubuhnya di dada, pipi, kelopak mata, pinggul dan punggung.

Seiring dengan perkembangan zaman, arus globalisasi pun menyentuh suku Moi. Belakangan tradisi ini mulai ditinggalkan, generasi muda suku Moi sudah jarang yang merajah tubuhnya karena tuntutan etika dan norma yang berlaku umum di dunia kerja yang formal.

Bagaimana, Guys, ekstrim kan tradisi dari tanah Papua tersebut? Pastinya bikin kamu tambah bangga sama kebudayaan asli Indonesia yang sangat kaya. Betapa hebatnya mereka yang masih mempertahankan adat istiadatnya walaupun tampak mengerikan.

Bayangkan bagaimana rasanya kalau kamu bisa menyaksikan secara langsung prosesi menegangkan dari tradisi ekstrim tersebut? Luar biasa. Yuk, beranjak dari tempat duduk dan segera kita jelajahi kekayaan tanah Papua. Berangkat!