Hai, Takaiters!

Pernah dengar kesenian Sintren? Sintren atau juga dikenal dengan nama ‘laisan’ adalah kesenian yang berasal dari daerah pesisir utara Jawa Barat, antara lain Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan.

Kesenian tari tradisional ini lekat sekali dengan sejarah cinta antara Raden Sulandono dengan seorang gadis bernama Sulasih yang tidak disetujui oleh pihak ayah dari Raden Sulandono, yaitu Ki Bahurekso. Pada akhirnya, mereka kerap kali melakukan pertemuan gaib yang diatur oleh Dewi Rantamsari, dengan cara menyisipkan roh bidadari pada diri Sulasih yang mana roh tersebut dapat memanggil dan menjumpai Raden Sulandono yang sedang khusyuk bertapa dalam sebuah perjalanan spiritualnya.

Sejak saat itu, pertunjukan Sintren menjadi sebuah budaya dengan tarian khas yang memiliki unsur magis, dan terasa semakin meremangkan bulu kuduk Takaiters ketika menonton tarian tersebut. Lalu bagaimana, sih, tarian Sintren itu? Dari sisi mana unsur magisnya? Yuk, simak ulasannya berikut ini!

1. Pra-Pertunjukan, Tabuhan Gamelan Adalah Panggilan

Foto: youtube.com

Tarian Sintren tidak hanya dilakukan di atas panggung, Guys, namun juga bisa di tanah lapang. Ketika di suatu desa akan diadakan pertunjukan Sintren, selain kabar dari mulut ke mulut, malam harinya sekitar pukul sembilan ke atas, iring-iringan bunyi gamelan akan nyaring ditabuh. Fungsinya untuk memanggil masyarakat agar berkumpul menyaksikan pertunjukan Sintren tersebut. Bunyinya memang terdengar ‘manggil banget, Guys!

2. Dupa, Aroma Kemenyan dan Rapalan Mantra

Foto: kompasiana.com

Ketika masyarakat sudah berbondong-bondong dan berdesakan memenuhi tanah lapang tersebut, Sang Juru Kawih (Pawang Sintren) mulai menyalakan dupa dan membaca rapalan mantra sambil diiringi tabuhan orkestra gamelan yang semakin bersemangat. Ditambah dengan persiapan seorang gadis yang akan menjadi Sintren, ia diberi bekal seperangkat make-up standar dengan pakaian sintren lengkap. Seorang gadis yang didaulat menjadi penari Sintren harus perawan suci yang belum tersentuh laki-laki, itu menjadi syarat mutlak keberhasilan pertunjukan tersebut, Guys.

3. Roh Bidadari Siap Merasuki Tubuh Sintren

Foto: cirebon.co

Nah, Guys, ini adalah momen puncak yang mendebarkan. Di mana tubuh Sintren diikat kuat dari pundak hingga ujung kaki dengan ikatan simpul mati. Kemudian dimasukkan dalam sebuah kurungan besar yang diselubungi kain penutup. Ia hanya dibekali pakaian dan make-up yang tadi sudah dipersiapkan, ya, Guys.

Sementara itu, Sang Juru Kawih (Pawang Sintren) merapalkan mantra sambil mengelilingi kurungan tersebut. Ditambah dengan tembang khas Jawa Dermayonan (Jawa Indramayu) yang dinyanyikan oleh seorang sinden, menambah suasana magis yang membuat bulu roma meremang. Tidak berapa lama, jika kurungan sudah bergoyang-goyang, tandanya Sintren sudah siap untuk menari. Sang Juru Kawih mengangkat kurungan tersebut dan Sintren terduduk dalam keadaan sudah tidak terikat dan berpakaian indah ala perempuan Jawa, lengkap dengan kacamata hitamnya. Wah, ajaib, ya, Guys!

Foto : islam.co

Ketika Sintren menari, masyarakat banyak yang melemparnya dengan uang logam atau kertas sebagai bentuk partisipasi pertunjukan tersebut. Ajaibnya, jika terkena lemparan, Sintren akan pingsan seketika dan bangun menari lagi setelah diberi mantra oleh Juru Kawih.

Sintren biasanya diadakan di malam bulan purnama atau malam jumat kliwon. Selain bertujuan untuk menghibur masyarakat, sebagian orang mempercayai ini sebagai ritual tolak bala. Bagaimana menurut Takaiters sendiri? Berani menonton tarian Sintren di malam jumat kliwon?