Heiyo, Takaiters!

Apa kamu sudah menonton film DreadOut yang tayang perdananya dimulai pada 3 Januari kemarin? Setelah mendapat sukses dari jalur gim, DreadOut akhirnya resmi dikemas menjadi sebuah film berdurasi 1 jam 35 menit.

Para gamer yangs sudah akrab dengan versi gim DreadOut, jelas punya harapan dan cepat-cepat menyaksikan filmnya. Kimo Stambel yang cukup sukses dengan garapannya di The Night Comes for Us (TNCFU), dipercaya untuk meneruskan kesuksesan DreadOut ke dalam suguhan film.

Harapan para gamer tentu menjadi incaran. Namun, hal itu juga tampak sebagai beban berat. Apakah DreadOut versi film bisa semenegangkan sensasi dari gimnya? Sejumlah artis muda seperti Caitlin Halderman, Jefri Nichol, Marsha Aruan, Irsyadullah, Susan Sameh, dan Ciccio Manassero punya tugas memberikan itu.

Sebagaimana garapan penerus kesuksesan, DreadOut termasuk sebagai film yang digarap dengan niat yang nekad. Peralihan dari gim ke film bukanlah barang baru di dunia perfilman.

Namun, kenekatan inilah yang menarik jika kita menghubungkannya pada superioritas industri gim tanah air yang; ya, bisa dibilang belum begitu menakjubkan.

Film ini bercerita tentang sekelompok pelajar SMA yang mendapatkan popularitas di dunia maya. Demi mendapatkannya, mereka akhirnya memutuskan untuk ‘berkunjung’ ke sebuah tempat angker. Mereka juga merekam segala aktivitas kunjungan itu.

Dari awal, saya sendiri langsung mengira bahwa film ini akan mengikuti sentuhan-sentuhan yang tersaji dalam gim. Adegan pemanggilan arwah yang dilakukan sekumpulan anak muda sok pemberani dan kurang kerjaan merupakan porsi lugu dari film ini.

Film ini hampir terkesan dibuat sekedarnya. Mungkin akan sangat wajar ketika kita melihat gim DreadOut versi cover di film ini. Perlu saya akui juga kalau film ini tidak menyelami jauh alur cerita dalam gim yang memang bukan merupakan nilai jual.

Kebanyakan gamer tidak terlalu berfokus pada alur cerita dari gim yang dimainkan. DreadOut the Movie sudah seharusnya memahami hal ini. Kita, gamer, jelas lebih cenderung menginginkan sensasi bermain, bukan mendengar sebuah dongeng.

Gagal? Ya, filmnya tampak hanya menngganti kemasan saja, layaknya produk lama yang mengiklankan “kemasan baru”. Alih-alih menutup lubang-lubang yang ada di dalam alur cerita versi gimnya, DreadOut memaksakan kenekatan sebuah isi yang diulang.

Film yang bawa nekad game DreadOut ganti kemasan
Foto: DreadOut – Game

Kita bisa melihat ulang adegan Linda (Caitlin Halderman), sang tokoh utama yang mengusir hantu-hantu berparas nanggung dengan hanya menggunakan efek lampu flash dari gawai pintarnya. Ya, serupa dengan gim meskipun perbedaan yang terlihat justru datang dari sang aktris yang memerankan Linda.

Saya pun bertanya-tanya, kenapa film ini diangkat tanpa mengedepankan sebuah alur yang memiliki pondasi jelas? Harus dituliskan bahwa DreadOut versi film tidak benar-benar mengangkat DredOut layaknya sebuah film, melainkan hanya memerankan sebuah gim yang tidak untuk dimainkan.

Apa serunya sebuah gim kalo enggak buat dimainin—dikontrol sendiri—coba, Takaiters? Hmm… Tapi, kalau grafis dalam gim DreadOut kayak yang di filmya sih… ya, bagus! Gim dengan kualitas grafis mumpuni, jelas punya nilai tambah.

Sayang banget kalau nyatanya; filmnya cuma mengandalkan unsur di dalam gim. Sementara unsur lain di luar gimnya dimanfaatkan hanya sebagai ‘garnish’ yang kurang berpengaruh pada ‘cita rasa’.

Perlu diingat, gim dan film punya perbedaan yang kontras. Video Game mesti interaktif dan enak buat dimainin. Sementara film, harusnya ya… enak buat ditonton.

Keluar dari studio Bioskop setelah film usai, saya tetap saja merasa seperti baru selesai menonton sebuah ulasan gim melalui dimensi survival horror.