Hai, Takaiters!

Sebagai wanita yang bekerja, lembur adalah kata yang sedikit menjengkelkan untuk didengar. Bagaimana tidak, sebagai kaum hawa apalagi yang sudah berumah tangga dan memiliki anak, kebersamaan dengan keluarga akan terenggut paksa oleh satu kata yaitu “lembur”. Namun, di sisi lain sebagai pekerja memang dituntut untuk dapat menyelesaikan semua deadline tepat pada waktunya. Bahkan, terkadang tuntutan perusahaan atau instansi tempat bekerja mengharuskan pekerjanya untuk selalu siap menyelesaikan semua bentuk pekerjaan pada saat-saat yang tidak terduga.

So, apa yang membuat dilema bagi para pekerja dengan sering bekerja lembur? Simak, yuk, Guys, ulasannya?

Kehilangan Waktu Berharga dengan Keluarga

Tips menjaga quality time keluarga
Foto: unsplash.com

Sudah jelas, bekerja lembur akan banyak sekali mengurangi waktu berharga bersama keluarga tercinta. Jika normalnya bekerja memakan waktu kurang lebih 7—8 jam per hari, dengan bekerja lembur otomatis waktu yang dihabiskan di kantor atau perusahaan semakin lama bisa-bisa mencapai 10—12 jam waktu habis untuk bekerja.

Untuk jam normal bekerja saja, waktu yang tersisa dengan keluarga sudah sangat minim apalagi jika harus lembur. Kehilangan kebersamaan dengan keluarga jika terus menerus terjadi, maka akan mempengaruhi banyak hal dalam keluarga. Seperti, renggangnya hubungan dengan anggota keluarga, minimnya komunikasi, juga bisa berpengaruh pada psikologi anak dan perkembangan anak.

Pandangan Negatif Lingkungan Sekitar

Foto: morningtea.in

Bekerja lembur otomatis waktu pulangpun berubah. Jika biasa pulang kerja pada pukul 17.00 WIB bisa jadi karena lembur jam pulang menjadi pukul 20.00 atau 21.00 WIB. Mungkin bagi pekerja yang tinggal di kota besar hal itu tidak akan terlalu dipersoalkan, tetapi, bagi yang tinggal di daerah yang masih memiliki suasana pedesaan di mana masih terasa adanya kepedulian satu sama lain, maka masyarakat akan menyoroti warganya yang sering pulang lebih dari batas jam kerja normal. Apalagi jika yang bekerja lembur seorang wanita. Barangkali gunjingan demi gunjingan akan semakin sering didengar.

Pemicu Pertengkaran dalam Keluarga

Foto: pexels.com

Bagi para suami yang memahami betul pekerjaan istrinya pasti tidak akan mempermasalahkan jika istrinya harus lembur. Namun, tidak semua suami memiliki pemahaman yang sama akan pekerjaan istri-istri mereka. Sekali duakali mungkin para suami akan memahami, tetapi bagaimana jika lembur sering dilakukan oleh istri-istri mereka? Bisa jadi yang ada timbul persoalan baru, yaitu kecurigaan, pertengkaran, ketidakpercayaan dan ketidakharmonisan dalam rumah tangga.

Menimbulkan Mood yang Tidak Stabil

Foto: pexels.com

Mood wanita mudah sekali berubah apalgi jika kondisi dalam keadaan lelah. Jika keseringan lembur, maka stamina tubuh akan menurun. Menurunnya stamina tubuh pada wanita akan berpengaruh pada perubahan mood-nya. Jika tadinya mood bisa terkontrol dengan baik maka ketika tubuh dalam keadaan lelah maka emosi mudah meledak dan hasilnya adalah amarah yang tidak ada ujung pangkalnya. Jika hal ini dibiarkan terus-menerus maka emosi pun tidak akan terkontrol dan bisa menimbulkan stres.

Kesehatan Menurun

Foto: pexels.com

Keseringan lembur tanpa diimbangi dengan asupan gizi yang tinggi juga akan berpengaruh pada kesehatan tubuh. Kesehatan tubuh yang menurun drastis juga akan berpengaruh pada perubahan emosional. Namun, seringkali asupan gizi akan terabaikan manakala sudah dihadapkan pada pekerjaan yang menumpuk dan harus secepatnya diselesaikan. Untuk mengantisipasi hal tersebut sebaiknya prepare dari awal mengenai kondisi tubuh. Pastikan sarapan pagi dengan gizi yang cukup, makan siang tepat waktu, minum air mineral yang cukup karena akan lebih sering duduk saat bekerja, dan sediakan camilan yang bergizi untuk menemani lembur.

Takaiters, ada benarnya jika keseringan lembur akan mempengaruhi mentalitas pekerja wanita. Untuk itu persiapkan mental, fisik, dan komunikasikan dengan keluarga jika pekerjaan kamu memiliki intensitas lembur yang cukup tinggi. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga dari kemungkinan-kemungkinan buruk yang tidak diharapkan terjadi.