Loha, Takaiters!

Bagi suku Batak Karo, cimpa bukanlah hal asing, kue ini sering dihidangkan di berbagai acara. Mungkin, beberapa dari kita belum mengenal makanan khas Sumatera Utara ini. Rasanya yang manis dan gurih menjadi ciri khas tersendiri tanpa meninggalkan Filosofi yang terkandung dalam pembuatannya. Nah, mau tahu fakta yang terkandung pada kue cimpa ini? Yuk, keep reading, Guys.

1. Terdiri dari Beberapa Macam

Image result for Cimpa batak
Foto: sobatpertiwi.blogspot.com

Pada umumnya masyarakat hanya mengenal satu jenis cimpa, yaitu cimpa unung-unung. Hal ini terjadi karena cimpa jenis ini kerap disajikan pada acara suku Karo. Cimpa unung-unung terdiri dari beras ketan, gula merah, dan isi parutan kelapa.

Selain cimpa unung-unung, ada beberapa jenis cimpa, seperti cimpa tuang yang dimasak dengan cara digoreng, cimpa matah yang hanya dicampur beberapa bahan tanpa perlu dimasak, cimpa bohan yang dimasak menggunakan bambu, dan cimpa gulame yang dibentuk seperti bubur. Semua cimpa tersebut menggunakan bahan yang sama hanya saja cara penyajiannya yang berbeda.

2. Menjadi Hidangan Setiap Acara Adat Suku Batak Karo

Image result for Cimpa batak
Foto: IDN Times

Sejatinya, cimpa dihidangkan saat Merdang Merdem atau pesta panen khas suku Batak Karo. Cimpa biasa dihidangkan saat hari keenam Merdang Merdem. Namun, sejak pergeseran zaman, Merdang Merdem dipersingkat menjadi dua hari saja. Makanan ini sudah bisa dihidangkan di hari pertama.

Selain Merdang Merdem, ada beberapa acara adat yang juga menyajikan cimpa, seperti musyawarah atau perpulungan, pernikahan, dan acara adat kematian. Tidak hanya pada saat acara adat, cimpa juga bisa disajikan sebagai camilan, seperti cimpa matah dan gulame yang jarang dihidangkan pada saat acara adat suku Batak Karo.

3. Cara Membuatnya Terbilang Mudah

Mengenal Cimpa, Kue Manis Menggugah Selera Khas Suku Batak Karo
Foto: IDN Times

Cimpa terbuat dari bahan yang tidak asing bagi kita. Cimpa unung-unung cara membuatnya hampir sama seperti kue naga sari dan juga dapat dibungkus dengan daun singkong yang sangat kaya di daerah suku Batak Karo. Hanya saja, bahan yang digunakan berbeda.

Sama seperti cimpa yang lain seperti cimpa tuang yang dibentuk seperti pan cake, cimpa matah yang hanya dicampurkan beberapa bahan tanpa perlu dimasak, cimpa bohan yang dibentuk sama seperti lamang (makanan khas pembakaran bambu di Sumatera Barat), dan cimpa gulame yang dimasak seperti bubur sum-sum.

Pembuatan cimpa ini bisa dilakukan oleh semua orang tanpa mengenal latar belakang pembuatnya.

4. Bertahan Hingga Seminggu

Image result for Cimpa batak
Foto: IDN Times

Hal paling menonjol dari cimpa dibanding dengan kue lain, yaitu tahan lama. Proses pembuatan cimpa, dimasak sampai benar-benar kering dan kenyal. Semakin kering dan kenyal, cimpa akan semakin lama daya tahannya.

Ini sangat berguna agar dapat dinikmati kembali saat saudara kembali ke asalnya ataupun sebagai buah tangan. Meski begitu, cara menyimpannya pun sangat berpengaruh pada kualitas cimpa. Simpanlah cimpa di suhu yang sejuk dan jauh dari penyebab makanan cepat basi.

5. Tidak ada Filosofi Khusus dan Selalu Menjadi Makanan Favorit

Image result for Cimpa batak
Foto: JPNN.com

Keberadaan cimpa sebenarnya tidak memiliki Filosofi khusus. Namun, rasa dan cara pembuatannya memiliki ajaran hidup yang sangat berarti. Rasa manis pada cimpa memberikan arti hidup untuk selalu bersuka cita. Sedangkan cara pembuatan mengajarkan untuk berbagi kepada sesama.

Jadi, jangan heran jika tuan rumah selalu senang jika kamu sebagai tamu mau memakan cimpa dan membawanya sebagai oleh-oleh yang akan dimakan kembali atau diberikan kepada orang lain.

Nah, Guys, itulah beberapa fakta menarik yang terdapat di cimpa. Dari fakta di atas kita bisa lebih mengenal makan yang berasal dari Berastagi, daerah yang dikenal dengan udaranya yang sejuk.