*Artikel ini merupakan kontribusi ekslusif dari Dewi Anggrayni (Kontributor Takaitu.com di Malaysia)

“Berlatar belakang keluarga sederhana di Blitar, Jawa Timur, tentu tempe adalah makanan favorit saya. Apalagi kalau sudah bersanding dengan nasi pecel. Rasanya tuntas. Lidah puas, kantong pas. Namun kini lidah dan kantong tidak bisa seakur dulu,” demikian pengakuan Rosyid mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Welington.

Harga tempe yang menggila di perantauan membuat Rosyid hilang kesempatan makan tempe setiap hari. Itu yang dirasakannya sebelum menjadi seorang penjual tempe di Wellington, New Zealand.

Konsumen tempe di New Zealand memang terbatas. Sebagian besar orang-orang yang vegetarian saja yang makan tempe. Dan dengan harga yang selangit sudah pasti bukan menjadi makanan orang susah, bukan pula anak kos yang kehabisan uang saku diakhir bulan.

Proses pembuatannya yang memakan waktu lama menjadi salah satu alasan melangitnya harga tempe. Alasan ini juga yang membuat Rosyid ingin belajar membuat tempe. Sehingga awal liburan musim panas, akhir tahun 2016, Ia memutuskan untuk berkunjung ke tempat temannya di Auckland dan menggunakan waktu luang dengan membuat tempe.

Liburan musim panas, awal tahun 2017 Rosyid memberanikan diri untuk membuat tempe sendiri. Penuh perjuangan untuk mendapatkan tempe yang lezat. Pengakuannya memang tidak gampang menghasilkan tempe seperti di tukang sayur langganan di tanah air.

“Saya harus merendam kedelai hampir semalaman penuh, lalu kedelai direbus sambil diaduk selama 30 menit agar busa rebusan bisa meluap. Setelah itu ditiriskan dan didinginkan. Setelah dua jam suhu tempe dingin, proses selanjutnya adalah menaburkan ragi. Lalu tempe siap dikemas dengan berbagai ukuran sesuai selera,” jelas Rosyid.

Tahap selanjutnya selama kurang lebih dua hari didiamkan barulah tempe sempurna proses fermentasinya dan tempe siap dipasarkan.

Pengakuan Rosyid, tempe pertamanya gagal total! Tempe busuk dan alhasil satu kilogram kedelai harus dibuang, percobaan kesepuluh baru menuai hasil yang bagus. Lama dan ribetnya proses pembuatan tempe ini membuat Rosyid berpikir, betapa selama ini makan tempe secara ‘taken for granted’. Tempe ada ya karena ada saja. Tidak memikirkan dulunya bahwa proses pembuatan tempe yang putih dan harum melewati proses dan kerja keras yang panjang.

Pilihan Editor

Tempe kampung hasil karya Rosyid pertama dibagikan kepada mahasiswa Indonesia yang ada Wellington. Menurut testimoni mereka, tempe yang selama ini mereka nikmati di Wellington rasanya pahit dan memiliki tekstur yang berbeda dengan tempe buatan Rosyid. Menurut mereka, tempe buatan Rosyid adalah khas lidah indonesia, jauh lebih baik daripada tempe di supermarket.

Peristiwa inilah yang menjadi alasan kuat Rosyid mulai memproduksi tempe secara rutin dua hari sekali dan memasarkan tempe tersebut kepada masyarakat Indonesia di Welington. Pengakuannya satu kilogram kedelai bisa membuat dua kilogram tempe.

Tempe Rosyid mulai digemari mahasiswa dan juga masyarakat Indonesia di Wellington. Rosyid pun mulai membuat Fanspage “Indonesian Tempeh in Wellington” di Facebook. Secara tidak langsung Rosyid berusaha memperkenalkan tempe pada masyarakat, mulai dari bagaimana mengolahnya dan cara mendapatkannya. Harga 500 gram tempe adalah 8$ sedangkan 250 gram 4$. Harga ini lebih miring dibandingkan harga supermarket. Rosyid optimis bahwa tempe akan menjadi primadona di Welington dan New Zealand.

“Saya tidak pernah berpikir kalau akan membuat tempe sambal kuliah di Wellington. Namun bagaimanapun juga, ini bagian dari perjalanan saya belajar di negeri The Hobbit ini, yang perlu saya nikmati. Alhamdulillah kuliah saya tidak terganggu dengan pembuatan tempe ini,” ujar Rosyid saat dihubungi oleh Dewi Anggrayni, Kontributor Takaitu.com

Nah, itulah setitik kisah tempe di Welington yang dapat menjadi pelajaran berharga, bahwa hal yang dipandang kecil di sekeliling kita bisa jadi menjadi nilai yang tinggi di tempat lain. Banyaklah bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini ?