Hai Takaiters!

Ada banyak cerita menarik dibalik sejarah tokoh dunia. Cerita yang kadang jarang diketahui orang. Mungkin karena luput di catat dalam buku sejarah atau karena saking kontroversialnya. Selain itu, bisa juga karena dirahasiakan atau karena peristiwa itu dianggap sepele, tidak penting.

Seperti kisah tentang Napoleon Bonaparte, jenderal sekaligus diktator terkenal Perancis. Dikutip dari buku,”Fakta-Fakta Dunia yang Paling Dirahasiakan,” yang ditulis Rina Suprabandari dkk (2012), dikisahkan pada 1799, Napoleon terlibat dalam perang di kawasan Timur Tengah. Perang yang dikobarkan untuk meluaskan jazirah kekuasaannya.

Foto: ceknricek.com

Lawan Bonaparte ketika itu adalah Turki. Nah, dalam satu peperangan di Timur Tengah, pasukan Bonaparte berhasil menawan 1.200 tentara Turki. Satu waktu, Napoleon Bonaparte datang ke Timur Tengah untuk menginspeksi pasukannya. Ketika itu kondisi kesehatan sang jenderal sedang tak begitu baik. Napoleon tengah batuk-batuk.

Ketika Napoleon Bonaparte memeriksa pasukannya, ia tidak henti batuk-batuk. Saking terganggunya oleh batuk yang diderita, Napoleon sampai mengeluarkan umpatan.  “Ma sacre toux.” Begitu Napoleon mengumpat.

Foto: www.nationalgeographic.com

Umpatan Napoleon itu artinya batuk sialan. Nah, saat Napoleon mengumpat itu, dia tengah didampingi seorang perwira pendamping. Sang perwira mendengar umpatan Napoleon. Namun, ia salah menangkap umpatan Napoleon. Ia pikir, umpatan Napoleon adalah sebuah perintah yang harus dilaksanakan karena yang didengarnya bukan “Ma sacre toux (batuk sialan)” tetapi Massacrez Tous (Bunuh semua).”

Foto: kompas.com

Maka, setelah Napoleon pergi, si perwira itu langsung melaksanakan apa yang didengarnya yang ia kira itu adalah perintah dari bosnya. Tragedi pun terjadi. Sebanyak 1.200 tentara Turki itu dihabisi. Banjir darah tak terhindarkan akibat salah dengar si perwira. Sungguh, peristiwa kelam yang sangat disayangkan.

Tapi begitulah yang terjadi. Napoleon adalah seorang diktator. Apa yang dikatakannya adalah sebuah perintah yang tidak bisa ditawar alias wajib dilaksanakan. Seperti yang terjadi di Timur Tengah itu. Umpatan kepada penyakit batuk disalah artikan sebagai perintah eksekusi tahanan.

Bagi si perwira, tak ada jalan lain, ia harus melaksanakan apa yang didengar dari mulut pemimpinnya. Jika tidak, sama saja itu bentuk pembangkangan yang konsekuensinya bisa berat. Bisa berujung hukuman mati karena melawan titah raja.  Terlebih saat itu dalam suasana perang. Menghabisi tawanan menjadi cerita yang lumrah terjadi.