Spoiler Alert, Takaiters!

Belum kita menikmati lanjutan cerita teranyar Transformer edisi 2017 kemarin, penggemarnya, mau suka tidak suka tampaknya harus duduk di ‘ruang tunggu’ terlebih dahulu. Pasalnya, bukan lanjutan yang ditampilkan waralaba tersebut, melainkan sebuah edisi spin-off yang mengedepankan salah satu anggota autobot, Bumblebee sebagai sosok utama dalam film yang berjudul sama.

Indonesia sendiri mendapat jatah perilisian film Bumblebee pada 19 Desember kemarin. Ada kecurigaan bahwa film ini merupakan garapan yang diproyeksikan sebagai pengobat kekecewaan pada Transformer: The Last Knight tahun lalu. Dan, wajar saja jika kita tidak melihat seorang Cade Yeager yang diperankan Mark Wahlberg dalam film ini.

Bumblebee boleh saja dibilang mendobrak pakem lama Transformers yang makin-makin lama makin flat saja. Michael Bay tampaknya memang harus istirahat sejenak sebelum kembali dengan era baru Transformers. Siapa tahu, nanti tren performa yang terus-terusan anjlok kemarin bisa berganti nasib.

Selama rehatnya Transformers, Paramount Pictures menunjuk Travis Knight untuk mengarahi adegan demi adegan yang diperankan Hailee Steinfield dan kawan-kawan di film ini. Spin-off yang berlatar masa lalu era 1980-an ini memang tampak segar sebagai undangan memanggil ‘penikmat’ film Transformers untuk kembali duduk tenang.

Kegundahan adalah awal takdir Bumblebee bertemu seorang remaja bernama Charlie Watson (Hailee Steinfield). Di sisi yang lain, Dylan O’Brien yang berperan dalam diri Bumblebee mendarat darurat ke bumi setela melarikan diri dari perang Cybertron. Dalam bentuk VW Beetle lawas, Charlie yang doyan ngutak-ngatik mobil tidak sengaja membawa jelmaan Bumblebee itu pulang ke rumah.

Dua makhluk berbeda ini gundah dengan alasannya sendiri-sendiri. Plot dibuat lebih humanis dalam film ini. Adegan peluk-pelukan melankolis menjadi senjata yang bikin kita sejenak melupakan serial Transformers. Itu pula yang menjadikan film ini keluar dari kebiasaan lama yang penuh ledakan tempur.

Sisi emosional tersuguh apik berkat pemilihan seorang gadis remaja sebagai sosok central bersama Autobot kuning itu. Meskipun begitu, semuanya tampak proposional, sehingga enggak melupakan genre awalnya, yakni: action – sci-fi. Semua sisi pemanis dalam film ini cukup berhasil membuat variasi dalam jejak rekam Transformers selama ini. Menarik melihat Bumblebee beradaptasi dengan situasi kehidupan bumi bersama ‘pemilik’ barunya.

Hal baik lain yang bisa diterima, adalah sisi visual yang tampak adil buat semua karakter robot yang ditampakkan. Semua tampak natural sesuai latar waktu yang digunakan. Itu terbukti dengan Dropkick (Justin Theroux) dan Shatter (Angela Basset) yang merupakan tim Decepticon, tampil klasik. Scoring pun menambah kesan lebih kalem pada film yang berdurasi 113 menit ini.

Dari keseluruhan Bumblebee dan Charlie, yang juga ditemani Memo (Jorge Lendeborg) dalam menghindari kejaran decepticon dalam cerita, sayangnya saya belum puas mengetahui siapa Bumblee lebih jauh. Entah, Christina Hodson, si penulis naskahnya terkesan mengafirmasi para penggemar karakter Bumblebee ini. Bumblebee terasa dominan unjuk kekuatan hingga membuat dampak besar buat posisi Optimus Prime di serial lanjutan Transformers nanti.

Satu lagi, saya memilih tidak berkomentar soal John Cena yang berperan sebagai Agent Burns. Mungkin semua karena saya pribadi yang masih belum berhasil melepas residual-residual aktor tersebut sebagai pegulat WWE.

Ya, anggap saja John Cena tengah pemanasan sebelum akhirnya, pasca film ini, ikut melejitkan ‘karir’ masing-masing. Persis, Bumblebee yang menjadi representasi para Transformers, bahwa mereka belum habis.