Heiyo, Takaiters!

K-Pop telah menjelma sebagai industri hiburan besar. Namun, yang namanya popularitas pasti enggak lepas dari ‘musuh’. Semakin tinggi pohon, semakin kuat pula hembus angin yang menggoyahkannya.

Ketenarannya telah berhasil menggoncang industri musik dunia. Ngomong-ngomong soal K-Pop, tentu tidak cuma bicara soal jumlah fans dan para simpatisannya, fenomena K-Pop turut perlu dilihat dari sisi haters dan para kritikus yang mengiringinya, termasuk di Indonesia.

Demam K-Pop telah mengalami diversifikasi yang begitu pesat. Dalam praktiknya, K-Pop berhasil menggurita ke bentuk-bentuk pop culture yang punya nilai akseptabilitas tinggi. Bau K-Pop bisa diasosiasikan pada musik, fashion, hingga ke gaya hidup para musisinya.

Indonesia punya andil menciptakan wadah lewat para K-Popers untuk menghidupkan merk industri asal Korea Selatan tersebut. Tapi balik lagi, sebagian masyarakat kita juga bukan fans K-Pop. Levelnya bahkan bisa disegmentasikan mulai dari fans fanatik, pengkritik, hingga haters garis keras sekalipun.

Beberapa waktu lalu, gerakan “Anti K-Pop” kembali unjuk gigi. Adalah Blackpink yang menjadi sasarannya. Grup idol girlband K-Pop tersebut akhirnya dapat giliran lewat hantaman petisi penolakan tayangan iklan yang mereka bintangi. Celana yang kependekan memang mencolok sebagai arus yang mengundang kembalinya momentum.

Berkat petisi dari seorang netizen di situs Change.org ini, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) akhirnya resmi membuat larangan penayangan iklan tersebut di 11 channel televisi nasional pada 11 Desember tahun lalu. Alasannya memang khas KPI banget—persoalan wardrobe ‘pas-pasan’ yang dinilai mengumbar-umbar aurat. Maklum saja, namanya juga komodofikasi industri media.

Isi petisi tersebut sebenarnya tidak langsung menyinggung Blackpink supaya pensiun dini, melainkan untuk memboikot iklannya, lantaran dianggap membawa pengaruh negatif. Terlebih penayangannya ada di sela-sela program anak-anak.

Mirip-Mirip

Black Pink, simbol kedigdayaan K-Pop
Foto: BlackPink/Redbuble

Tapi, kalau kita lihat komposisi yang selama ini disuguhkan K-Pop secara umum, protes yang dilayangkan seakan mengarah langsung pada semua hal yang terasosiasi pada industri hiburan yang (masih) dimonopoli oleh Negeri Ginseng tersebut.

Enggak tinggal diam, petisi tandingan pun datang di situs yang sama. “Menolak Pemboikotan Iklan Sh*p*e Blackpink” adalah tajuk yang dibawa dengan landasan argumen soal sinetron Indonesia yang justru (lebih) wajib dihentikan.

Anehnya, justifikasinya justru mirip-mirip, yakni: karena punya dampak buruk bagi penerus bangsa Indonesia.

Dua perdebatan dari polaritas ini benar-benar membingungkan. Kalau pun keduanya digabungkan, persatuannya bukannya hanya mengusir K-Pop dari layar kaca, tapi justru menggeser televisi sebagai puncak rantai konsumsi hiburan sekaligus.

Walaupun alasan yang lebih ‘layak’ pasti turut serta dalam barisan, “Boikot Televisi” adalah kesimpulan dari dua arus alasan utamanya. Hal itu adalah ancaman tegas untuk merubah wajah televisi supaya lebih niat, antara mau merusak moral atau meningkatkan moralitas.

Posisi Tawar

Iklan Blackpink yang tuai polemik
Foto: BlackPink

Pertarungan petisi ini perlu transparan. Apa sih yang diperjuangkan, sebenarnya? Kualitas tontonan atau eksistensi ideologi? Kepentingan apa yang dibawa antara front pembela dan front pembeci K-pop ini?

KPI, termasuk juga si pembuat petisi “Hentikan Iklan Blackpink Sh*p*e”, sebelumnya memang perlu mempersiapkan diri lebih dulu buat dipetisi balik. Siapa lagi kalau bukan para fans K-Pop tanah air. Lebih parahnya lagi, bisa saja semua fans K-Pop di seluruh bumi yang, menurut data tahun 2015 dari Korea Foundation, mencapai 35 juta orang.

Tentu kita paham soal alasan “pakaian kurang bahan sampai ekspresi yang aduhai”. Sayangnya, orasi yang digunakan bukan cuma menantang moral personal tapi juga moralitas industri hiburan yang seringkali bias dan berbelok ke arah benarnya sendiri. Plus, terstruktur pula.

Kalaupun dibanding-bandingkan, pertarungan petisi “boikot vs tolak boikot” ini masih jauh dari kata berimbang. Petisi boikot perlu suntikan pendukung yang lebih banyak, lebih vokal, lebih berefek dan lebih-lebih terstruktur lagi. Posisi tawar perlu naik level dalam hal ini.

Meskipun narasi penolakan yang dibawa punya nilai, kalau cuma boikot-boikot yang sifatnya impulsif alakadarnya ya, gimana ya? Jejak rekam aksi boikot-boikotan kita sendiri nggak semulus paha musisi K-Pop. Rata-rata terganjal di tengah jalan karena kalah perang persepsi—dalam memfaktakan fakta fatwa.

Manuver Selera

Iklan Shoppee Undang Boikot dari situs change.org
Foto: Lisa – BlackPink

Ngomong-ngomong soal Blackpink, grup idol K-Pop itu terus menjadi trending topic di berbagai platform media sosial, terutama sejak penampilan perdananya di Indonesia November lalu. Bahkan, merekapun terbilang sukses menarik perhatian sejak debut manggung pertamanya pada Agustus 2016.

Salah satu prestasi Blackpink di Indonesia adalah: Young Lex yang merupakan orang sukses di kandang sendiri juga ikut mengidolakan salah satu personil mereka, Lisa. Kenapa bukan personil lain macam Rosé, Jennie, atau Jisoo yang merupakan visual utama Blackpink? Ya, suka-suka lah!

Umumnya, gelombang demam K-Pop merupakan bukti bahwa selera kita dapat tergiring, tak terkecuali di Indonesia. Selera kerap kali menggiring kita pada kecintaan dan kebencian yang buta dengan alasan kosong yang berputar-putar seolah berisi. Dalam hal ini, menyalahkan Blackpink (K-Pop), sama dengan ‘menyalahkan’ fans.

Selera—fans ataupun haters—itu punya naluri bermanuver yang khas. Pergerakannya tidak cuma bergerak pada signifikasi-elektoral tolak-menolak dan terima-menerima. Boleh dibilang, selera merupakan ideologi. Mereka bisa mendadak kaku ketika dikritik, bahkan cenderung fundamental.

Suka dan tidak suka: memang suka bersentuhan dengan pola-pola yang debatable. Persetan dengan konsensus alasan, yang penting itu: debat dan bualan-bualannya. Petisi boikot K-Pop sukses mengundang ‘perdebetan’. Gagal mengajak diskusi, apalagi kesepakatan.

Sebuah Kedigdayaan

BlackPink, salah satu simbol kedigdayaan K-Pop
Foto: BlakcPink/Kpopmap

Sejauh ini, kedigdayaan K-Pop memperlihatkan tren yang terjaga, terpelihara, dan cenderung menanjak. Industri hiburan itu sukses menciptakan wadah pemersatu dengan fanbase yang besar. Para fans pun ‘tidak sengaja’ bergerak sebagai pembela dan menolak pemboikotan, meskipun argumen yang dipakai: berkesan out of topic.

Blackpink adalah salah satu dari banyaknya simbol representasi keniscayaan K-Pop. Sementara K-Pop merupakan salah satu penguasa industri global saat ini.  Naif kalau kita bilang; K-Pop itu cuma Blackpink aja, kan?

Sepak terjang simbol-simbol itu seakan berlari sama-sama, estafet pula. Nah, gimana coba, tuh? Sementara, K-Pop versi kita terkesan cuma ‘jago kandang’. Itupun enggak jago-jago amat, karena selera kita cenderung ‘jago tandang’.

Pernah saya punya harapan pada masa keemasan boyband-girlband Indonesia dahulu kala. Saya ingat sebuah masa di mana saya dibilang mirip sama si Bisma ‘SMASH’. Dont be so serious gitu lah, ini kan cuma soal selera sampe-sampe saya tertuduh sebagai sosok manifestasinya. Hehehe…

Denger-denger juga nih, boyband yang udah ditinggal Morgan Oey yang hengkang jadi pemain film itu, resmi mengumumkan comeback Juli kemarin. Hasseek!

Segitu Dulu

Boikot iklan BlackPink hanyalah persoalan ideologi atas nama selera
Foto: Mercadolibre.com

Nyusul K-Pop memang sudah terlanjur susah sekarang. Kalaupun mau bikin tandingan, saya pikir jangan bikin I-Pop, deh. Yang ada malah dituduh meniru lagi. Karena, walaupun kita suka beli barang KW, tetap saja, yang dipuji ya… barang ORI-nya juga.

Daripada bikin petisi boikot yang rentan dituduh sebagai bentuk konspirasi, bikin saja tandingan ‘produk’ yang brbeda. Diferensiasi itu perlu. Karena K-Pop itu bukan K-Rock. Apalagi K-Dut. Begitu juga dengan K-Drama yang bukan Bollywood. Apalagi Sinetron.

Oke segitu aja dulu. Saya sendiri TAKUT buat ngebahas ini terlalu jauh. Karena ini menyangkut, hmm… keselamatan nasib saya. Karena, si pujaan hati merupakan salah seorang penggemar boyband EXO.

Tahu sendiri kan, rasanya cemburu pas ‘dibanding-bandingin’ sama si Kai? Ya, tampang lead dancer-nya EXO itu emang bikin repot.

Saya sendiri enggak mau berdebat soal ini, karena saya masih merahasiakan, kalau saya itu: begitu mengidolakan Ran Mouri yang merasa LDR-an sama si Kudou Sinichi. Eaaa…