Hi, Takaiters!

Sudah hari Senin, nih, itu berarti kemarin adalah Minggu. Malam mingguan, dong? Gimana, menyenangkan atau malah horror? Ngomong-ngomong soal malam minggu, tahu enggak kalau malam Minggu (31/9/2019) kemarin bertepatan dengan sebutan Malam Satu Suro?

Enggak diragukan lagi kalau Takaiters sudah pernah mendengar istilah tersebut. Sebutan tersebut sebenarnya merupakan sama atau bertepatan dengan malam tahun baru Islam. Tak pelak, Tahun baru Islam 1441 H kali ini juga termasuk di dalamnya.

Malam 1 Suro sendiri lekat dengan tradisi masyarakat Jawa. Sebagian masyarakat bahkan memandang malam tersebut adalah malam dengan makna mistis lebih dibanding hari-hari biasa.

Lalu, apa yang membuat Malam Satu Suro begitu unik buat dibahas?

1. Nilai Sejarah yang Melekat Dipengaruhi oleh Kerajaan Mataram

Perayaan Malam Tahun Baru Islam
Foto: Masternubie.com

Kesamaan antara malam tersebut dengan malam satu Muharam, kita boleh menganggap bahwa malam 1 Suro adalah malam tahun baru Islam itu sendiri. Hal ini tidak lepas karena sistem penanggalan Jawa yang berkorelasi dekat dengan kalender Hijriah.

Bulan Muharam adalah bulan yang mengawali tahun kalender Islam. Sejak zaman kerajaan Mataram Islam, bulan tersebut pun dinamai bulan Suro. Penamaan ini dimulai sejak masa kekuasaan Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma yang memimpin Mataram Islam (1613-1645 M) kala itu.

Penamaan tersebut merupakan inisiatif Sultan Agung untuk menyatukan masyarakat Jawa yang terpecah. Masyarakat yang terpecah itu adalah antara kaum Kejawen (Abangan) dengan Islam (Putihan).

Sebutan “Suro” sendiri datang setelah Sultan Agung memadukan perhitungan Kalender Saka dengan penanggalan Hijriah. Yang membuat perhitungannya menarik adalah kedua kalender memiliki dasar penghitungan yang berbeda. Saka dengan pergerakan lunar (Matahari), sementara Hijriah berpatok pada pergerakan bulan.

2. Mitos Horor yang Masih Dipercayai

Simbol seram dalam bulan suro
Foto: Okezone.com

Dalam salah satu versi sejarah, kepercayaan Kejawen percaya bahwa bulan Suro memiliki keistimewaan. Penganut kejawen menyebut merupakan bulan kedatangan Aji Saka ke Pulau Jawa.

Aji Saka dikisahkan telah membebaskan masyarakat Jawa dari cengkraman makhluk gaib raksasa. Kepercayaan tersebut tersebar secara turun temurun sehingga malam 1 Suro dipercaya memiliki nilai mistis tersendiri.

Selain itu, banyak di antara masyarakat bahkan menganggap bahwa arwah leluhur yang sudah meninggal akan kembali mendatangi keluarganya. Lebih seramnya lagi, malam tersebut juga diyakini menjadi momen arwah-arwah tumbal pesugihan untuk dibebaskan.

Tidak heran jika kisah-kisah yang ada di baliknya seolah menyimpulkan, kalau malam 1 Suro yang juga merupakan malam tahun baru Islam itu sebagai waktu Lebarannya para makhluk gaib. Pada malam itu, masyarakat percaya kalau banyak makhluk gaib keluar dari tempatnya masing-masing berasal.

Dengan mitos seram yang begitu dilekatkan pada malam tersebut, turut dimanfaatkan untuk diadopsi ke dalam film. Sisi mistis di dalamnya merupakan cerita dengan nilai jual berupa ketakutan dan rasa penasaran masyarakat kita.

3. Perayaan Unik dari Masing-Masing Daerah

Perayaan Malam Tahun Baru Islam di Solo
Kebo Bule

Sebagai malam yang istimewa, tradisi masyarakat membuatnya menjadi sebuah perayaan unik. Bahkan perayaannya ini bisa berbeda-beda di masing-masing tempat, lo, Takaiters.

Para penganut kejawen misalnya, biasanya mereka akan mewajibkan untuk menyucikan diri dan benda-benda yang diyakini sebagai pusaka. 

Bahkan, sejumlah keraton Jawa seperti Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, hingga Kasepuhan Cirebon memiliki cara yang berbeda-beda untuk menyambut dan merayakan malam 1 Suro.

Misalnya saja, Kasunanan Surakarta. Keraton yang berada di Solo, Jawa Tengah tersebut, selain mensucikan pusaka-pusaka Keraton, pihak kasunanan akan mengirab kerbau bule yang diberi nama Kiai Slamet.

Berbeda dengan Kesupahan Cirebon, keraton yang berada di Jawa Barat itu merayakan acara puncaknya dengan pembacaan “Babad Cirebon” yang menceritakan awal mula berdirinya Kerajaan Cirebon.

Namun, Malam 1 Suro sebenarnya tidak melulu soal mitologi mistisisme saja, lo, Takaiters! Dalam perayaannya, masyarakat Jawa turut mengisi perayaannya dengan salah satu sajian kuliner yang unik. Kuliner tersebut dikenal dengan sebutan Bubur Suro.

4. Menampilkan Kuliner Unik Bernama Bubur Suro

Kuline di Malam Suro
Bubur Suro

Asin dengan rasa pedas yang lembut menjadi ciri khas dari sajian gurih ini. Terbuat dari beras yang dicampur dengan santan, garam, jahe, dan sereh, Bubur Suro bukanlah sesajen untuk menanggapi mitos, melainkan simbol yang melambangkan peringatan dan memaknai datangnya malam 1 Suro.

Bubur Suro menyuguhkan menu yang kaya akan tekstur. Di atas bubur, Takaiters biasanya akan melihat taburan bulir-bulir buah delima dan serpihan jeruk yang disertai dengan sejumlah varian kacang-kacangan, seperti kacang tanah, kacang mete, kedelai, sampai kacang merah.

Akan semakin cantik lagi kalau bubur tersebut diberi garnish dari irisan mentimun dan daun kemangi. Dijamin, setiap elemen yang tersaji mampu menggugah selera makan kita, lo! Yummy…

Nah, Takaiters, malam 1 Suro sebenarnya tidak melulu berbicara tentang mitos mistis yang terkesan menyeramkan. Perayaannya sendiri justru lekat dengan nilai-nilai budaya dan simbol sejarah.

Untuk itu, hal tersebut perlu kita lihat dalam bingkai yang lebih luas lagi. Supaya, nih, kita tidak terjebak dalam mitos umum yang itu-itu saja, dan yang selama ini terus-terusan tergambar di anggapan kita akibat kebanyakan nonton film-film bertemakan malam 1 Suro. *Ups