Holla, Takaiters!

Meriah dan hangatnya kebersamaan saat lebaran sudah di depan mata. Sebagian dari kamu juga sudah mudik mengunjungi kampung halaman untuk merayakan Hari Raya Idulfitri bersama keluarga tercinta.

Lebaran di negeri yang mayoritas muslim tentu sangat berbeda dengan lebaran di negeri minoritas, Guys. Salah satunya di Jepang. Yapt! Di Jepang, bahkan sebagian besar masyarakatnya tidak memiliki agama, lho. Jadi, tak heran jika agama Islam di sana jadi minoritas dan tentu saja tidak ada perayaan spesial seperti di negeri kita.

Nah, 7 fakta ini akan membuat kamu mengerti seperti apa rasanya lebaran di negeri Sakura. Simak ulasannya, ya, Guys!

Hari Raya Idulfitri tidak berbeda dengan hari biasa. Aktivitas seperti kuliah dan bekerja tetap harus kamu jalani seperti hari-hari sebelumnya

Berbeda dengan Hari Raya Idulfitri di negeri kita, di Jepang, lebaran tidak bertepatan dengan hari libur dan tanggal merah, Guys. Jadi, semua muslim yang merayakan lebaran di sana tetap harus menjalakan rutinitas seperti biasanya. Kegiatan sederhana seperti salat id di masjid Tokyo Camii cukup menjadi pelipur kerinduan kamu akan kampung halaman. Meski dirayakan secara sederhana tanpa meriahnya takbir yang saling bersahutan, lebaran tetaplah momen spesial yang selalu dirindukan.

Suasana hangat sangat terasa di KBRI Tokyo, Warga Negara Indonesia saling akrab dan melepas rindu

Bagi orang Jepang, kerumunan WNI yang datang ke KBRI Tokyo mungkin terasa aneh dan janggal, Guys. Lama-lama mereka paham bahwa warga Indonesia sedang merayakan kemenangan agama dengan berkumpul di KBRI Tokyo. Para Warga Negara Indonesia pun saling melepas rindu layaknya saudara. Silaturahim berjalan sederhana tetapi sangat erat dan akrab. Mereka menyantap hidangan yang disiapkan serta dibereskan bersama. Menjadi warga asing di negeri orang membuat hubungan mereka semakin dekat. Kamu bisa bayangkan itu, ‘kan, Guys?

Jepang tidak menyukai kebisingan, jadi lebaran tidak semeriah seperti di kampung halaman. Takbiran cukup bergema di hati masing-masing

Menjelang lebaran, kamu bisa merasakan kemeriahan di negeri kita. Suara takbir bergema dari seluruh penjuru. Bukan hanya itu, anak-anak ramai bermain petasan. Meski telah dilarang, hal kecil semacam ini tetap menjadi tradisi yang sangat kental di negeri kita.

Tentu semua itu tidak bisa kamu rasakan ketika merayakan lebaran di Jepang. Jepang melarang segala macam suara yang menimbulkan keributan. Tentu saja termasuk takbiran dan petasan. Saat kamu berada di sana, indahnya lebaran cukup dinikmati dengan mendengungkan takbir di dalam hati saja, Guys.

Merayakan lebaran dengan sederhana di masjid usai salat Id menjadi momen spesial bagi semua muslim yang tinggal di sana

Karena tidak bertepatan dengan tanggal merah, momen salat Id benar-benar akan dimanfaatkan dengan sabaik-baiknya oleh muslim yang merayakan lebaran di sana. Silaturahim cukup dilakukan di masjid usai salat Id, Guys. Tidak ada saling berbalas kunjungan seperti di negeri kita. Walaupun sangat sederhana, tetapi hangatnya kebersamaan itu sangat terasa, lho. Semua orang tidak segan saling sapa dan mengucapkan selamat lebaran meski berbeda negara dan sebelumnya tidak saling kenal.

Berbeda dengan Indonesia, WNI tidak bisa mudik saat merayakan lebaran di Jepang

Mudik memang sangat identik dengan ritual lebaran di negeri kita. Hampir semua orang akan pulang ke kampung halaman dan merayakan lebaran bersama keluarga. Jalanan padat karena semua orang melakukan perjalanan panjang menuju rumah orang tua.

Tapi hal semacam ini tidak akan kamu temukan di Jepang, Guys. Karena tidak ada tanggal merah saat lebaran, hampir semua orang yang tinggal di sana tidak bisa mudik ke kampung halaman. Setelah salat Id, mereka harus bekerja dan kuliah. Jadi, tidak ada yang namanya mudik seperti yang rutin kamu lakukan setiap tahun.

Macet saat lebaran hanya bisa kamu temui di Indonesia, di Jepang, jalanan lengang meski tepat saat Hari Raya

Salah satu alasannya karena memang tidak ada tradisi mudik seperti yang sering kita jumpai di negeri ini. Semua orang beraktivitas seperti biasa. Jalanan pun tampak lengang meski umat Islam sedang merayakan lebaran. Kamu tertarik untuk lebaran di sana, Guys?

Tenda-tenda kecil dibangun oleh panitia penyelenggara salat Id di masjid Tokyo Camii, aneka makanan lezat menjadi sajian spesial bagi umat Islam yang merayakan lebaran di sana

Meski kamu tidak bisa menemukan ketupat dan opor ayam, tetapi kamu masih bisa menyantap makanan lezat yang disajikan oleh panitia di masjid Camii, Guys. Di Jepang, tidak banyak masjid yang mengadakan salat Id bersama. Jadi, jika kamu benar-benar ingin merasakan suasana semacam ini, kamu bisa salat Id di masjid Camii atau merayakannya bersama saudara setanah air di KBRI Tokyo.

Itulah 7 fakta yang membedakan lebaran di negeri kita dengan lebaran di negeri Sakura. Gimana, Guys, masih tertarik merayakan lebaran di sana? Yang pasti kemeriahan lebaran di Indonesia akan selalu kamu rindukan ketika berada di negeri orang, termasuk ketika kamu tinggal dan menetap di Jepang.