Hai, Takaiters!

Karena wabah corona atau yang oleh World Health Organization (WHO) disebut COVID-19, semua bentuk interaksi dan komunikasi antar manusia berubah total. Interaksi kontak fisik tak disarankan lagi.

Semua mesti jaga jarak. Semua itu dilakukan agar tak terpapar virus yang pertama kali muncul di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok tersebut. Sebab laju penyebaran virus yang sangat cepat antar manusia. Bisa ditularkan lewat berbagai media. Maka, social distancing atau pembatasan sosial pun digaungkan. Pun, work from home dianjurkan. Intinya, jaga jarak, jaga kesehatan masing-masing. Sebisa mungkin hindari kerumunan. Sebab itu, rawan penularan.

Kantor-kantor pemerintahan pun, kini mulai merubah sistem kerja pegawainya. Terlebih setelah keluar surat edaran dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokasi, Tjahjo Kumolo, yang mengatur tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) boleh kerja di rumah selama musim wabah corona. Salah satu menteri yang sibuk ikut berjibaku memerangi corona, adalah Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian.

Dalam perang melawan corona, sebagai pembina pemerintah, daerah Menteri Tito, tentu harus memastikan pusat dan daerah satu irama. Strategi perang lawan virus antara pusat dan daerah mesti sinkron. Oleh karenanya, tanpa lelah, Tito mengingatkan, mengoordinasikan, bahkan sampai secara maraton, ia mendatangi satu provinsi ke provinsi lainnya. Setidaknya sudah empat provinsi yang ia sambangi untuk memastikan koordinasi dan genderang perang melawan corona berjalan dengan baik, sinkron, dan terkoordinir.

Empat provinsi yang ia datangi, pertama DKI Jakarta, kemudian Jawa Barat, lalu lanjut ke Banten. Terakhir, pada hari Sabtu (21/3), ia datang ke Provinsi Sumatera Selatan. Sisanya, jika memungkinkan akan disambangi langsung. Namun, jika tak memungkinkan, kendali dan koordinasi harus tetap jalan via video conference.

Tidak hanya memompa semangat Pemda dan memastikan koordinasi strategi melawan virus corona berjalan baik, Menteri Tito juga tak melupakan melindungi¬† “markas besarnya”, kantor Kementerian Dalam Negeri yang ada di Jalan Merdeka Utara dari paparan virus. Seperti apa cara Menteri Tito membendung virus corona biar tak menyelinap masuk ke kantornya? Simak ulasannya, ya.

Sterilisasi Melalui Semprotan Disinfektan

Sumber foto: Dokumen Humas Kemendagri

Kini, siapa pun yang masuk ke area kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), tak bisa melenggang begitu saja. Biasanya, cukup membuka jaket, tidak memakai helm bagi pengendara motor, kini siapa pun yang masuk wilayah Kemendagri mendapat tambahan pemeriksaan.

Setiap yang masuk, entah itu tamu atau pegawai kementerian harus melalui sterilisasi badan dengan semprotan disinfektan. Cairan akan disemprotkan di sekitar baju dan sepatu.

Pakai Masker dan Jaga Jarak

Foto: alodokter.com

Tidak hanya disterilisasi pakai cairan disinfektan, siapa pun yang datang, apalagi pegawai kementerian harus pakai masker. Tidak hanya itu, pegawai juga boleh berkerumun. Bergerombol. Mesti jaga jarak, biar kontak fisik antar tubuh manusia atau dengan medium yang berpotensi dihinggapi virus tidak terjadi.

Menurut Menteri Tito, jaga jarak aman atau social distancing, memang nampak seperti anjuran yang sederhana. Tapi, anjuran itu sangat penting, bahkan jadi protokol dasar pencegahan penularan Covid-19 yang diperintahkan WHO yang kini telah diadopsi oleh Gugus Tugas Penanggulangan Covid 19 Indonesia. Namun menurut Tito, meski anjuran sederhana, dalam penerapannya, protokol itu butuh sikap disiplin dan konsistensi yang kuat. Sejak hari Senin, 23 Maret 2020, kantornya secara ketat menerapkan protokol WHO tersebut.

Sebagian Pegawai Terapkan Work From Home

Sumber foto: Pixabay.com

Untuk mengurangi resiko terpaparnya pegawai oleh virus corona, sebagian pegawai diminta untuk bekerja dari rumah atau terapkan sistem work from home. Namun, sebagai kantor kementerian, apalagi sebesar Kemendagri, tak mungkin semua pegawai mesti bekerja di rumah. Mesti ada yang standby.

Maka, Menteri Tito menginstruksikan dua eselon tertinggi di kementerian tetap masuk kantor seperti biasanya. Langkah ini diambil agar roda organisasi dan pelayanan publik tetap berjalan. Bagaimana pun, pelayanan, menurut Tito tak boleh macet karena adanya wabah virus ini.

Rapat Koordinasi dengan Pemda Tiap Hari via Video Conference

Sumber foto: Trueconf.com

Di musim penanganan virus corona atau COVID-19, rapat koordinasi dengan pemerintah daerah harus tetap jalan, bahkan diintensifkan. Maka, rapat via video conference. jadi pilihan Menteri Tito untuk berkoordinasi dengan Pemda. “Rapat dilakukan tiap hari,” kata Tito.

Pejabat yang ikut Rapat, Wajib Disterilkan, Pakai Masker, dan Sarung Tangan

Sumber foto: Dokumen Humas Kemendagri

Tentu saja, Menteri Tito tak hanya rapat dengan Pemda, tetapi juga ada kalanya mau tak mau harus rapat dengan anak buahnya di kantor. Terutama bahas masalah yang urgen dan perlu keputusan cepat.

Agar rapat aman, diberlakukan aturan ketat. Semua pejabat yang ikut rapat, sebelum memasuki ruang rapat harus disterilisasi di pintu masuk. Mereka akan disemprot cairan disinfektan. Tidak hanya itu, mereka juga wajib pakai masker. Mesti pakai sarung tangan plastik. Tidak terkecuali. Semua itu, harus sudah dipakai sebelum memasuki ruang rapat.

Jarak Kursi Minimal 1,5 Meter dan Tidak Ada Mikropon, Gelas, Kertas, dan Meja Rapat

Sumber foto: Dokumen Humas Kemendagri

Disamping itu medium penular seperti gelas, kertas, dan sebagainya drastis dikurangi dari ruang rapat. Tidak hanya itu, jarak antar kursi yang diduduki peserta rapat pun diatur. Antar kursi berjarak minimal 1,5 meter, dan untuk mengurangi kemungkinan droplet menempel di benda, mikropon, dan meja rapat untuk peserta ditiadakan.

Menurut Menteri Tito, sikap displin dan contoh pencegahan harus dimulai dari kantornya. Kantornya, mesti jadi contoh. Dirinya pun, saat bertemu kepala daerah atau ketika berkoodinasi via video conference, selalu mengingatkan pentingnya aspek pencegahan ini. Karena ini yang akan memutus mata rantai penularan COVID-19. Tidak perlu dengan cara canggih, cukup dengan cara sederhana, tetapi mesti dilakukan dengan penuh tanggung jawab, disiplin, dan konsisten.

“Contoh perilaku pencegahan COVID- 19 seperti ini harus kita mulai dan lakukan dari diri kita sendiri,” kata Tito.

Wah, benar-benar ketat, ya, Takaiters. Kementerian dan instansi lain mesti menirunya, nih.