Kabar mengejutkan datang dari Uni Eropa. Uni Eropa telah menyatakan sikapnya terkait minyak kelapa sawit asal Indonesia. Kabarnya Uni Eropa menolak masuknya minyak kelapa sawit yang notabene adalah hasil perkebunan andalan Indonesia.

Hasil voting yang sudah dilakukan Parlemen Uni Eropa memutuskan bahwa negara-negara di Eropa tidak boleh lagi menggunakan bahan bakar biodiesel yang dicampur dengan minyak kelapa sawit asal Indonesia. Alasannya adalah pemakaian minyak kelapa sawit asal Indonesia dianggap berperan dalam kerusakan lingkungan.

Sebagai informasi, Uni Eropa memang memiliki komitmen untuk menolak penggunaan minyak kelapa sawit jenis crude palm oil atau CPO. CPO atau crude palm oil adalah minyak sawit mentah hasil olahan dari buah kelapa sawit. Selain crude palm oil, hasil olahan dari kelapa sawit lainnya adalah palm kernel oil. Perbedaan mendasar dari keduanya adalah palm kernel oil yang dibuat dari hasil pengolahan inti buah kelapa sawit, bukan daging buahnya, sehingga dianggap lebih aman dari palm crude oil. Sayangnya, industri kelapa sawit Indonesia belum mampu mengolah palm kernel oil sebanyak dan sebaik crude palm oil. Sehingga, sampai sekarang, industri kelapa sawit nasional masih memiliki ketergantungan yang tinggi akan ekspor crude palm oil atau CPO.

Mendengar kabar tentang adanya penolakan ekspor CPO asal Indonesia, bagaimana seharusnya pemerintah merespon hal tersebut?

Pemerintah tentu tidak bisa diam saja. Oleh karena itu, Pemerintah kabarnya siap melakukan perlawanan dengan mengajukan larangan ekspor ini ke World Trade Organization. Bahkan, pemerintah juga siap mengambil langkah yang lebih ekstrim, yakni memboikot produk-produk manufaktur asal Eropa, jika diperlukan.

Pertanyaan selanjutnya, apakah Indonesia mampu melakukan semua itu?

Melihat dari nilai ekspornya, pemerintah Indonesia memiliki cukup power untuk balik menekan Uni Eropa. Pasalnya, dari data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik tahun 2017, volume ekspor CPO ke Negara-negara Uni Eropa mencapai 1.34 juta ton. Volume ekspor ini setara dengan 897 juta Dollar atau setara dengan Rp12 trilliun. Di Eropa, negara tujuan ekspor utama adalah Belanda dengan nilai ekspor 415 juta Dollar atau setara dengan Rp5.87 triliun. Di peringkat kedua adalah Italia yang nilai ekspornya mencapai 231 juta Dollar atau setara dengan Rp3.27 triliun.

Angka-angka diatas terlihat besar, namun ternyata, Uni Eropa bahkan tidak masuk dalam 5 besar importir terbesar CPO asal Indonesia. 3 besar negara ekspor utama CPO asal Indonesia justru berasal dari benua Asia. Yang terbesar adalah India dengan nilai ekspor US$ 3.07 juta atau Rp 43.3 triliun. Nilai ekspor ini naik cukup signifikan pasalnya nilai ekspor CPO di tahun lalu hanya sebesar US$ 1.87 juta atau Rp 26.3 triliun.

Negara kedua adalah Singapura. Negara tetangga kecil Indonesia ini mengimpor sekitar 604.711 ton CPO dari Indonesia. Volume impor sebesar itu setara dengan US$ 398 juta atau Rp 5,6 triliun ke negara kita.

Peringkat ketiga importir terbesar CPO Indonesia adalah Malaysia. Negara serumpun kita ini

volume impornya sekitar 208.652 ton, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 166.529 ton. Dengan kata lain, nilai ekspor CPO asal Indonesia ke Malaysia mencapai US$ 136 juta atau setara  Rp 1,9 triliun.

Walaupun nilai ekspor CPO ke Uni Eropa tidak sebesar ke negara-negara Asia lain, para pengusaha kelapa sawit tetap perlu menganggap Uni Eropa sebagai pasar yang penting. Wilayah ini cukup penting karena demand-nya sebenarnya cukup tinggi dan biaya transfernya rendah, jika kamu memakai digibank transfer valas tentu saja.

Remittance merupakan salah satu fitur layanan yang ada pada aplikasi digibank by DBS. Dengan menggunakan aplikasi ini, kita dan partner bisnis kita di luar negeri dapat melakukan kegiatan remittance tanpa perlu mendatangi kantor cabang.Semua proses dapat dilakukan dengan mudah. Yang diperlukan hanya sebuah smartphone dan akses internet yang stabil.

Karena berbasis aplikasi, yang perlu dilakukan saat hendak melakukan transfer valas adalah memilih menu “Transfer” lalu klik “Transfer Valas” di aplikasi digibank by DBS. Di layar selanjutnya, klik “Tambah Penerima” lalu pilih negara yang dituju dan mata uangnya. Setelah itu, silahkan pilih bank dan lengkapi detail penerima. Masukkan jumlah dana yang akan dikirim dan lalu klik “lanjut”  untuk menyelesaikan transaksi transfer valas yang tadi dilakukan.

Dengan digibank transfer valas, sekarang proses remittance bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Selain itu, digibank transfer valas juga menggratiskan biaya transfer valas Di 7 mata uang negara, USD, SGD, AUD, EUR, HKD, CAD, GBP ke lebih dari 20 negara tujuan. Namun, supaya bisa menikmati kemudahan ini kamu perlu melihat syarat dan ketentuan yang berlaku.

digibank transfer valas juga menawarkan nilai tukar mata uang yang kompetitif sehingga transfer yang akan kamu lakukan akan semakin murah. Yang paling menarik adalah proses transfer valas yang dilakukan bisa diselesaikan pada hari itu juga selama belum melewati batas waktu transaksi yang telah ditentukan.

Transfer valas dengan menggunakan digibank transfer valas memang sangat memudahkan para pebisnis CPO dalam melakukan pembayaran antar negara. Dengan proses yang semudah dan fitur yang sekaya itu, digibank transfer valas mampu membuat bisnis semakin berkembang kedepannya. Segera nikmati keunggulannya sekarang!