Heiyo, Takaiters!

Spoiler Alert, buat yang belum nonton.

Cukup terlambat untuk mengulas serial anime yang satu ini memang. Anime yang suguhannya dibagi ke dalam 12 episode tersebut baru saya simak di akhir tahun ini. Dan, itu pun sudah memberikan satu kesimpulan untuk diri saya sendiri secara pribadi. Ya, sungguh ironis.

Meskipun sudah diputar pada pertengahan tahun 2016 lalu, anime remaja-dewasa yang diadopsi dari manga berjudul sama ini sesungguhnya masih layak. Amaama to Inazuma punya relevansi yang masih cukup pantas untuk tidak dilupakan sampai hari ini. Terutama dalam segi detail dan jalinan cerita yang tersaji di dalamnya.

Sang director, Tarou Iwasaki berhasil menyuguhkan alur cerita yang cukup dalam. Keseluruhan cerita dari Amaama to Inazuma menampilkan gaya cerita yang khas slice of life banget. Tapi, kalau diperhatikan lebih, seperti halnya anime-anime yang bergerak dalam genre yang sama, anime ini tidak sesedarhana yang tampak.

Anime yang diadaptasi dari komik manga karangan Gido Amagakure tersebut mampu mengemas kedalaman cerita-cerita pendampingnya dalam tema utamanya. Urusan dapur, dan masak-memasak yang begitu dominan, berhasil diiringi dengan sub-sub topik yang bervariasi di setiap episodenya.

Suguhan masak-memasak dalam Amaama to Inazuma sangat mengedapankan alur, serta grafis yang natural. Itulah yang justru membuat kesederhanaannya tampak halus dan menunjukkan eksekusi yang begitu matang.

Tsumugi yang menggemaskan di anime Amaama to Inazuma
Foto: Amaama to Inazuma

Jangan mengharapkan menu-menu masakan macam Cooking Master Boy yang syarat akan fantasi. Jangan juga berharap menemukan adegan masak-memasak yang penuh kompetisi seperti dalam cerita Shogeki no Souma. Karena kita tidak akan mendapatkan semua itu di sini.

Dibanding kedua anime tersebut, Amaama to Inazuma yang juga punya judul alternatif Sweetness and Lightning ini tampil lebih santai dalam mengusung konsep masak-memasaknya. Penuh dengan keceriaan di akhir-akhir episode. Adegan-adegan akhirnya mirip dengan konsep yang diusung spin-off dari serial anime Fate, yaitu: Emiya-san Chi no Kyou no Gohan.

Namun, bagian awal hingga pertangahan setiap episode, kita akan selalu diberikan sebuah konflik cerita yang berbeda sebagai pembuka. Bisa dibilang itu adalah side-dish menu sebelum akhirnya terselesaikan dengan adegan dapur, memasak, dan diakhiri dengan “itadakimasu” yang penuh keceriaan.

Keseharian Kohei Inuzuka berubah total sepeninggal istrinya, Tae Inuzuka yang telah tiada. Inuzuka yang berprofesi sebagai guru, mau tidak mau, harus mau merangkap jabat sebagai single parent bagi putri mungil kesayangannya, Tsumugi Inuzuka yang masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK).

Pilihan Editor


Cerita bermula ketika Inuzuka meratapi kegundahannya yang hanya selalu membeli makanan siap saji untuk Tsumugi, karena ia tidak memiliki kemampuan memasak sama sekali. Tidak ingin terus seperti itu, Inuzuka berinisiatif untuk belajar membuat masakan yang lezat untuk anaknya.

Itu adalah awal di mana cerita anime ini beriringan dengan konflik-konflik baru seputar single parent dalam wujud ayah sekaligus ibu. Amaama to Inazuma berhasil meramu konflik cerita yang episodik, namun mempunyai kedekatan dalam kehidupan sehari-hari.

Kotori Iida, seorang murid dari sekolah tempat Inuzuka mengajar, berbalik mengajar Inuzuka yang dipanggilnya Sensei itu bagaimana cara memasak yang benar. Ketiga karakter ini nantinya menjadi pusaran utama cerita yang dibangun.

Amaama to Inazuma, anime masak-memasak yang cerdas selipkan banyak cerita lain
Foto: Amaama to Inazuma

Momentum dan tarik-menarik emosional adalah cara mendasar Amaama to Inazuma menarik penontonnya. Emosi penonton dimainkan degan proporsional. Tidak perlu menunggu lama, anime yang rata-rata berduari 24 menit per episodenya ini akan menyelesaikan sisi itu di penghujung akhir. Lalu, kembali lagi dengan side-dish masalah dan konflik yang berkutat dalam diri Inuzuka demi kebahagiaan Tsumugi.

Tsumugi, meskipun diwujudkan sebagai karakter anak kecil, posisinya terbilang sentral. Perannya begitu signifikan dalam hubungan ayah dan anak yang memang dominan di serial ini. Rina Endo selaku pengisi suara juga sukses mempertahankan, bahkan melengkapi keimutan Tsumugi.

Sebagai slice of life, tidak ada karakter dan plot yang ambisius. Ketiga main role karakter itu tampil mewakilkan setiap elemen yang ingin diselipkan serial ini. Dari ketiganya pula interaksi yang tidak hanya sebatas hubungan ayah dan anak tercipta.

Karakter-karaker lain seperti Shinobu Kojika, Yusuke Yagi, Megumi Iida serta teman-teman TK Tsumugi tentu tidak sepele. Semua peran seyogyanya penting. Dominan sesai porsi. Hanya kurang jam terbang untuk in frame di setiap scene, bahkan episode.

Dalam segi genre, tentu Amaama to Inazuma merupakan salah satu tontonan alternatif dalam siklus jagat per-anime-an. Karena slice of life, memang masih rentan dengan nasib tersebut. Genre yang tersubordinasi genre-genre anime arus utama.

Akan tetapi, bagi para penggemar anime slice of life, Anime dengan rating 7.56 di MyAnimeList: bukanlah hal yang pantas untuk disia-siakan begitu saja. Urusan dapur dan masakan, seringkali menjadi solusi paling sederhana untuk persoalan-persoalan yang ada. Seperti apa yang menjadi beban seorang Kohei Inuzuka.