Loha, Takaiters!

Berpulangnya Mbah Moen (sapaan akrabnya) meninggalkan duka mendalam di keluarga besar Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang, Rembang. Semasa hidupnya, kiai yang berumur 91 tahun ini dikenal sebagai ulama yang disegani oleh para santri maupun masyarakat umum. Dilansir dari laman gomuslim, Mbah Moen lahir di Rembang dan bertepatan saat Sumpah Pemuda didengungkan pertama kali, yaitu tanggal 28 Oktober 1928. Penasaran sama riwayat Mbah Moen? Yuk, kita mulai ulasannya.

1. Menimba Ilmu Pertama Kali di Ponpes Lirboyo Kediri

Foto: pondokpesantrenmurahberkualitas.home.blog

Mbah Moen merupakan putra bungsu dari pasangan ulama Kiai Zubair dan ibundanya, putri dari Kiai Ahmad bin Syu’aib. Beliau dikenal sebagai ulama yang alim dan teguh dalam memegang prinsip agama Islam. Sedangkan Ayahnya merupakan sosok yang terpandang karena menjadi murid Syaikh Sa’id Al-Yamani dan Syaikh Hasan Al-Yamani Al-Makky.

Pada tahun 1945, Beliau memulai pendidikannya di Pondok Lirboyo Kediri dengan di bawah bimbingan KH. Abdul Karim alias Mbah Manaf. Berawal dari sini, ia berkelana menimba ilmu agama dari ulama ke ulama lainnya. Tercatat, Mbah Moen juga menimba ilmu dari KH. Mahrus Ali dan KH. Marzuqi.

2. Hijrah ke Makkah dan Bermukim Selama Dua Tahun

Foto: agoda.com

Tepat di usia 21 tahun, Mbah Moen melanjutkan pendidikan agamanya ke Makkah Al-Mukarromah. Perjalanannya ini mendapat restu dari kakeknya KH. Ahmad bin Syu’aib. Di sini, Mbah Moen menerima ilmu dari banyak ulama terkemuka, di antaranya Sayyid ‘Alawi bin Abbas Al-Maliki, Syaikh Al-Quthbi, Syaikh Yasin bin Isa Al-Fadani, Syekh Abdul Qodir Al-Mandaly, dan masih banyak lagi.

3. Terkenal Sebagai Kiai yang Senang Berkelana di Pulau Jawa

Foto: Makassar.Tribunnews.com

Ketika di Makkah, Mbah Moen berteman dekat dengan Kiai Sahal Mahfudh. Mereka berdua dikenal sering berkelana ke berbagai ponpes di tanah Jawa. Namun, dua tahun kemudian Mbah Moen memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya dengan tujuan ingin meluangkan waktu mengaji bersama ulama di Jawa. Di antaranya dengan Kiai Baidhowi, Kiai Ma’shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa (Rembang), Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muslih Mranggen (Demak), Kiai Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), Syekh Abul Fadhol Senori (Tuban), dan beberapa kiai lainnya.

4. Menulis Kitab yang Menjadi Rujukan Santri Hingga Saat ini

Foto: NU.Online

Semasa hidup, Mbah Moen juga menulis kitab yang menjadi rujukan santri dengan judul Al-Ulama Al-Mujaddidun. Di Pondok Pesantren Al Anwar Sarang merupakan tempatnya dalam memperjuangkan penyebaran ilmu agama Islam. Pondok tersebut berada di Karangsangu Sarang, Rembang yang dibangun pada tahun 1965 lalu.

5. Memiliki Dua Istri dan Anak-anak yang Menjadi Tokoh Politik

Foto: Radar Pekalongan

Pondok Pesantren ini kemudian menjadi rujukan santri untuk belajar buku kuning dan mendukung turnya. Sekitar 2008, Mbah Moen memperluas bangunan pesantrennya dan dikelola oleh putranya, KH. Ubab Maimoen.

Kiai Maimoen Zubair memiliki 2 istri. Pertama bernama Nyai Fahimah putri Kiai Baidhowi Lasem, dan dikaruniai tujuh anak. Istri kedua bernama Nyai Masthi’ah. Dari pernikahan ini, Beliau dikaruniai enam putra dan dua putri. Termasuk KH Majid Kamil, Gus Ghofur, Gus Ro’uf, Gus Wafi, Gus Yasin, Gus Idror, Neng Shobihah (meninggal), dan Neng Rodhiyah.

Nah, Guys, inilah 5 riwayat perjalanan Kiai Maimoen Zubair alias Mbah Moen dengan berpulangnya beliau seluruh Nusantara ikut berduka. Semoga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya dan semua yang ditinggalkan diberi ketabahan.